Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU ": 2017
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Jumat, 22 Desember 2017

Atas nama rindu

Aku yang lumpuh tertikam kehilangan
Kala pergimu tak lagi menjanjikan kepulangan
Aku yang meneguk kesepian
Bahagiaku yang runtuh sejak kau tinggalkan

Tapi,
deru rindu ini tetap tak mampu kuusaikan

Desember yang lembab.
18.18 WIB

Jumat, 01 Desember 2017

Rindu diawal Desember

Sepagi ini,
diawal Desember yang lembab
Aku sudah merindukanmu

Sepagi ini,
otakku sudah terbungkus namamu
Bahkan aku belum sempat berfikir tentang bangun, sarapan atau mandi

Ah kau
Sepagi ini sudah mengganggu
dan celakanya aku sudi menjamumu

Sepagi ini,
membuka Jum'at yang dingin
Aku sudah merindukanmu

Rabu, 09 Agustus 2017

Kaulah penyebabnya

Melewati puncak malam
Lelap tampak enggan datang
Menjadikan aku didekap dingin yang memanggil gigil
Dan,
Kaulah penyebabnya
Sikap manis itu telah menjadi teror hingga disepertiga malam
Jadilah aku yang semakin resah dipeluk gelisah

Jumat, 04 Agustus 2017

Pada Juli yang Terulang

pada Juli bertahun silam
pernah ada yang memulai kata
merayu senja
mengurai tawa di tepian gerimis

pada Juli yang terulang
yang tersisa
adalah debar-debar kerinduan

Rabu, 12 Juli 2017

Kau Di dalam Hujan

lagi,
hujan hadir
dan tak ada bentuk puisi ataupun prosa yang terurai
selain rima-rima rindu yang berserakan
menebarkan aroma jejakmu

pernah,
pada hujan sebelumnya
aku menepis candu tentangmu
yang terjadi justru dadaku sesak
didera irama-irama kenangan yang memberontak

kau benar-benar bangsat, kubilang
hilangmu tak sesungguhnya menghilangkan
kau adalah sebenar-benarnya candu yang tak bisa kulepaskan
kau benar-benar bangsat, kubilang
pergimu tak sesungguhnya kepergian
kau adalah sebenar-benarnya histori yang tak mampu kuusaikan

Rumah,
Ketika hujan diawal Juli 2017

Jumat, 05 Mei 2017

Aku Sadar

Aku menemukan pagi terbungkus harapan yang mengering
Tidak ada udara yang lembab
Tidak ada embun yang sejuk
Tidak ada fajar yang hangat
Tidak ada kau
Kemudian aku sadar
Episode kepatahan telah dimulai

Aku menemukan senja yang merobek-robek kenangan
Tanpa jingga yang merona
Tanpa siluet yang indah
Tanpa deburan yang syahdu
Tanpa kau
Lalu aku sadar
Sedang hidup dalam kematian

Aku menemukan malam mengurai mimpi yang suram
Menggangguku
Memakiku
Membunuhku
Menjauhkan kau
Dan aku benar-benar sadar
Tiada esok yang kupunya

Senja kali ini

Senja kali ini, aku mendekap angin
Seraya kupandangi mendung lekat-lekat
Bersama kursi bambu tua di teras rumah yang menunggu hujan
Kupejamkan mata
Semilir aromamu melintasi ruang-ruang lengang
Angin balas mendekap
Sejuk berubah dingin
Menjadikan lengang semakin tenang
Senja kali ini,
Aku dibuat semakin gigil olehmu
Kamu yang hadir lewat rindu

Kamis, 06 April 2017

Aku Pamit

Aku pamit
Meninggalkan kau bersama hari ini
Sebab bagi kita, esok sudah tiada

Aku pamit
Udara yang bergegas mengosongkan paru-paru waktu
Tiada lagi kesempatan untuk membelai rambutmu yang hitam
Beranda pagi akan kau lihat lengang sejak hari ini
Sementara yang tersisa hanya kau yang menangis seraya memeluk kenangan
Memohon pada waktu untuk menahan langkah-langkah yang menjauh

Aku pamit
Aku yang harus mencintaimu dengan kepergian

Senin, 03 April 2017

yang kian rumit

Aku kalut menghadapimu yang kian rumit
Perjalanan ini ditempa tanda tanya yang tiada pernah bertemu jawaban

Kau duduk di sampingku tapi aku tak jua menemukanmu
Kau begitu jauh meski kita bersejajaran melewati detik-detik waktu
Kita saling bicara namun tiada makna
Pada matamu yang sayu aku dibuat ragu
Benarkah mencintaimu adalah kebenaran?

Aku berlari, sementara kau memilih sembunyi
Aku berjuang, sementara kau memilih hilang
Aku menyerah, kau pasrah

Aku tidak tahu
Apakah mencintaimu memang harus rumit?
Aku tidak tahu
Apakah sekian masa akan kulewati dengan tanda tanya? yang tak punya jawaban

Rabu, 22 Maret 2017

Ku mohon pergilah

Aku mencintaimu dengan lelah
Seperti berlari tanpa makna
Kau memberi lebih dari yang sepatutnya aku terima
Aku dibuat serupa bangsawan yang tolol
Kau tidak mencintaiku dengan kadar yang tepat
Kita telah dipaksa berjalan di atas kehampaan

Ku mohon pergilah
Enyah dan sudahi kegilaan ini

Aku mencintaimu dengan terluka
Dan segala waktu akan menjadi buram
Cara kita jatuh cinta dan mencintai semacam kejanggalan
Tidak untuk diperjuangkan

Ku mohon pergilah
Juangku bukan untuk kita

Rabu, 15 Maret 2017

Aku, Lelah dan Bahagia


Aku lelah hari ini. Aku lelah sejak kemarin. Barangkali esok juga aku lelah. Tapi aku tetap harus bahagia. Demikian pesan ayah dan ibu setiap pagi sebelum aku berangkat kerja. Sebab tujuan hidup adalah bahagia. Lelah yang aku dapati setiap hari adalah bayaran untuk kebahagiaan. Tapi kebahagiaan itu bukan ditunggu. Ia tak akan datang. Jika ditunggu bisa jadi ia tak datang. Mungkin saja terkena macet, kecelakaan atau meninggal dunia. Atau bisa pula yang menunggu mati lebih dulu sebelum bahagia datang menghampiri. Sebab itulah ayah dan ibu bilang bahagia itu diciptakan setiap waktu meskipun sekecil dan sesederhana mungkin. Bukankah aku juga sudah membayarnya setiap hari dengan lelah. Jadi aku pantas bahagia setiap hari.
Hari ini seperti biasa, aku lelah. Tapi kali ini aku lelah karena satu bejana air mata yang aku keluarkan. Dua jam terakhir sebelum jam istirahat makan siang aku dipaksa menangis oleh setumpuk kertas. Benda mati yang bangsat. Aku benar-benar dibuatnya lelah berlebihan. Aku harus menjadi tontonan seisi ruangan sempit ini. Dinding, lampu, vas dan bunganya, alat tulis, map, dan kertas-kertas lainnya yang menyebar di seluruh sisi ruangan.
Setelah jam makan siang aku harus menjadi bahagia lagi. Tumpukan kertas itu memang melelahkan. Tapi aku masih ingat pesan ayah dan ibu. Lekas kuteguk tawa yang ada dalam botol di atas meja kerja. Botol yang kubawa dari rumah setiap hari. Kuteguk hingga habis, tanpa sisa. Menangis dua jam benar-benar membuat stok dalam botolku habis lebih cepat. Semoga bisa menciptakan bahagia yang bertahan setidaknya sampai aku pulang dan mendapatkan asupan lagi di rumah. Di pelukan ayah dan ibu.
Sayangnya hari ini memang keparat. Aku dikunjungi amarah tak lama setelahnya. Aku benci kunjungan tamu yang satu ini. Aku sudah kerap mengusirnya setiap kali datang. Tapi sepertinya ia tak juga jera dan selalu saja merindukanku. Amarah paham betul cuaca yang tepat. Ia bertamu ketika panas sedang sejadi-jadinya. Belum lagi teman yang dibawanya membuatku semakin jengkel. Cemooh datang bersama amarah dan dengan sempurna membuatku kesal hingga jam pulang kerja. Ruangan sempit ini semakin terasa menghakimiku lewat pandangan antipati mereka yang sejak pagi memperhatikanku. Dinding, lampu, vas dan bunganya, alat tulis, map, dan kertas-kertas lainnya. Aku benar-benar dibuat muak.
Aku lekas menyegerakan untuk pulang ke rumah. Tak peduli meski lebih cepat dari semestinya. Aku butuh kebahagiaanku, segera. Lelah tak boleh menguasaiku hari ini. Aku tinggalkan amarah dan temannya begitu saja di tempat kerja. Di ruang sempit bersama para penghuni yang menjengkelkan sepanjang hari ini.
Kudapati ayah dan ibu seperti biasa menungguku di teras rumah. Menikmati udara sore sambil memberi makan para penggunjing manis mulut yang berlalu lalang. Menyapa ayah dan ibu dengan sopan dan memuji kemesraan mereka lalu berbicara sebaliknya di kedai sayur pagi hari. Para tetangga yang tak jarang juga mempersembahkan kepadaku lelah.

Lekas kuhamburkan peluk kepada ayah dan ibu bergantian. Seketika kudapatkan lagi yang sejak tadi aku butuhkan. Ayah dan ibu selalu menyajikan sepiring senyuman renyah dan secangkir tawa dalam nampan bahagia setiap sore. Mereka adalah sajian rutinitas ketika menyambut aku yang membawa lelah pulang ke rumah.

Melihatmu

Hari ini aku melihatmu lagi dari celah lengang. Selalu saja begitu. Sepi itu senang sekali menggandeng rindu.

Sedang kucoba andaikan. Sekiranya kamu adalah jawaban atas pertanyaan waktu. Tentu akan kutemukan kau lebih dari lengang. Sedang sebagai masa lalu saja kau mampu mengisi jeda dan kenang.

Sayangnya, garis masa yang ada bukan aku yang tentukan. Bahkan aku tidak melihatmu sebagai esok yang kupunya. Kita hanya bertemu pada celah-celah waktu lampau yang sesekali menyinggahi. Saling membisu, lalu saling berpaling.

Pada akhirnya, siluet realita yang menyadarkan bahwa aku harus bergegas ke masa depan. Meninggalkan jeda yang berlebihan hanya untuk melihatmu. Aku harus segera menjelma nyata, meski kosong.

Selasa, 14 Maret 2017

Sobekan Kertas

Pada simpul waktu yang berbicara
Akhirnya aku benar-benar dibuat mengerti
Bahwa namaku hanya tertulis pada sobekan kertas
Dari sudut folio perjalananmu
Yang jika hilang sekalipun tak dipedulikan
Mari saling melupakan
Ah, bukan
Aku yang akan berusaha melupakan
Sementara kau tak memiliki apapun untuk dilupakan

Minggu, 05 Maret 2017

Kenanganmu

Derai hujan yang mengisi celah-celah bumi
Adalah lonceng pengingat ketika aku hampir benar-benar melupakanmu

Pada gigil yang dibawanya, hujan telah memandikan aku dengan rindu
Sementara batinku berusaha bertahan agar tak mati karena tikaman kenanganmu

Jumat, 24 Februari 2017

yang tersisa

Hujan telah menelan setiap kata yang kupunya
Langit yang menangis itu merenggut habis sluruh eja di sudut bibirku
Bahkan rintik di ujung genting tak mampu lagi bersuara
Dunia adalah diam
Sejak engkau tinggalkan
Dan aku, adalah kosong yang tak mungkin lagi terisi
Aku salah telah mengenangmu dengan membabi buta
Telah kubiarkan air mata mengering
Seluruh indraku kaku, dan hidupku gagu
Sedangkan yang tersisa adalah rindu kepada aku yang tak kenal kau

Rumah, 19.30 WIB.
Bersama hujan Februari

Minggu, 29 Januari 2017

Ini yang Seharusnya

Aku minta maaf
Telah aku sambut kau tanpa kesungguhan
Mengabaikan setiap waktu-waktu yang berusaha kau ciptakan untukku
Aku telah salah
Menenggelamkanmu dalam lautan diksi-diksi roman yang menjejak malam
Memberimu kesempatan mengenal tertawa di cangkir obrolan senja

Pecayalah,
Memahamimu adalah juang yang pernah aku upayakan
Aku juga bukan batu ketika waktu itu kau temukan
Hanya saja jejak-jejak kepatahan itu terlalu membekas
Menjadikan aku runtuh yang sukar bangkit
Dan kau telah aku letakkan pada garis pengabaian yang menjelma pengaharapan

Ini yang seharusnya
Membiarkanmu lepas dari kenyamanan yang semu
Sungguh, tak ada yang lebih baik dari membiarkanku memeluk jeda

Sabtu, 14 Januari 2017

Tak Ada yang Seperti Dia

Aku meninggalkan dia
Dan aku menyesal

Aku dapatkan pengganti dia, dan aku meninggalkannya
Aku temukan lagi pengganti dia, lalu aku tinggalkan pula
Aku punya kekasih lagi, kemudian kutinggalkan lagi
Dan aku dapatkan pengganti yang lain lagi
Sama
Juga aku tinggalkan

Aku berkali-kali meninggalkan
Sebab yang kuinginkan adalah pengganti dia
Tapi tak ada yang seperti dia
Ternyata dia hanya tercipta satu-satunya

Aku ingin kembali kepada dia
Tapi itu hanya harap yang sia-sia
Karena dia
Kini bukan lagi dia yang dulu aku tinggalkan

Kamis, 12 Januari 2017

Seperti

Kepada Engkau yang melukisku
Gambarkan aku menjadi kisah
Seperti lelantun puisi-puisi anak yang kehilangan ibu bapaknya
Seperti para kekasih yang mendoakan pujaannya
Seperti hujan yang memenangkan senyum-senyum yang gersang
Seperti haus yang merindukan basah
Seperti damai yang dihadiahkan malam kepada mimpi
Seperti puji-pujian yang meramaikan mesjid, gereja dan vihara
Seperti laut yang setia kepada pantai
Seperti para sahabat yang saling memahami
Seperti lembut ibu yang membelai anak-anak mereka

Kepada yang menyatu dalam nafasku
Menciptakan detak kehidupan di dada kiriku
Sungguhpun sempurna alam mengaminiku
Tanpa Engkau, aku tiada

Rumah, Januari 2017, 13.35 WIB.
Ketika mendengarkan lagu Putih-Efek Rumah Kaca

Rabu, 11 Januari 2017

Sesal

Aku menemukanmu yang memandang tepian senja
Kau sedang menceritakan lamat-lamat penyesalanmu
Seraya menangis, sesegukan
Betapa menyakitkan torehan luka yang telah kau hadiahkan

Sungguh sedumu tak akan merubah apapun
Bingkai waktu telah mengabadikan ketegaanmu ketika itu
Kenangan yang kau buat mengaliri ruang-ruang lini masa
Menempati satu sisi yang kemudian mengekal
Kepedihan itu akan melegenda
Mengukir jejak yang tak akan hilang

Siluet yang menyambut malam masih mendengar ceritamu
Dan menangislah
Menangislah untuk maaf yang kau harapkan

Puisi Untukmu

Telah kutuliskan kau dalam ribuan puisi
Dalam diksi-diksi yang bertaburan antara Sumatera dan Jogja
Dimana waktu berangsur-angsur menelan butir-butir rindu
Dongeng yang kau tinggalkan dalam keadaan patah
Telah kuhidupkan kembali melalui gatar-getar jemari

Bagiku cukup
Menemuimu diatas kertas
Bagiku cukup
Meski pada akhirnya
Kau hanya hidup di dalam kata-kata
Bagiku cukup
Ribuan puisiku abadi

Selasa, 03 Januari 2017

Diri Sendiri

Seseorang pernah mengatakan bahwa pada akhirnya setiap manusia akan menemukan dirinya sendiri. Setelah lelah menginginkan, mencari, lalu menemukan. Pada akhirnya adalah kehilangan. Kemudian manusia akan kembali menemukan dirinya sendiri. Sendirian.
Yang datang lalu meninggalkan. Yang tiba lalu melupakan. Yang hadir lalu pergi. Menyakitkan atau membahagiakan, semua akan disebut sebagai kenangan.
Rasanya banyak hal yang terlalu berharga untuk dihadapkan pada kehilangan. Tapi hidup bukan tentang mencemaskan yang akan hilang atau meratapi yang telah hilang. Bahwa yang seharusnya adalah memaknai kehilangan. Entah itu kehilangan sejenak, sementara ataupun selamanya. Kembali, sejatinya hidup adalah diri sendiri.
Kamar tidur, 12.45 WIB
3 Januari 2017

Minggu, 01 Januari 2017

Sebuah cerita

Dibalik denyut hujan yang menyentuh sekujur bumi
Aku menceritakanmu
Mengisahkan aku yang terbaring diantara keinginan dan kebodohan
Tentang kita
Entah siapa yang dihadirkan diantara siapa
Dinding-dinding pembatas terlalu banyak namun begitu rapuh

Cinta tak mengenal waktu yang tepat
Manusia harus mengerti
Ada hal yang tak seharusnya tapi tak bisa disebut sebagai kesalahan

Pada akhirnya kamu akan tetap menjadi alasan
Untuk aku menjadi bangkit atau aku kembali patah
Pada akhirnya aku akan tetap menjadi kejam
Entah terhadap perempuan lain atau untuk diriku sendiri

Dibalik ruang jarak yang melahirkan rindu
Aku menceritakanmu
Kamu yang rumit

Dear, 2016

Terimakasih 2016. Untuk setiap moment manis. Untuk setiap kegembiraan. Untuk setiap jatuh, patah dan bangkit. Untuk setiap pembelajan hidup. Untuk segala haru dan tangis. Untuk semua yang datang dan meninggalkan.

Terimakasih 2016, untuk seluruh hal yang akan menjadi kenangan.

Rumah, 11.57 WIB