Aku yang lumpuh tertikam kehilangan
Kala pergimu tak lagi menjanjikan kepulangan
Aku yang meneguk kesepian
Bahagiaku yang runtuh sejak kau tinggalkan
Tapi,
deru rindu ini tetap tak mampu kuusaikan
Desember yang lembab.
18.18 WIB
Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl
Aku yang lumpuh tertikam kehilangan
Kala pergimu tak lagi menjanjikan kepulangan
Aku yang meneguk kesepian
Bahagiaku yang runtuh sejak kau tinggalkan
Tapi,
deru rindu ini tetap tak mampu kuusaikan
Desember yang lembab.
18.18 WIB
Sepagi ini,
diawal Desember yang lembab
Aku sudah merindukanmu
Sepagi ini,
otakku sudah terbungkus namamu
Bahkan aku belum sempat berfikir tentang bangun, sarapan atau mandi
Ah kau
Sepagi ini sudah mengganggu
dan celakanya aku sudi menjamumu
Sepagi ini,
membuka Jum'at yang dingin
Aku sudah merindukanmu
Melewati puncak malam
Lelap tampak enggan datang
Menjadikan aku didekap dingin yang memanggil gigil
Dan,
Kaulah penyebabnya
Sikap manis itu telah menjadi teror hingga disepertiga malam
Jadilah aku yang semakin resah dipeluk gelisah
pada Juli bertahun silam
pernah ada yang memulai kata
merayu senja
mengurai tawa di tepian gerimis
pada Juli yang terulang
yang tersisa
adalah debar-debar kerinduan
lagi,
hujan hadir
dan tak ada bentuk puisi ataupun prosa yang terurai
selain rima-rima rindu yang berserakan
menebarkan aroma jejakmu
pernah,
pada hujan sebelumnya
aku menepis candu tentangmu
yang terjadi justru dadaku sesak
didera irama-irama kenangan yang memberontak
kau benar-benar bangsat, kubilang
hilangmu tak sesungguhnya menghilangkan
kau adalah sebenar-benarnya candu yang tak bisa kulepaskan
kau benar-benar bangsat, kubilang
pergimu tak sesungguhnya kepergian
kau adalah sebenar-benarnya histori yang tak mampu kuusaikan
Rumah,
Ketika hujan diawal Juli 2017
Senja kali ini, aku mendekap angin
Seraya kupandangi mendung lekat-lekat
Bersama kursi bambu tua di teras rumah yang menunggu hujan
Kupejamkan mata
Semilir aromamu melintasi ruang-ruang lengang
Angin balas mendekap
Sejuk berubah dingin
Menjadikan lengang semakin tenang
Senja kali ini,
Aku dibuat semakin gigil olehmu
Kamu yang hadir lewat rindu
Aku pamit
Meninggalkan kau bersama hari ini
Sebab bagi kita, esok sudah tiada
Aku pamit
Udara yang bergegas mengosongkan paru-paru waktu
Tiada lagi kesempatan untuk membelai rambutmu yang hitam
Beranda pagi akan kau lihat lengang sejak hari ini
Sementara yang tersisa hanya kau yang menangis seraya memeluk kenangan
Memohon pada waktu untuk menahan langkah-langkah yang menjauh
Aku pamit
Aku yang harus mencintaimu dengan kepergian
Aku kalut menghadapimu yang kian rumit
Perjalanan ini ditempa tanda tanya yang tiada pernah bertemu jawaban
Kau duduk di sampingku tapi aku tak jua menemukanmu
Kau begitu jauh meski kita bersejajaran melewati detik-detik waktu
Kita saling bicara namun tiada makna
Pada matamu yang sayu aku dibuat ragu
Benarkah mencintaimu adalah kebenaran?
Aku berlari, sementara kau memilih sembunyi
Aku berjuang, sementara kau memilih hilang
Aku menyerah, kau pasrah
Aku tidak tahu
Apakah mencintaimu memang harus rumit?
Aku tidak tahu
Apakah sekian masa akan kulewati dengan tanda tanya? yang tak punya jawaban
Aku mencintaimu dengan lelah
Seperti berlari tanpa makna
Kau memberi lebih dari yang sepatutnya aku terima
Aku dibuat serupa bangsawan yang tolol
Kau tidak mencintaiku dengan kadar yang tepat
Kita telah dipaksa berjalan di atas kehampaan
Ku mohon pergilah
Enyah dan sudahi kegilaan ini
Aku mencintaimu dengan terluka
Dan segala waktu akan menjadi buram
Cara kita jatuh cinta dan mencintai semacam kejanggalan
Tidak untuk diperjuangkan
Ku mohon pergilah
Juangku bukan untuk kita
Hari ini aku melihatmu lagi dari celah lengang. Selalu saja begitu. Sepi itu senang sekali menggandeng rindu.
Sedang kucoba andaikan. Sekiranya kamu adalah jawaban atas pertanyaan waktu. Tentu akan kutemukan kau lebih dari lengang. Sedang sebagai masa lalu saja kau mampu mengisi jeda dan kenang.
Sayangnya, garis masa yang ada bukan aku yang tentukan. Bahkan aku tidak melihatmu sebagai esok yang kupunya. Kita hanya bertemu pada celah-celah waktu lampau yang sesekali menyinggahi. Saling membisu, lalu saling berpaling.
Pada akhirnya, siluet realita yang menyadarkan bahwa aku harus bergegas ke masa depan. Meninggalkan jeda yang berlebihan hanya untuk melihatmu. Aku harus segera menjelma nyata, meski kosong.
Derai hujan yang mengisi celah-celah bumi
Adalah lonceng pengingat ketika aku hampir benar-benar melupakanmu
Pada gigil yang dibawanya, hujan telah memandikan aku dengan rindu
Sementara batinku berusaha bertahan agar tak mati karena tikaman kenanganmu
Hujan telah menelan setiap kata yang kupunya
Langit yang menangis itu merenggut habis sluruh eja di sudut bibirku
Bahkan rintik di ujung genting tak mampu lagi bersuara
Dunia adalah diam
Sejak engkau tinggalkan
Dan aku, adalah kosong yang tak mungkin lagi terisi
Aku salah telah mengenangmu dengan membabi buta
Telah kubiarkan air mata mengering
Seluruh indraku kaku, dan hidupku gagu
Sedangkan yang tersisa adalah rindu kepada aku yang tak kenal kau
Rumah, 19.30 WIB.
Bersama hujan Februari
Aku minta maaf
Telah aku sambut kau tanpa kesungguhan
Mengabaikan setiap waktu-waktu yang berusaha kau ciptakan untukku
Aku telah salah
Menenggelamkanmu dalam lautan diksi-diksi roman yang menjejak malam
Memberimu kesempatan mengenal tertawa di cangkir obrolan senja
Pecayalah,
Memahamimu adalah juang yang pernah aku upayakan
Aku juga bukan batu ketika waktu itu kau temukan
Hanya saja jejak-jejak kepatahan itu terlalu membekas
Menjadikan aku runtuh yang sukar bangkit
Dan kau telah aku letakkan pada garis pengabaian yang menjelma pengaharapan
Ini yang seharusnya
Membiarkanmu lepas dari kenyamanan yang semu
Sungguh, tak ada yang lebih baik dari membiarkanku memeluk jeda
Aku meninggalkan dia
Dan aku menyesal
Aku dapatkan pengganti dia, dan aku meninggalkannya
Aku temukan lagi pengganti dia, lalu aku tinggalkan pula
Aku punya kekasih lagi, kemudian kutinggalkan lagi
Dan aku dapatkan pengganti yang lain lagi
Sama
Juga aku tinggalkan
Aku berkali-kali meninggalkan
Sebab yang kuinginkan adalah pengganti dia
Tapi tak ada yang seperti dia
Ternyata dia hanya tercipta satu-satunya
Aku ingin kembali kepada dia
Tapi itu hanya harap yang sia-sia
Karena dia
Kini bukan lagi dia yang dulu aku tinggalkan
Kepada Engkau yang melukisku
Gambarkan aku menjadi kisah
Seperti lelantun puisi-puisi anak yang kehilangan ibu bapaknya
Seperti para kekasih yang mendoakan pujaannya
Seperti hujan yang memenangkan senyum-senyum yang gersang
Seperti haus yang merindukan basah
Seperti damai yang dihadiahkan malam kepada mimpi
Seperti puji-pujian yang meramaikan mesjid, gereja dan vihara
Seperti laut yang setia kepada pantai
Seperti para sahabat yang saling memahami
Seperti lembut ibu yang membelai anak-anak mereka
Kepada yang menyatu dalam nafasku
Menciptakan detak kehidupan di dada kiriku
Sungguhpun sempurna alam mengaminiku
Tanpa Engkau, aku tiada
Rumah, Januari 2017, 13.35 WIB.
Ketika mendengarkan lagu Putih-Efek Rumah Kaca
Aku menemukanmu yang memandang tepian senja
Kau sedang menceritakan lamat-lamat penyesalanmu
Seraya menangis, sesegukan
Betapa menyakitkan torehan luka yang telah kau hadiahkan
Sungguh sedumu tak akan merubah apapun
Bingkai waktu telah mengabadikan ketegaanmu ketika itu
Kenangan yang kau buat mengaliri ruang-ruang lini masa
Menempati satu sisi yang kemudian mengekal
Kepedihan itu akan melegenda
Mengukir jejak yang tak akan hilang
Siluet yang menyambut malam masih mendengar ceritamu
Dan menangislah
Menangislah untuk maaf yang kau harapkan
Telah kutuliskan kau dalam ribuan puisi
Dalam diksi-diksi yang bertaburan antara Sumatera dan Jogja
Dimana waktu berangsur-angsur menelan butir-butir rindu
Dongeng yang kau tinggalkan dalam keadaan patah
Telah kuhidupkan kembali melalui gatar-getar jemari
Bagiku cukup
Menemuimu diatas kertas
Bagiku cukup
Meski pada akhirnya
Kau hanya hidup di dalam kata-kata
Bagiku cukup
Ribuan puisiku abadi
Dibalik denyut hujan yang menyentuh sekujur bumi
Aku menceritakanmu
Mengisahkan aku yang terbaring diantara keinginan dan kebodohan
Tentang kita
Entah siapa yang dihadirkan diantara siapa
Dinding-dinding pembatas terlalu banyak namun begitu rapuh
Cinta tak mengenal waktu yang tepat
Manusia harus mengerti
Ada hal yang tak seharusnya tapi tak bisa disebut sebagai kesalahan
Pada akhirnya kamu akan tetap menjadi alasan
Untuk aku menjadi bangkit atau aku kembali patah
Pada akhirnya aku akan tetap menjadi kejam
Entah terhadap perempuan lain atau untuk diriku sendiri
Dibalik ruang jarak yang melahirkan rindu
Aku menceritakanmu
Kamu yang rumit
Terimakasih 2016. Untuk setiap moment manis. Untuk setiap kegembiraan. Untuk setiap jatuh, patah dan bangkit. Untuk setiap pembelajan hidup. Untuk segala haru dan tangis. Untuk semua yang datang dan meninggalkan.
Terimakasih 2016, untuk seluruh hal yang akan menjadi kenangan.
Rumah, 11.57 WIB