Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU ": 2016
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Selasa, 13 Desember 2016

!

Nurani
Semua mengaku punya
Tapi lupa untuk apa, lupa diberikan siapa

Lalu masing-masing berkelakar atas nama Tuhan
Tapi tak paham Tuhan apa, Tuhan siapa, Tuhan yang mana, Tuhan dimana, Tuhan bagaimana

Beda apa menuhankan Tuhan dengan patung, matahari, laut, uang atau nafsu
Sungguh, bumi tak lebih dari yang tak selesai
Dan para manusia telah menabikan diri

Manusia
Omong kosong

Minggu, 11 Desember 2016

Cerita Tentang Hujan

Mari kuceritakan tentang hujan
Hujan yang tak sama seperti biasa
Derai airnya, lembab basahnya, wewarnaan yang diumbarnya tak sama

Ini hujan yang menyeruput habis rerinduan dalam cangkir sunyi
Hujan yang enggan mereda sebelum senyummu pulang
Kau mestinya paham, hujan semacam ini akan terus menderas selagi kau diam dipeluk jarak

Hujan ini kian membuatku terpekur, larut dalam pandangan kosong hampa
Dingin, aku kebal
Sepi, aku tak peduli
Hujan ini meramu aku dan cerita-cerita hingga kian sesak

Sudah kuceritakan tentang hujan yang berbau kenangan ini
Hujan yang bukan sekedar basah dan seserakan air
Mestinya kau lekas pulang

Di sini, aku bersama hujan yang tak sembarangan

Dibawah mendung.
Padang, 14.30 WIB

Sabtu, 10 Desember 2016

Puisiku

Puisiku berantakan
Aksara tak lagi beraturan
Kalimat demi kalimat seserakan di pelataran alinea
Tiada sajak, tiada umpama, tiada kiasan, tiada pula majas-majas menakjubkan

Bagaimana akan kuberi kau judul
Diksi-diksi itu telah basah oleh hujan semalaman
Bagaimana akan kuberi kau nama
Vokal dan konsonan tak tahu lagi irama

Puisiku berantakan
Sebab tuannyapun telah gagu

Puisi itu berantakan
Adalah engkau telah menyerak setiap huruf-hurufnya

Padang, 10 Desember 2016
15.58 WIB
Ketika hujan tak jua reda.

Minggu, 18 September 2016

Dia

Ditemuinya lagi aku
Lalu ia bicara tentang segala gaduh yang terjadi di dalam bilik ventrikelnya
Dimana darah tak lagi melewati aorta
Semua berserakan, berwarna merah
Tapi dia bahagia dalam kehancuran organ-organnya
Dia selalu bahagia atas deritanya

Diusapnya kepalaku
Lalu dia menangis
Tapi itu bukan air mata yang berasal dari masa lalu
Dia menangisi kenyataan bahwa dia sedang berada bersama masa depan

Ditatapnya aku
Lalu aku menangis
Tapi itu bukan air mata kebencian

Salinan puisi lama.
Lubuk Sikaping, Pasaman
22.38 WIB

Rabu, 14 September 2016

Ruang Kembalimu

Semalam kau pulang. Kau membawa sebingkis cerita tentang udara. Betapa kau memujanya, menyanjungnya.

Pernah dulu kau juga bercerita tentang gemercik air yang menyejukkan. Sama. Betapa kau juga memujanya, menyanjungnya.

Setiap kembalimu adalah ceritamu. Setiap datangmu adalah senandung yang baru. Setiap kau adalah aku tahu.

Kelak, sekalipun pulangmu adalah cerita tentang langit yang tak bisa kau gapai. Aku adalah peraduan sebagaimana dulu pernah ikut terbakar ketika kau menceritakan api.

Pulanglah kapanpun kau ingin pulang. Ceritakan apapun yang ingin kau ceritakan. Sebab masih akan ada aku sebagai ruang kembalimu.

Ketika hujan di Padang Panjang,
17.00 WIB

Baiklah

Baiklah. Aku akan berpasrah pada muara yang Tuhan kehendaki. Bersimpuh, tertunduk dihadapan mau yang tak tertolak.

Tapi degup ini masih akan tetap sama. Biar aku gigil mendekap diamku sepanjang sisa waktu yang diberikan langit. Degup ini masih akan serupa seperti sebelum aku menyerah. Biar aku kacau dalam tarung batinku sendiri. Sebab, aku egois. Aku keras hati.

Baiklah. Tentang perjalanan ini aku akan lupa. Kelak.

Minggu, 24 Juli 2016

Mengingatmu

Baru saja tersaji hujan dihadapanku.
Tapi tak lama, sebab langit membawanya pulang.
Demikian pula ingatku tentangmu.
Sebatas tetes air mata langit.
Sebab menyayangimu aku hanya pernah.

Kamis, 31 Maret 2016

Benalu

Kau tahu, jika saja aku terlahir sebagai pohon maka kehadiran benalu adalah petaka. 
Perlahan membawa menuju kematian. 
Serupa itulah kau mencintaiku. 
Selalu disisi namun mematikan. 

Minggu, 20 Maret 2016

Si Lelaki & Si Gadis

Lelaki itu berangkat membawa keraguannya. Tangannya mengepal, menggenggam erat rindu yang seharusnya dilepaskan. Lelaki itu berupaya tenang dalam perginya yang sungguh berkecamuk.

Langkahnya kian menjauh. Ada yang ia pendam dibalik koper masa depannya. Lelaki itu terus berjalan dan tak sedikitpun ingin berbalik arah. Sebab ia sedang menyembunyikan air matanya.

Lelaki itu pergi bersama kepura-puraannya. Tanpa sadar, lelaki itu akan memulai penderitaannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Gadis itu terpaku dalam tegak yang gemetar. Dari kejauhan ia melepaskan kepergian lelakinya. Ia tak bisa menahan pun mencoba menghalangi. Sebab ia tak punya alasan untuk melakukannya.

Gadis itu memaksa senyumnya, menatap punggung yang enggan membalik. Gadis itu menggigit bibir, menahan rindu yang mulai nanar. Ia akan pulang ke rumah tanpa harapan.

Gadis itu bungkam. Ia tak pernah tahu cara memulai. Tapi ia tahu cara mengakhiri. Ia akan menjadikan lelakinya kenangan.

Jumat, 18 Maret 2016

Waktu

Waktu telah menyelasaikan tugasnya. Menjawab pertanyaan-pertanyaan aku, kau dan kita. Bukan lagi terhitung hari atau minggu, tapi selama beberapa tahun kita telah terperangkap dibawah tanda tanya.

Waktu yang akhirnya menegaskan. Kau dan aku memang tidak untuk menjadi kita. Kau untuk kalian dan aku untuk kami. Kita adalah ketidakmungkinan.

Waktu telah menyampaikan pesan Tuhan. Seharusnya kita bersyukur dan merayakan kebebasan atas ketidakpastian yang hampir berkarat. Kita akan memulai atas sesuatu yang telah berakhir. Kita pantas bahagia.

Rabu, 16 Maret 2016

Ketika kamu dihadapkan pada perkenalan singkat lalu memutuskan untuk menikah. Yakin?

Ya, yakin. Jika bukan keyakinan, apa lagi?

But, menurut saya. Sekali lagi, menurut saya loh...!

Ketika memutuskan sebuah pilihan apalagi pilihan untuk teman hidup adalah sebuah keputusan yang benar-benar berdasarkan pertimbangan matang. Sebab, kelak orang yang kamu pilih adalah orang yang akan kamu lihat pertama kali setiap kamu bangun, orang yang sepanjang hari akan kamu dampingi, dan orang terakhir yang kamu pandangi sebelum tidur. Catatannya, kamu tidak boleh bosan.

So, kamu harus siap menerima segala bentuk kebiasaan yang dimiliki teman hidup kamu tanpa boleh menyesali.

Kamu harus siap jika pasangan kamu tidur dengan dengkuran yang keras, kebiasaan kentut saat bangun tidur, baju kotor yang berantakan, menu makan yang pilih-pilih, hobi main play stasion, cinta bola yang berlebihan, kebiasaan lupa letak kunci, suka hangout sama teman-teman kuliah, rutinitas futsall, dan    kemungkinan kebiasaan lain yang belum kamu tahu (dan ternyata kamu tidak suka). Catatannya, kamu juga harus mencintai kebiasaannya bukan cuma penampilan dan penghasilannya.

Paling tidak kamu harus kenal sebagian besar kebiasaan pasangan sebelum memutuskan menikah. Jika tidak hal ini bukan tidak mungkin akan menjadi bahan pertengkaran dalam rumah tangga.

Jadi, apakah bisa perkenalan singkat memungkinkan kita untuk saling tahu dan memahami kebiasaan masing-masing? Apakah kita mampu mencintai kekurangan seseorang melalui perkenalan singkat?

Jangan pernah berharap bahwa semua kebiasaan buruk kelak akan berubah setelah menikah atau setelah punya anak. Sekali lagi jangan menggantungkan harapan besar untuk hal yang satu ini. Bukan tidak mungkin untuk terjadi, tapi jikapun terjadi anggap itu adalah bonus dari kesabaran.

Maka, berdasarkan kemungkinan-kemungkinan yang akan kamu hadapi setelah berumah tangga nanti apakah kita cukup yakin untuk memutuskan perkenalan singkat sebagai langkah memilih pasangan hidup?

Bukan tidak mungkin perkenalan singkat akan melahirkan rumah tangga yang harmonis hingga akhir hayat, apabila sebagai perempuan kamu punya level sabar yang tidak ada batas. Catatannya, apakah kita sudah sesabar itu?

Memilih pasangan berarti memutuskan langkah besar dalam perjalanan hidup. Ketika telah memutuskan, kamu harus menjalani tanpa bisa merubah keputusan itu.

Yakin? Sudah siap?