“jika
saja angin benar-benar menyampaikann pesanku,
seharusnya
saat ini kau sudah menerima sepucuk
rindu
yang bertuliskan namamu, Diandra”
Ini
rangkaian kata yang tak lagi terhitung keberapa kalinya kutuliskan di buku bersampul
coklat keemasan yang kuberi judul “Tentang Diandra”. Betapa klisenya caraku
mencintai wanita indah itu. Memandangnya dari kejauhan, memperhatikannya
diam-diam, merindukannya secara sembunyi-sembunyi, mengatakan bahwa betapa aku
mengaguminya hanya lewat goresan tinta, dan berpura-pura tak ada apa-apa saat
dekat dengannya.
Diandra.
Untuk pertama kalinya aku merasakan ketidak adilan Tuhan karena telah
menciptakan keindahan yang keterlaluan seperti dia. Kesempurnaan wanita yang
membuat bunga-bungapun iri atas keanggunannya. Wajah teduh dibalik kerudung
itu, dengan binar mata coklat nan indah, bibir tipis yang kemerahan, senyuman
dengan lesung pipi yang manis, kulit putih yang memancarkan sinar wudhu, belum
lagi kelembutan saat bertutur kata. Atau hanya aku yang terlalu berlebihan
mengaguminya? Tapi kurasa tak ada yang
tak mengagumi Diandra. Aku benar-benar tak mampu lagi melihat hal lain yang
lebih indah melebihi wanita itu.
Aku
menganal Diandra dengan sangat baik. Bahkan tahu banyak hal tentangnya melebihi
yang ia beri tahukan kepadaku. Sekali lagi, ini karena aku benar-benar
mengaguminya. Mencintainya. Aku biasa dimata Diandra, tapi Diandra luar biasa
dimataku. Aku teman bagi Diandra, tapi Diandra malaikat bagiku.
Diandra
hanya mengenalku sebagai salah satu dari puluhan atau ratusan mahasiswanya.
Jikapun ada hal istimewa yang membuat namaku teringat dengan baik dimemorinya
barangkali karena setiap tugas makalahku yang selalu melebihi batas deadline
atau karena pertanyaan-pertanyaan konyolku di kelas. Tapi bisa jadi karena
akulah mahasiswa yang paling sering menawarkan jasa tumpangan pulang atau
traktiran makan yang tidak pernah diberi tanggapan selain dari senyuman manis
dengan lesung pipi khas Diandraku sayang.
“Diandraku
sayang, kau memang terlalu jauh.
Aku hanya sebutir debu sementra kau angin yang sejuk.
Aku hanya waduk kecil sementara kau lautan yang luas.
Aku hanya selembar daun kering sementara kau rerimbunan pohon di pegunungan.
Diandraku sayang, aku hanya seorang pengkhayal.
Kekagumanku padamu memang besar, tapi Tuhan lebih besar.
Cintaku memang luas tapi kuasa Tuhan lebih luas.
Aku tak kan pernah mampu seperti Tuhan yang bisa menciptakan kesempurnaan”
Aku hanya sebutir debu sementra kau angin yang sejuk.
Aku hanya waduk kecil sementara kau lautan yang luas.
Aku hanya selembar daun kering sementara kau rerimbunan pohon di pegunungan.
Diandraku sayang, aku hanya seorang pengkhayal.
Kekagumanku padamu memang besar, tapi Tuhan lebih besar.
Cintaku memang luas tapi kuasa Tuhan lebih luas.
Aku tak kan pernah mampu seperti Tuhan yang bisa menciptakan kesempurnaan”
Kalimat ini kutulis ketika aku
mendapat hadiah manis dari Diandra. Ketika itu pagi dengan gerimis yang indah.
Diandra memanggilku dari kejauhan. Kemudian ia memberikan sesuatu berwarna ungu
muda dengan hiasan pita cantik. Yaa, Diandra menghadiahkan undangan
pernikahannya untukku dipagi yang lembab. Aku memaksa senyum terbaikku untuk
turut hadir pagi itu. Seraya berucap selayaknya sahabat yang turut bahagia aku
mempersembahkan senyum sumringah dan memastikan diri untuk menghadiri undangan
Diandra. Tak ada yang tahu seberapa berkecamuknya sakit dibalik dadaku bersamaan
dengan langkahku meninggalkan Diandara waktu itu. Tikaman yang bertubi-tubi
pada rasaku, luka yang merobek-robek rindu, dan pilu yang seketika memaksa
mengikis nama Diandra dijantungku.
“Diandra, sekalipun kau tidak diciptakan Tuhan dari
tulang rusukku setidaknya aku bahagia telah
ada
namamu
diantara bait-bait cerita takdirku”
Kekaguman hanyalah sebatas mata. Cinta
hanyalah sebatas rasa. Tapi takdir tentu tak ada yang mampu membatasi jalannya.
Aku memang sempat bergulat dengan hatiku sendiri. Mencoba dengan tega membunuh
rasaku tentang Diandra. Namun itu tak semudah aku mencintainya. Semua tentang
Diandra tak hanya tertulis rapi dibuku coklat keemasan itu, tapi juga didasar
segala rasa yang kupunya. Diandra memang telah memberikanku bingkisan luka,
tapi aku yakin wanita anggun itu tak bermaksud menyakiti siapapun. Aku
meyakinkan diriku untuk tetap bahagia dengan luka dari Diandraku sayang.
“Diandra, sudah kuterima luka yang kau selipkan
dalam sampul berwarna ungu muda itu.
Terimakasih Diandra untuk luka manis berhiaskan
senyum terindah dari bidadari Tuhan”
dalam sampul berwarna ungu muda itu.
Terimakasih Diandra untuk luka manis berhiaskan
senyum terindah dari bidadari Tuhan”