Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU ": Maret 2017
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Rabu, 22 Maret 2017

Ku mohon pergilah

Aku mencintaimu dengan lelah
Seperti berlari tanpa makna
Kau memberi lebih dari yang sepatutnya aku terima
Aku dibuat serupa bangsawan yang tolol
Kau tidak mencintaiku dengan kadar yang tepat
Kita telah dipaksa berjalan di atas kehampaan

Ku mohon pergilah
Enyah dan sudahi kegilaan ini

Aku mencintaimu dengan terluka
Dan segala waktu akan menjadi buram
Cara kita jatuh cinta dan mencintai semacam kejanggalan
Tidak untuk diperjuangkan

Ku mohon pergilah
Juangku bukan untuk kita

Rabu, 15 Maret 2017

Aku, Lelah dan Bahagia


Aku lelah hari ini. Aku lelah sejak kemarin. Barangkali esok juga aku lelah. Tapi aku tetap harus bahagia. Demikian pesan ayah dan ibu setiap pagi sebelum aku berangkat kerja. Sebab tujuan hidup adalah bahagia. Lelah yang aku dapati setiap hari adalah bayaran untuk kebahagiaan. Tapi kebahagiaan itu bukan ditunggu. Ia tak akan datang. Jika ditunggu bisa jadi ia tak datang. Mungkin saja terkena macet, kecelakaan atau meninggal dunia. Atau bisa pula yang menunggu mati lebih dulu sebelum bahagia datang menghampiri. Sebab itulah ayah dan ibu bilang bahagia itu diciptakan setiap waktu meskipun sekecil dan sesederhana mungkin. Bukankah aku juga sudah membayarnya setiap hari dengan lelah. Jadi aku pantas bahagia setiap hari.
Hari ini seperti biasa, aku lelah. Tapi kali ini aku lelah karena satu bejana air mata yang aku keluarkan. Dua jam terakhir sebelum jam istirahat makan siang aku dipaksa menangis oleh setumpuk kertas. Benda mati yang bangsat. Aku benar-benar dibuatnya lelah berlebihan. Aku harus menjadi tontonan seisi ruangan sempit ini. Dinding, lampu, vas dan bunganya, alat tulis, map, dan kertas-kertas lainnya yang menyebar di seluruh sisi ruangan.
Setelah jam makan siang aku harus menjadi bahagia lagi. Tumpukan kertas itu memang melelahkan. Tapi aku masih ingat pesan ayah dan ibu. Lekas kuteguk tawa yang ada dalam botol di atas meja kerja. Botol yang kubawa dari rumah setiap hari. Kuteguk hingga habis, tanpa sisa. Menangis dua jam benar-benar membuat stok dalam botolku habis lebih cepat. Semoga bisa menciptakan bahagia yang bertahan setidaknya sampai aku pulang dan mendapatkan asupan lagi di rumah. Di pelukan ayah dan ibu.
Sayangnya hari ini memang keparat. Aku dikunjungi amarah tak lama setelahnya. Aku benci kunjungan tamu yang satu ini. Aku sudah kerap mengusirnya setiap kali datang. Tapi sepertinya ia tak juga jera dan selalu saja merindukanku. Amarah paham betul cuaca yang tepat. Ia bertamu ketika panas sedang sejadi-jadinya. Belum lagi teman yang dibawanya membuatku semakin jengkel. Cemooh datang bersama amarah dan dengan sempurna membuatku kesal hingga jam pulang kerja. Ruangan sempit ini semakin terasa menghakimiku lewat pandangan antipati mereka yang sejak pagi memperhatikanku. Dinding, lampu, vas dan bunganya, alat tulis, map, dan kertas-kertas lainnya. Aku benar-benar dibuat muak.
Aku lekas menyegerakan untuk pulang ke rumah. Tak peduli meski lebih cepat dari semestinya. Aku butuh kebahagiaanku, segera. Lelah tak boleh menguasaiku hari ini. Aku tinggalkan amarah dan temannya begitu saja di tempat kerja. Di ruang sempit bersama para penghuni yang menjengkelkan sepanjang hari ini.
Kudapati ayah dan ibu seperti biasa menungguku di teras rumah. Menikmati udara sore sambil memberi makan para penggunjing manis mulut yang berlalu lalang. Menyapa ayah dan ibu dengan sopan dan memuji kemesraan mereka lalu berbicara sebaliknya di kedai sayur pagi hari. Para tetangga yang tak jarang juga mempersembahkan kepadaku lelah.

Lekas kuhamburkan peluk kepada ayah dan ibu bergantian. Seketika kudapatkan lagi yang sejak tadi aku butuhkan. Ayah dan ibu selalu menyajikan sepiring senyuman renyah dan secangkir tawa dalam nampan bahagia setiap sore. Mereka adalah sajian rutinitas ketika menyambut aku yang membawa lelah pulang ke rumah.

Melihatmu

Hari ini aku melihatmu lagi dari celah lengang. Selalu saja begitu. Sepi itu senang sekali menggandeng rindu.

Sedang kucoba andaikan. Sekiranya kamu adalah jawaban atas pertanyaan waktu. Tentu akan kutemukan kau lebih dari lengang. Sedang sebagai masa lalu saja kau mampu mengisi jeda dan kenang.

Sayangnya, garis masa yang ada bukan aku yang tentukan. Bahkan aku tidak melihatmu sebagai esok yang kupunya. Kita hanya bertemu pada celah-celah waktu lampau yang sesekali menyinggahi. Saling membisu, lalu saling berpaling.

Pada akhirnya, siluet realita yang menyadarkan bahwa aku harus bergegas ke masa depan. Meninggalkan jeda yang berlebihan hanya untuk melihatmu. Aku harus segera menjelma nyata, meski kosong.

Selasa, 14 Maret 2017

Sobekan Kertas

Pada simpul waktu yang berbicara
Akhirnya aku benar-benar dibuat mengerti
Bahwa namaku hanya tertulis pada sobekan kertas
Dari sudut folio perjalananmu
Yang jika hilang sekalipun tak dipedulikan
Mari saling melupakan
Ah, bukan
Aku yang akan berusaha melupakan
Sementara kau tak memiliki apapun untuk dilupakan

Minggu, 05 Maret 2017

Kenanganmu

Derai hujan yang mengisi celah-celah bumi
Adalah lonceng pengingat ketika aku hampir benar-benar melupakanmu

Pada gigil yang dibawanya, hujan telah memandikan aku dengan rindu
Sementara batinku berusaha bertahan agar tak mati karena tikaman kenanganmu