Selasa, 31 Desember 2019
Terima kasih 2019
Mari berterimakasih untuk setiap kesulitan, kehilangan, keterpurukan, kegagalan dan segala bentuk kejadian yang tak sesuai dengan harapan.
Tahun 2020 bukan berarti semua harus dipaksa berubah atau diubah. Tapi mengupayakan segala sesuatu agar lebih baik. Penerimaan atas sebuah ketidakberhasilan bisa berarti sesuatu yang lebih baik. Sebab dalam hidup ada beberapa hal yang mesti dihentikan, dilepaskan dan diikhlaskan.
Mari berterimakasih kepada 2019 dengan segala pelajaran yang diberikan. Dan terimakasih kepada diri sendiri yang sudah mau berjuang untuk segala pencapaian dan bertahan atas setiap tekanan. 😊
Selasa, 17 Desember 2019
Seharusnya
Selasa, 10 September 2019
Cerpen : Misteri Sang Fajar
Senin, 05 Agustus 2019
Sore Terakhir Bulan Juli
Disore terakhir bulan Juli lalu
Kau berdiri di hadapanku
Kita saling menatap
Tapi tak kunjung saling berucap
Petang perlahan hilang
Juli telah meredup
Akhirnya kau bicara
Mari pulang! Katamu
Hmm. Gumamku
Lalu kau berbalik
Langkahmu menjauh
Aku masih berdiri dan kau enggan berbalik
Disore terakhir bulan Juli
Pada jejak langkahmu aku mendengar
Kau bilang, aku pergi!
Dan pada desah nafas yang melepas
Aku bilang, selamat jalan.
Pulau Punjung, 4 Agustus 2019
17.36 WIB
Minggu, 09 Juni 2019
Kau diawal Juni
Kita telah saling bicara sejak lama
sejak bulan-bulan sebelumnya
Tapi
diawal Juni yang datang sambil menggenggam hujan
cengkrama terasa berbeda
Kau begitu dekat
hangat
Dan rerinduan itu, tandas sudah
sebab nafasmu
tak lagi sekedar desah
kita sedang menghirup udara yang sama
Kamar, 9 Juni 2019
Rabu, 06 Maret 2019
Bagi kita
Mari berkasih sayang dengan semestinya
tak usah menyakiti siapapun
tak perlu mengorbankan hidup dalam sumpah serapah
Bila memang cinta bagi kita tak pernah sederhana
barangkali aku dan kamu harus mengubah arah
mencintai dengan saling menjauhi
sebab terkadang rasa sayang mesti dibawa menghilang
Bila memang cinta bagi kita tak pernah sederhana
mungkin aku dan kamu harus memisah langkah
saling mengupayakan pedih agar tak perih
sebab hidup lebih baik melepaskan daripada memaksakan
Bagi kita
barangkali tak ada rumah untuk pulang bersama
bertemu hanya untuk bertamu
dan pelukan berarti perpisahan
Kantor, 6 Maret 2019
Selasa, 26 Februari 2019
Hujan dipenghujung Februari
Pada hujan dipenghujung Februari
aku seperti dikutuk untuk tak bisa mengabaikan jejakmu
menangis
menuang air mata sejadi-jadinya
meronta
tapi tak bersuara
Februari yang basah dan segala titah kepedihannya
aku dipaksa pasrah terhujam kenanganmu
menangis
sesegukan
sementara pelukmu menertawakanku
Hujan dipenghujung Februari
yang enggan berpaling
waktu seperti tak bergerak
dan lukaku menganga semakin lama
Dharmasraya, 25 Februari 2019
Minggu, 24 Februari 2019
Cerpen : Lelaki Egois
Barangkali aku memang lelaki egois. Aku melabuhkan pilihan hidup pada seorang perempuan, dan itu bukan dia. Sementara disisi lain aku tak pernah sudi dia memiliki lelaki lain.
---
Dia perempuan pertama yang menjadi teman dekatku. Perempuan pertama yang mampu membuka ruang pergaulanku terhadap lawan jenis. Dan kupikir, dia adalah perempuan yang paling tahu aku selain Ibuku. Sebab itu aku bertekat untuk menjaga dan melindunginya.
Dulu aku merasa bahwa mengekang pergaulannya adalah cara melindunginya dari lelaki yang tidak tepat. Aku hanya berharap orang yang paling dekat denganku tak boleh tersakiti barang secuilpun. Oleh sebab itu aku menjadi selektif demi kebaikannya, pikirku. Meskipun dia tidak melakukan yang sebaliknya. Dia tidak pernah melarangku dekat dengan perempuan manapun. Dia bilang, aku bebas menentukan pilihan. Sebab dia percaya pilihanku adalah yang terbaik. Termasuk pilihanku perihal siapa lelaki yang layak mendekatinya.
Satu kali pernah aku membiarkan seorang lelaki mendekatinya. Lelaki itu baik menurutku. Kupikir mereka pasti akan berbahagia. Dan sepertinya mereka benar-benar berbahagia. Namun, beberapa waktu kemudian aku berubah pikiran dan mengatakan bahwa ternyata aku salah. Lelaki itu tak pantas untuknya. Padahal kenyataan yang terjadi adalah munculnya perasaan cemburu dan perasaan tak sudi jika dia dibahagiakan lelaki lain.
Aku tak ingin dia disakiti oleh siapapun, tapi justru aku yang melakukan itu. Sungguh aku benar-benar tega. Aku menarik tangannya ketika dia akan memasuki pintu kebahagiaan. Sementara dia, dia adalah orang yang selalu mendukungku untuk meraih segala kebahagiaan. Bahkan dia yang paling bahagia ketika aku memutuskan memilih perempuan lain sebagai teman hidupku.
Aku berharap bisa melepaskannya. Hanya saja rasa memilikiku terhadapnya terlalu besar. Aku menyayanginya, dan caraku salah. Aku memang lelaki egois. Ini bukan pembenaran. Tapi kebenaran. Dan kebenaran itu telah menyakiti dia.
Jumat, 22 Februari 2019
Langit menangis
Derai hujan sedang berbicara
Perihal langit yang sedang sedih
Irama-irama sesegukan semakin lantang
Menelisik malam yang kian larut
Bumi semakin kuyup
Bahkan sampai kepada lapis paling kerontang
Kesedihan langit memang dalam
Tanpa ampun menghujam semesta dengan derainya yang keras
Tak peduli hutan dan kehidupan yang kedinginan
Langit terus saja menangis
Seolah tak ada pertanda tentang usai
Langit sedang geram
Lewat udara, ia mencekam kehidupan
Gelegarnya seperti enggan untuk mereda
Sepertinya alam tak lagi akan tenang
Derai hujan kian lantang
Deras itu berteriak dengan nanar
Bahwa ia benar-benar sakit
Bahwa kali ini pedih akan sulit untuk pulih
Dharmasraya, 19 Februari 2019