Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU ": 2019
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Selasa, 31 Desember 2019

Terima kasih 2019

Mari berterimakasih kepada 365 hari yang luar biasa dalam tahun ini. Masa dimana pikiran semakin bijaksana menerima segala rencana terlaksana ataupun tertunda.

Mari berterimakasih untuk setiap kesulitan, kehilangan, keterpurukan, kegagalan dan segala bentuk kejadian yang tak sesuai dengan harapan.

Tahun 2020 bukan berarti semua harus dipaksa berubah atau diubah. Tapi mengupayakan segala sesuatu agar lebih baik. Penerimaan atas sebuah ketidakberhasilan bisa berarti sesuatu yang lebih baik. Sebab dalam hidup ada beberapa hal yang mesti dihentikan, dilepaskan dan diikhlaskan.

Mari berterimakasih kepada 2019 dengan segala pelajaran yang diberikan. Dan terimakasih kepada diri sendiri yang sudah mau berjuang untuk segala pencapaian dan bertahan atas setiap tekanan. 😊

Selasa, 17 Desember 2019

Seharusnya

Seharusnya dulu aku berani
Mengatakan bahwa aku sayang
Tapi aku justru hanya memberikan isyarat
Mengharapkan kau mampu mengartikan sikap tingkahku
Seharusnya aku menyadari
Bahwa kau bukan peramal

Kamar, 21.40 WIB
Menjelang mencuci kaki sebelum tidur

Selasa, 10 September 2019

Cerpen : Misteri Sang Fajar


“Aku mau ke kedai Bang Cai sebentar.”
Fajar beranjak dari hadapanku. Tak dipedulikannya aku hendak menjawab, mengangguk ataupun menggeleng. Sejak pemuda itu datang dan ikut menambah sesak isi tempat tinggalku yang sempit ini, tak bisa aku katakan bahwa ia adalah seseorang yang penuh sopan santun. Padahal jika ingin menghitung budi, sepatutnya ia tunduk padaku. Dia tak mungkin lupa bagaimana ia bisa hidup dan bertahan di negeri yang penuh kejutan ini, dia makan dari hasil keringatku.
Tapi jika dipikir-pikir benar, Fajar tidak pernah pula berlaku kurang ajar. Pemuda itu memang kaku, tak pernah senyum apalagi tertawa. Dia terkesan kasar, arogan dan mengerikan dengan garis wajah keras yang ia miliki. Tubuhnya tinggi besar seperti bodyguard di film-film, membuatnya semakin terlihat garang.
Sejak menemukan Fajar, aku tidak pernah bicara banyak hal dengannya. Pemuda itu memendam banyak misteri asal-usul adan masa lalunya. Kami hanya terlibat percakapan bila salah satu dari kami akan pergi ke luar. Itupun rasanya tak layak disebut sebagai percakapan karena tak ada saling sahut diantara kami. Pernah beberapa kali aku bertanya apa kebutuhannya yang perlu aku belikan. Fajar selalu saja menjawab dengan dua kata “nggak usah.” Acap kali menerima jawaban serupa aku memilih tak lagi bertanya dan lebih berinisiatif membelikan apapapun yang kurasa ia butuhkan. Beberapa lembar pakaian ganti, pisau cukur, bahkan celana dalam. Sesekali aku tinggalkan dua atau tiga lembar uang lima puluh ribu di atas meja makan. Entah ia akan belikan rokok atau untuk sekedar ngopi di kedai Bang Cai. Fajar memang tidak pernah meminta apapun tapi ia juga tak menolak apapun yang aku sediakan.
Aku menemukan tubuh jangkung Fajar di perempatan tidak jauh dari tempatku tinggal persis ketika fajar hendak menyingsing pagi itu. Ketika itu kupikir aku menemukan sesosok mayat. Bergegas aku berlalari ke kedai Bang Cai yang buka 24 jam. Para lelaki yang biasa nongkrong baru saja bubar dan Bang Cai hendak  mencoba untuk tidur. Melihat aku yang tegopoh-gopoh, tanpa pikir panjang Bang Cai meninggalkan istrinya di kedai dan mengikuti petunjukku.
“Masih hidup.” Kata Bang Cai setelah meletakkan telunjuk di bawah lubang hidung lelaki yang tergeletak itu. Aku memperhatikan, tidak tahu harus merespon apa. Tanganku mendekap sepasang sepatu beludru warna biru bertumit 9 cm yang tadi aku pakai sebelum berlari menuju kedai Bang Cai.
Dibantu seorang pemulung yang sedang berada disekitar kami, Bang Cai membopong tubuh besar  itu menuju kedainya. Aku mengikuti dari belakang. Tubuh layu itu sangat kumal dan agak sedikit bau. Sepertinya sudah beberapa hari tak terjamah air atau sekedar dibersihkan dengan kain basah. Wajah pemuda itu tidak begitu terlihat jelas, brewok dan kumis yang tidak terurus mendominasi permukaan wajahnya. Ia lebih tampak seperti orang gila tapi pakaian yang dikenakannya sama sekali tidak compang-camping dan berlapis-lapis seperti kebanyakan orang gila yang berkeliaran.
Istri Bang Cai menyediakan handuk kecil dan air hangat untuk sedikit membersihkan wajah lusuh itu. Bibirnya benar-benar pucat pasi dan suhu tubuhnya panas tinggi. Butuh waktu hampir tiga jam sampai sosok itu sadar dari pingsannya. Padahal kami sudah hendak membawanya ke rumah sakit menumpang angkot salah seorang pelanggan kedai Bang Cai.
“Jangan ke rumah sakit.” Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut pemuda berkulit sawo matang itu. Aku, Bang Cai dan istrinya saling menatap.
“Siapa namamu?” Tanya Bang Cai, tapi pria itu bergeming. Pandangannya kosong ke langit-langit kedai Bang Cai yang sempit.
“Kalau dia tidak mau ke rumah sakit, kita tetap harus pindahkan dia dari sini. Sebentar lagi warung ini makin banyak pengunjung. Tidak nyaman untuk seseorang yang sedang sakit.” Bang Cai memandang kearahku. Dibelakangku berdiri seorang supir angkot dan seorang keneknya.
Pria itu bangkit dari pembaringannya. “Aku akan pergi.” Kami yang ada di situ hanya memperhatikan. Ia beranjak keluar dari kedai dan sejenak duduk di bangku depan memegang kepalanya seperti menahan rasa sakit. Tak seorangpun dari kami bicara lagi sampai akhirnya tubuh besar itu ambruk lagi pada langkah ketiga ketika hendak meninggalkan kedai.
Kami menyimpulkan untuk membawa tubuh yang pingsan tak berdaya itu ke tempat tinggalku sebab tak  ada lagi tempat yang bisa dianggap nyaman untuk sementara waktu. Sang supir angkot atau keneknya tak bersedia menampung. Sedang Bang Cai dan istri tak memungkinkan merawatnya lebih lama karena kedai sekaligus tempat tinggal mereka hanya ada satu kamar. Lagi pula kedai itu sudah sesak dengan peralatan rumah tangga  dan barang dagangan yang berhimpitan.
Meski harus bersusah payah menaiki bangunan empat lantai hingga mencapai balkon paling puncak di bangunan itu, Bang Cai dan supir angkot beserta keneknya tak punya pilihan lain. Akhirnya kami berhasil membawa tubuh tak berdaya itu ke tempatku bermukim. Sapetak bangunan kecil menghadap ke arah timur yang hanya memiliki tiga bagian ruang yang di sekat. Salah satu bagian aku jadikan kamar dan diberi gorden sebagai penutup. Sisi paling kanan adalah dapur dan bagian tengah adalah ruang yang terpampang langsung ketika membuka pintu. Sementara kamar mandi ada di lantai bawah.
Tempat tinggalku adalah di bagian paling atas dari sebuah rumah susun yang tidak begitu terurus. Sengaja aku membujuk pemiliknya supaya menyewakan sepetak ruang yang ada di loteng atas dengan harga murah. Awalnya itu adalah gudang, kemudian aku menawarkan diri untuk membarsihkannya. Selain mendapat harga murah aku juga mendapat ketenangan tinggal di sini. Aku tidak harus mendengar suara-suara gaduh dari kamar tetangga. Suara pertengkaran suami-istri, suara bayi merengek atau suara desahan pasangan kumpul kebo yang sedang berkencan.
Sepeninggal Bang Cai, sopir angkot dan keneknya aku membenahi  tubuh tak berdaya yang tergeletak di ruang tengah. Aku membuka jaket hitam lusuh dan kaos kumal yang dikenakan pemuda itu. Aku temukan beberapa luka lebam di punggung dan dadanya. Rangka tubuhnya memang besar, tapi sebenarnya pemuda itu tergolong kurus. Aku mengelap tubuh itu dengan handuk yang direndam air hangat kemudian mengompresnya dan kuberi ia selimut.
Aku beranjak tidur karena benar-benar mengantuk. Di samping pemuda itu aku tinggalkan sehelai baju kaos milik teman priaku yang tertinggal entah kapan dan sepiring nasi goreng lengakap dengan sebotol air mineral. Berharap ketika ia terbangun ia mengerti maksudku.
Ketika aku terbangun, matahari sudah beranjak turun, aku temukan piring bekas nasi goreng yang sudah kosong. Aku beranjak ke luar dan aku melihat pemuda itu duduk termenung di ujung loteng. Aku menghampirinya.
“Kamu udah sadar?” kataku berbasa-basi.
Pemuda itu menoleh kearahku. Tatapannya tajam, bola matanya hitam pekat semakin membuatnya terlihat sangar. “Izinkan aku tinggal sedikit  lebih lama lagi disini. Setidaknya sampai aku benar-benar pulih.”
Aku terpaku menatapnya balik. Aku membaca kesungguhan di balik tatapan itu. Pemuda itu sungguh sedang memohon dengan cara yang dingin. “Kasih aku alasan kenapa aku harus bilang ya!”
Saat itulah pemuda bertubuh tinggi besar itu menceritakan sedikit tentangnya. Ia adalah buronan yang melarikan diri dari penjara. Seorang narapidana kasus pemerkosaan terhadap adik sahabatnya sendiri. Ia tidak mengakui tuduhan pemerkosaan itu tapi semua bukti menunjukkan bahwa ia bersalah. Termasuk kesaksian korban. Ketika kejadian ia mengaku sedang mabuk berat, tapi ia sangat yakin bahwa ia tidak melakukan pemerkosaan.
Pemuda yang menolak semua tuduhan tapi terbukti bersalah, dijatuhi hukuman dua belas tahun penjara. Belum lagi hukuman kebencian dari seluruh orang di kampungnya. Keluarganya menolak mengakuinya sejak ia ditangkap polisi. Sahabat baiknya yang selama ini sudah seperti saudara menyumpah serapahinya karena  kasus yang menimpa sang adik bahkan membuat ibu mereka yang seorang janda terserang stroke. Ia benar-benar tidak diterima dan dibuang dari lingkungannya.
Menjalankan hukuman penjara baginya hanya pembenaran terhadap semua tuduhan yang dijatuhkan kepadanya. Ia tetap yakin bahwa ia tidak memperkosa siapapun. Apalagi itu adik sahabatnya yang sudah seperti adiknya sendiri. Ia meyakini bahwa ada yang sengaja menjebaknya. Tapi siapa yang percaya dengan kesaksian orang mabuk. Bahkan akupun yang mendengar merasa sanksi. Hanya saja aku tak punya pilihan lain selain mempercayainya sebab jika ia ingin berbohong atau mengarang cerita dia bisa saja mengatakan bahwa dia adalah orang kampung yang dijebak dan tertipu ketika pertama kali datang ke kota lalu dengan mudah mampu membuatku luluh. Alih-alih mengatakan bahwa ia adalah seorang buronan yang justru jelas-jelas membuatku merasa tak nyaman.
Cerita singkat itu seketika membuatku percaya begitu saja padanya. Tak ada sedikitpun rasa curiga atau kecemasan bahwa bisa saja ia melakukan sesuatu yang buruk.  Aku menerimanya tinggal bersamaku. Barangkali aku dibuat tersentuh karena dari ceritanya itu dapat diartikan bahwa kami sama-sama orang terbuang yang masih berusaha untuk melanjutkan hidup dengan cara apapun. Ia memilih menjadi buronan sebagai bentuk penolakan terhadap tuduhan yang limpahkan padanya, sementara aku memilih bersuka cita dengan dunia malam dan memberi makan seorang buronan dengan pengahasilanku. Manusia memang kerap terperangkap pada pilihan yang salah. Tapi tidak ada jaminan pilihan yang salah akan membuat seseorang terus-menerus salah seumur hidupnya.
“Panggil aku Fajar.” Katanya dipenghujung cerita sore itu. Entah nama itu benar atau hanya sekedar sebutan agar aku mudah memanggilnya. Sekali lagi aku sanksi tapi tetap mempercayai ucapannya. Aku tak peduli pemuda itu benar-benar bernama Fajar atau pemuda yang hanya saja harus kupanggil Fajar. Masa depan memang misteri Tuhan, namun masa lalu adalah misteri dari pemiliknya.


- selesai -

Senin, 05 Agustus 2019

Sore Terakhir Bulan Juli

Disore terakhir bulan Juli lalu
Kau berdiri di hadapanku
Kita saling menatap
Tapi tak kunjung saling berucap

Petang perlahan hilang
Juli telah meredup
Akhirnya kau bicara
Mari pulang! Katamu

Hmm. Gumamku
Lalu kau berbalik
Langkahmu menjauh
Aku masih berdiri dan kau enggan berbalik

Disore terakhir bulan Juli
Pada jejak langkahmu aku mendengar
Kau bilang, aku pergi!
Dan pada desah nafas yang melepas
Aku bilang, selamat jalan.

Pulau Punjung, 4 Agustus 2019
17.36 WIB

Minggu, 09 Juni 2019

Kau diawal Juni

Kita telah saling bicara sejak lama
sejak bulan-bulan sebelumnya

Tapi
diawal Juni yang datang sambil menggenggam hujan
cengkrama terasa berbeda

Kau begitu dekat
hangat

Dan rerinduan itu, tandas sudah
sebab nafasmu
tak lagi sekedar desah
kita sedang menghirup udara yang sama

Kamar, 9 Juni 2019

Rabu, 06 Maret 2019

Bagi kita

Mari berkasih sayang dengan semestinya
tak usah menyakiti siapapun
tak perlu mengorbankan hidup dalam sumpah serapah

Bila memang cinta bagi kita tak pernah sederhana
barangkali aku dan kamu harus mengubah arah
mencintai dengan saling menjauhi
sebab terkadang rasa sayang mesti dibawa menghilang

Bila memang cinta bagi kita tak pernah sederhana
mungkin aku dan kamu harus memisah langkah
saling mengupayakan pedih agar tak perih
sebab hidup lebih baik melepaskan daripada memaksakan

Bagi kita
barangkali tak ada rumah untuk pulang bersama
bertemu hanya untuk bertamu
dan pelukan berarti perpisahan

Kantor, 6 Maret 2019

Selasa, 26 Februari 2019

Hujan dipenghujung Februari

Pada hujan dipenghujung Februari
aku seperti dikutuk untuk tak bisa mengabaikan jejakmu
menangis
menuang air mata sejadi-jadinya
meronta
tapi tak bersuara

Februari yang basah dan segala titah kepedihannya
aku dipaksa pasrah terhujam kenanganmu
menangis
sesegukan
sementara pelukmu menertawakanku

Hujan dipenghujung Februari
yang enggan berpaling
waktu seperti tak bergerak
dan lukaku menganga semakin lama

Dharmasraya, 25 Februari 2019

Minggu, 24 Februari 2019

Cerpen : Lelaki Egois

Barangkali aku memang lelaki egois. Aku melabuhkan pilihan hidup pada seorang perempuan, dan itu bukan dia. Sementara disisi lain aku tak pernah sudi dia memiliki lelaki lain.

---

Dia perempuan pertama yang menjadi teman dekatku. Perempuan pertama yang mampu membuka ruang pergaulanku terhadap lawan jenis. Dan kupikir, dia adalah perempuan yang paling tahu aku selain Ibuku. Sebab itu aku bertekat untuk menjaga dan melindunginya.

Dulu aku merasa bahwa mengekang pergaulannya adalah cara melindunginya dari lelaki yang tidak tepat. Aku hanya berharap orang yang paling dekat denganku tak boleh tersakiti barang secuilpun. Oleh sebab itu aku menjadi selektif demi kebaikannya, pikirku. Meskipun dia tidak melakukan yang sebaliknya. Dia tidak pernah melarangku dekat dengan perempuan manapun. Dia bilang, aku bebas menentukan pilihan. Sebab dia percaya pilihanku adalah yang terbaik. Termasuk pilihanku perihal siapa lelaki yang layak mendekatinya.

Satu kali pernah aku membiarkan seorang lelaki  mendekatinya. Lelaki itu baik menurutku. Kupikir mereka pasti akan berbahagia. Dan sepertinya mereka benar-benar berbahagia. Namun, beberapa waktu kemudian aku berubah pikiran dan mengatakan bahwa ternyata aku salah. Lelaki itu tak pantas untuknya. Padahal kenyataan yang terjadi adalah munculnya perasaan  cemburu dan perasaan tak sudi jika dia dibahagiakan lelaki lain.

Aku tak ingin dia disakiti oleh siapapun, tapi justru aku yang melakukan itu. Sungguh aku benar-benar tega. Aku menarik tangannya ketika dia akan memasuki pintu kebahagiaan. Sementara dia, dia adalah orang yang selalu mendukungku untuk meraih segala kebahagiaan. Bahkan dia yang paling bahagia ketika aku memutuskan memilih perempuan lain sebagai teman hidupku.

Aku berharap bisa melepaskannya. Hanya saja rasa memilikiku terhadapnya terlalu besar. Aku menyayanginya, dan caraku salah. Aku memang lelaki egois. Ini bukan pembenaran. Tapi kebenaran. Dan kebenaran itu telah menyakiti dia.

Jumat, 22 Februari 2019

Langit menangis

Derai hujan sedang berbicara
Perihal langit yang sedang sedih
Irama-irama sesegukan semakin lantang
Menelisik malam yang kian larut

Bumi semakin kuyup
Bahkan sampai kepada lapis paling kerontang
Kesedihan langit memang dalam
Tanpa ampun menghujam semesta dengan derainya yang keras

Tak peduli hutan dan kehidupan yang kedinginan
Langit terus saja menangis
Seolah tak ada pertanda tentang usai

Langit sedang geram
Lewat udara, ia mencekam kehidupan
Gelegarnya seperti enggan untuk mereda
Sepertinya alam tak lagi akan tenang

Derai hujan kian lantang
Deras itu berteriak dengan nanar
Bahwa ia benar-benar sakit
Bahwa kali ini pedih akan sulit untuk pulih

Dharmasraya, 19 Februari 2019

Kamis, 10 Januari 2019

Cerpen : Ketika lelaki itu menangis

Sudah lebih tiga puluh menit kebisuan menyelimuti ruangan tempat kami duduk. Bersama seorang lelaki yang datang dengan perasaan kesal yang membuncah didadanya, aku terperangkap dalam hening yang entah sampai kapan. Aku mengatup rapat bibirku seraya menggenggam cangkir kopi yang sudah tak lagi hangat. Lelaki disampingku jauh lebih tenggelam lagi dalam bisu yang kaku. Jemari pada kedua tangannya saling mengatup diatas pangkuan. Tatapannya kosong dengan air mata yang berusaha ditahan agar tidak pecah. Aku tenang disampingnya, mendampinginya.
“Sakit sekali rasanya.” Akhirnya lelaki itu membuka suara memecah hening. Aku menoleh, menatap sisi samping wajahnya. Kulihat rahangnya mengeras. Perasaanku menjadi tak karuan. Aku penasaran.
Perlahan lelaki itu menoleh kearahku. Ia tak sanggup lagi membendung luapan tangisnya. Air mata yang membuncah itu akhirnya pecah. Tak ada lagi kalimat lain yang ia lontarkan. Tapi aku mengerti betapa ia baru saja terluka sangat dalam. Betapa ia sangat kesakitan.
Tentang lelaki itu, betapa aku memahaminya meski ia tak berbicara. Betapa aku mengerti segalanya hanya dengan melihat matanya. Sekarang giliranku. Berusaha tegar menyambutnya dalam pelukan. Tapi nyatanya aku tidak sanggup menahan tangisku ketika melihatnya basah dalam kesedihan. Kurangkul lelaki itu dalam sesegukan.
Beberapa waktu berlalu. Tangis kami mereda tapi diantara kami masih tanpa kata-kata. Lelaki itu sekarang membaringkan kepalanya dipangkuanku. Perlahan memejamkan mata mencoba beranjak menuju lupa. Meski sejenak saja, tapi setidaknya memberi lega. Kulihat dalam lelapnyapun ia masih dihujam luka. Kuusap kepalanya seraya menatap dalam kesedihannya.
Lelaki itu selalu menemukan kenyamanannya bersamaku, tapi justru menitipkan hatinya bersama perempuan lain.