Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU ": Desember 2013
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Minggu, 15 Desember 2013

Puisi Penulis Amatir

Ini curahan hati dari seorang penulis amatir
puisi aneh yang terangkai tiba-tiba ketika sekelumit resah mancibir mesra

Resah?
Yaa, resah yang  kemudian berteriak “ini rindu, ini rindu, ini rindu”
Lagi, resah berteriak “ini rindu, ini rindu, ini rindu”
Dan resah terus berteriak “kau rindu, kau rindu, kau rindu”

Rindu semacam apa ini?

Mencekam seganas tumor stadium akut,
membakar selahap api lahar gunung,
memeluk seerat akar melilit batang

Rindu seprti apa ini?

Menginspirasi terangkainya kalimat-kalimat sebodoh ini,
mengaduk-aduk otak dan benak sampai tercipta puisi seaneh ini,
membuat penulis amatir ini linglung langlang longlong

Resah kembali berteriak “ini rindu, ini rindu, ini rindu”
Terus berteriak “kau rindu, kau rindu, kau rindu”
Rinduku buntu.

Ini puisi si penulis amatir yang bertempur dengan rindunya

Sabtu, 14 Desember 2013

Kukembalikan Lagi Sepotong Hati Yang Pernah Kau Titipkan

Sebelumnya aku minta maaf padamu. Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung apalagi tidak menghargaimu. Ini keputusan yang sudah kupikirkan berjam-jam sebelum tidur, berhari-hari dalam mingguku bahkan menyita hampir seluruh bulan dalam tahunku.

Kukembalikan lagi sepotong hati yang pernah kau titipkan padaku dulu.

Ini demi kebaikan hati yang tak bersalah dan tak kan pernah salah. Bukankah egois itu tidak baik? Jika aku tetap memaksakan semuanya sesuai kehendakku, maka sepotong hati itu akan membusuk dalam dekapan yang tak kuacuhkan. Lagipula dulu kau hanya sekedar menitipkannya, bukan memberikannya. Bukankah sesuatu yang dititipkan memang harus diambil kembali?

Ambil kembali sepotong hati ini dan titipkan pada yang lain. Berikan pada ornag yang mampu melengkapinya menjadi hati yang utuh. Mengemasnya dalam pelukan penuh cinta. Merawatnya hingga menjadi hati yang berwarna merah muda.

Kukembalikan lagi sepotong hati yang pernah kau titipkan padaku dulu.

Ini pilihanku. Keputusanku. Semoga kau memahami ini sebagai harapan kebahagiaan untuk sepotong hati yang tak pernah salah yang kau miliki. Kau memang akan terluka. Tapi luka ini adalah luka yang manis yang kelak akan membuatmu berterima kasih padaku karena telah mengembalikan sepotong hati itu.

Minggu, 08 Desember 2013

Hanya sampai kau mati



Aku akan mencintaimu sampai kau mati sayang
Benarkah?
Yaa sayang, ini janjiku sampai kau mati
Lalu, bagaimana setelah aku mati?
Entahlah
Kenapa?
Aku tidak bisa manjanjikan apa-apa sayang
Maksudmu?
Karena Tuhan maha membolak-balikkan perasaan manusia sayang.…


Mr. A , cinta monyet yang terlupakan



“Si Yuma kakaknyo Arel nan karajo di Jambi Waras dulu tu ha…”
Demikian sepenggal percakapan ibu-ibu kadai yang aku dengar saat baru pulang kantor sore itu yang membuatku tiba-tiba tersentak dan memoriku berbalik kemasa beberapa waktu silam.

Yaa, nama itu. Aku masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas. Mr. A, pria hitam manis yang sempat ada dalam beberapa episode masa remajaku. Lalu, kapan kisah tentang pria itu bermula dan kapan berakhir? Entahlah, mungkin sekitar lima, enam, atau tujuh tahun yang lalu. Aku tak mampu mengingat yang satu ini dengan baik. Tapi aku masih bisa menceritakan sedikit tentang pria itu. Bagian yang tidak mungkin aku lupa seperti namanya.

Sebut saja cerita ini terjadi “ketika itu” karena seperti aku bilang tadi aku tak ingat jelas kapan persisnya. Mr. A adalah salah satu dari sekumpulan pemuda yang sering nangkring di kadai depan rumah. Dia yang paling pendiam diantara kelompok itu. Tak hanya itu, dia juga yang paling tampan mungkin. Lalu, apa hubungannya pemuda kadai denganku? Itulah yang aku katakan tak mungkin aku lupa. Singkatnya, pemuda itu sempat menaruh hati padaku.

Bagaimana mungkin? Mungkin saja, mungkin rasa suka itu berawal dari sekedar mengajariku teori mengendarai motor kopleng atau ketika aku minta diajarkan bermain gitar. “Ketika itu” aku masih ingusan -menurutku- dan tak terlalu tertarik dengan sesuatu seserius itu. Aku mengabaikannya. Aku tak menanggapinya dan membuat pemuda itu menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Wajah yang tertunduk malu, yaa aku ingat benar. Bahkan beberapa hari aku sempat tak melihatnya bersama prkumpulan partai kadainya. 

Ahh, mengingatnya membuatku merasa bersalah. Tapi semoga aku tak sekejam yang aku pikir.

Kemudian, cerita itu redam bersamaan dengan Mr. A yang perlahan menghilang. Seperti janjinya yang tersirat untukku bahwa tak ada alasan baginya untuk tidak memilih kota lain “ketika itu” sebagai tempat peraduannya. Seiiring dengan itu –kalau tak salah- akupun memulai cerita baru di kota baru -masa kuliah-.

Sekitar awal masa kuliah, itupun kalau aku tidak salah mengingat. Kabar pertama setelah cerita itu meredam yang kuterima adalah Mr. A menikah dengan gadis keturunan jawa di Kabupaten tetangga dan menetap disana. Aku hanya terawa  mendengar kabar itu membayangkan seperti apa pembawaan  istrinya. Keibuan mungkin atau sedikit pemalu dan kemayu, atau seorang pesolek tangguh. Tapi semoga saja bukan seseorang yang judes.

Berselang beberapa bulan atau setahunan barangkali aku kembali tanpa sengaja mendengar kabar tentang pria itu dari temannya yang kebetulan menelfonku. Kali ini aku tidak tertawa mendengar kabarnya melainkan kaget setengah mati. Keterkejutan yang luar biasa seperti disambar sesuatu yang keras tepat dipangkal telinga lalu mendesirkan darah disekujur nadi. Mr. A meninggal dunia sekitar dua bulan yang lalu akibat sebuah kecelakaan. Yaaa Tuhan, yang ku ingat telapak tanganku memucat waktu mendengar kabar itu. Tentu saja, ini jauh dari bayangan logika, takdir ini terlalu cepat pikirku.

Tak satupun yang bisa menafsirkan, membaca, ataupun menduga-duga takdir yang digariskan Tuhan. Termasuk pemuda itu. Ia bahkan belum sempat bertemu calon bayinya yang lahir tepat di 100 hari kepergiannya. Bagian ini yang membuat mengenangnya menyisakan pilu. Dan aku lebih miris dari itu, tak tahu apapun bahkan persemayaman terakhirnya. Tidakkah aku hendak menabur bunga dihadapan nisannya? Entahlah.

Aku hampir meneteskan air mata mengenangnya. Mengingat lagu “puisi” milik Jikustik yang sering ia lantunkan untukku “ketika itu”.

***

--- teruntuk Mr. A yang pernah kukenal baik, kukabarkan kepadamu bahwa kudengar dari cerita ibu-ibu kadai anakmu seorang gadis kecil yang lucu. Tapi aku tak tahu persis berapa usianya sekarang. Putrimu baik-baik saja bersama ibunya. Peri kecilmu itu akan segera mendapatkan ayah baru. Dia akan semakin bahagia.Tapi kau adalah ayah yang tidak akan pernah mungkin tergantikan. Meskipun kau dan peri kecilmu belum pernah bertemu, aku percaya Tuhan kelak akan mempertemukan kalian dengan alur yang indah. Adakah dari surga kau melihatnya? Kalau begitu, kau yang harus menceritakan tentang putri kecil itu padaku.
Pria yang sempat terlupakan yang rupamu tak mampu lagi aku lukiskan. Maafkan aku untuk lupa ini. Maaf untuk ketidakpedulian yang sangat keterlaluan. Hanya lewat tulisan ini aku mengenangmu…---

“mengenang Arel Riskian Putra”