Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU ": Oktober 2015
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Kamis, 15 Oktober 2015

Dia Tak Perlu Tahu

Dia suka pada hujan
Aku senang menemaninya berdiam dihadapan hujan karena saat itu dia akan kerap tersenyum
Aku suka senyumnya, tapi dia tak tahu

Dia senang memandangi sunset
Aku sering menemaninya meneguk cappucino sore ditepian pantai
Aku bahagia didekatnya, tapi dia tak tahu

Dia hobi membaca
Aku selalu diajaknya menjaja toko buku, perpustakaan, ataupun pasar loak
Aku tenggelam dalam dunianya, tapi dia tak tahu

Dia sering melamun
Aku acap kali menemukannya tengah menatap kosong
Aku kerap hampir mati dikedalaman matanya, tapi dia tak tahu

Dia diam-diam menaruh hati pada kakak kelas anak guru matematika
Aku setiap hari mendengar ceritanya cintanya yang klasik
Aku yang mencintainya, tapi dia tidak tahu

Dan dia tak perlu tahu
Tak ada yang perlu dia tahu

Selamat pagi Padang,
06.34 WIB

Rabu, 14 Oktober 2015

Menerka ; Kita

Kita yang koyak dihadapan sepi
Masih menerka masa dapan
Kau dengannya ataukah kita yang bersama
Kita yang tetap mengapung pada ada yang hilang

Telah kita ramu darat dan laut menjadi dunia kita
Aku dengan hujanku dan kau dengan kopimu
Kita adalah satu yang sulit menyatu
Meski kerap melumat manis bersama
Masih meraba keyakinan tentang cinta yang terkadang hambar

Untuk sekian masa yang membentang sebelum dan sesudahnya
Semogakanlah kita
Kumohon.

Selasa, 13 Oktober 2015

Kepada (yang akan menjadi) Lelakiku

Pikirkanlah lagi jika kau memilih aku sebagai labuhan akhirmu.

Sebab pada diriku tak akan kau dapatkan cinta yang sesempurna dunia. Aku hanya akan memberimu cinta yang sederhana. Cinta yang akan aku hidangkan setiap hari, yang menyambutmu saat membuka mata dan mengantarmu sebelum lelap dipenghujung malam. Cinta yang seadanya, tidak kurang dan tidak pula lebih.

Pikirkanlah lagi jika kau ingin memberikan hatimu padaku.

Sebab aku tak punya ruang yang luas untuk menampung hati yang berlimpah kasih sayang. Ruang hatiku sudah kubagi-bagi. Sebagian untuk Tuhanku, sebagian untuk orang tuaku, dan hanya sebagian untuk calon imamku dan kelak juga harus kubagi lagi dengan anak-anakku. Kau tak bisa memiliki ruang hatiku sepenuhnya.

Pikirkanlah lagi jika kau menghendaki pendamping seperti aku.

Sebab aku tak rupawan, jenius, pun kaya raya. Kau hanya akan mendapatkan aku yang bermuka polos tanpa riasan, yang akan membimbing anak-anakmu dengan pengetahuan yang cukup dan warisan kerendahan hati dari orang tuaku.

Pikirkanlah lagi jika tetap akan memintaku menerimamu. Karena kelak aku yang akan kau temui setiap hari tanpa bisa mengatakan bosan, yang akan kau bawa kemasa depan tanpa mungkin untuk kembali kemasa lalu, yang harus kau terima setiap ketidaksempurnaannya.

Pikirkanlah lagi...!