Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU "
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Minggu, 10 Mei 2020

Besok, Arum Menikah

Arum   :
Insyaallah ijab qabulnya besok jam 10         12.01
Do’ain lancar yaa Bran                                     12.02

Ibran menatap ulang dua baris pesan singkat yang dikirim Arum sekitar dua jam yang lalu. Telepon genggam benar-benar menunjukkan kodratnya dengan terus-menerus takhluk dalam dekapan tangan kiri Ibran. Sementara di tangan kanannya, terselip dua sebatang rokok yang tak kunjung menemukan api.
Sudah dua jam Ibran duduk di ujung ranjang. Menatap ulang dua baris pesan singkat yang dikirim Arum. Ia tak juga beranjak. Sesekali ia memutar pandangan ke depan, ke atas, ke bawah tapi tidak ke samping. Entah mengapa. Barangkali ia sungkan memastikan bahwa tak akan pernah ada Arum di sampingnya. Di sisinya.
Lagi. Ibran melihat layar ponsel. Menatap ulang dua baris pesan singkat yang dikirim Arum sekitar lebih dari dua jam yang lalu. Ia tidak haus, tidak lapar, tidak mengantuk, tidak pula bosan. Padahal sekarang pukul dua siang. Ujung rokok yang bertumpu di celah jari telunjuk dan jari tengahnya sudah mulai lembab. Ibran masih duduk bergeming.
Besok, Arum menikah. Ibran sudah tahu jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi dua baris pesan singkat yang dikirim Arum itu adalah pamungkas. Pemberitahuan, pengumuman, penegasan, ultimatum. Bagi Ibran, dua baris pesan singkat yang dikirim Arum itu adalah kabar duka. Berita buruk, pesan pilu, patah hati, kehancuran.

Ibran   :
Aku datang besok                                           14.19
Jemput kamu                                                  14.19

Tangan kanan Ibran akhirnya menyentuh layar telepon genggam. Dua batang rokok jatuh begitu saja. Pesan terkirim. Ia menarik nafas panjang. Bergeser kearah kepala ranjang. Menyentuh botol air mineral di nakas. Meneguk air yang masih setengah botol. Habis. Ibran kembali sibuk dengan si telepon genggam. Ia tidak lapar, tidak mengantuk, tidak bosan.

Arum   :
Gak perlu                                                        14.22
Jangan datang                                                14.22

Ibran   :
Aku bisa saja mati sekarang                          14.23

Arum   :
Kamu akan baik-baik saja                             14.25

Ibran   :
Aku datang besok                                           14.25
Jemput kamu                                                  14.26

Arum   :
Jangan                                                                        14.28
Aku bisa saja mati besok                                14.28

Ibran   :
Kita mati sama-sama besok                          14.29

Arum   :
Kamu gak akan ketemu aku besok               14.35

Ibran   :
Kenapa?                                                          14.36
Kamu mau usir aku besok?                           14.36

Arum   :
Aku mati sekarang                                         14.55

Ibran   :
Apa maksudmu?                                             14.55

Ibran   :
Arum… apa maksudmu?                               14.57

Ibran   :
Arum…                                                            14.59

Ibran   :
Arum…                                                            15.11

Ibran   :
Arum Athallia Hermawan                             15.17
…………………………………..                                15.17

Ibran   :
Aruuuuuummmmm                                      15.35

Ibran   :
Arum…                                                            16.02
Apa kamu benar-benar mati?                       16.02

Ibran   :
Baiklah                                                           16.20
Kita mati sama-sama                                     16.20

Arum   :
Insyaallah ijab qabulnya besok jam 10         16.54
Jangan datang Bran!                                     16.54

Arum   :
Bran …                                                            17.02

Arum   :
Ibraaannn                                                      20.30

Arum   :
Ibran Permana….                                           22.31
Heiiii…………….                                                22.31

Arum   :
Bran                                                                02.16

Arum   :
Braaan                                                            05.10

Arum   :
Bran                                                                09.35
Insyaallah ijab qabulnya jam 10                    09.35
Kamu gak datang Bran?                               09.36

Arum   :
Ibran                                                               09.50

Arum   :
Bran                                                                10.20
Aku udah jadi istrinya                                   10.20
Jangan pernah datang                                   10.21
Aku bisa saja mati kalau kamu datang        10.21



Rumah, 20 April 2020. 10.27 WIB
Ditengah WFH akibat Pandemi Covid-19

*Percakapan lewat pesan terinspirasi dari Cerpen “SMS” milik Djenar Maesa Ayu

Sabtu, 09 Mei 2020

Agustus

Tujuh tahun lalu Agustus berpamitan
Dia bilang bahwa
dia hendak menemui cita-cita
Agustus meninggalkanku sambil tersenyum

Setahun setelah pamitnya waktu itu
Dia datang
Menemuiku
Meski cuma sebentar
Aku senang
Setelahnya, dia pamit lagi
Mau menemui kesuksesan, katanya
Agustus meninggalkanku sambil tersenyum

Sudah enam tahun berlalu
sejak pamitnya yang kedua
Agustus tak pernah menemuiku lagi
Memang, dia tak pernah menjanjikan datang
Tapi lucunya aku menunggu

Acap kudengar ia pulang
Menjejak sejenak halaman rindu
dalam dekapan ibundanya
Menyapa kenangan masa kecil
dan bertukar cerita tentang birunya langit ibukota
Tapi Agustus tak pernah menemuiku lagi

Sekali aku terima pesan yang ia titipkan
lewat parsel Ramadhan
Sekotak coklat, sekaleng biskuit dan dua botol sirup Marjan
Sepucuk kartu ucapan bertuliskan basa basi
dibungkus rapi oleh harapan

Aku cicipi coklat yang dibalut kotak kuning pucat
Manisnya melekat
Pesannya kudapat
dan Agustus berkata
agar aku tak menunggunya

Demikian,
Agustus pamit untuk ketiga kalinya
Agustus meninggalkanku tanpa ada lagi senyum


Rumah, 9 Mei 2020. 20.13 WIB

Senin, 20 April 2020

Dialah


Adalah matanya
yang menatap lembut pada setiap pagiku
Adalah senyumnya
yang mengalir dari hulu hingga muara pandanganku
Adalah belainya
yang menyelimuti lelap hingga terjaga

Adalah rindu
yang ditinggalkannya ketika jauh
Adalah harap
yang kudekap dalam tunggu tanpa  tentu
Adalah juang
yang menantinya untuk pulang
Adalah kenangan
yang menjadi hujan diujung hari-hari pengabaian
Adalah cerita
yang menikam sisa masa dan usia

Dialah cinta pertamaku
Dialah luka pertamaku

Dialah yang pergi
yang menghilang di peraduan juang dan kasih sayang
yang enggan untuk menemukan jalan pulang

Dialah cinta pertamaku
Dialah luka pertamaku

Dialah ingat yang paling lekat
yang menyusuri memori dan jantung hati
yang merenggut rasa dan logika

Dialah cinta pertamaku
Dialah luka pertamaku

Dialah jatuh cinta sekaligus patah hati terakhirku


Rumah, 19 April 2020. 10.36 WIB

Selasa, 31 Desember 2019

Terima kasih 2019

Mari berterimakasih kepada 365 hari yang luar biasa dalam tahun ini. Masa dimana pikiran semakin bijaksana menerima segala rencana terlaksana ataupun tertunda.

Mari berterimakasih untuk setiap kesulitan, kehilangan, keterpurukan, kegagalan dan segala bentuk kejadian yang tak sesuai dengan harapan.

Tahun 2020 bukan berarti semua harus dipaksa berubah atau diubah. Tapi mengupayakan segala sesuatu agar lebih baik. Penerimaan atas sebuah ketidakberhasilan bisa berarti sesuatu yang lebih baik. Sebab dalam hidup ada beberapa hal yang mesti dihentikan, dilepaskan dan diikhlaskan.

Mari berterimakasih kepada 2019 dengan segala pelajaran yang diberikan. Dan terimakasih kepada diri sendiri yang sudah mau berjuang untuk segala pencapaian dan bertahan atas setiap tekanan. 😊

Selasa, 17 Desember 2019

Seharusnya

Seharusnya dulu aku berani
Mengatakan bahwa aku sayang
Tapi aku justru hanya memberikan isyarat
Mengharapkan kau mampu mengartikan sikap tingkahku
Seharusnya aku menyadari
Bahwa kau bukan peramal

Kamar, 21.40 WIB
Menjelang mencuci kaki sebelum tidur

Selasa, 10 September 2019

Cerpen : Misteri Sang Fajar


“Aku mau ke kedai Bang Cai sebentar.”
Fajar beranjak dari hadapanku. Tak dipedulikannya aku hendak menjawab, mengangguk ataupun menggeleng. Sejak pemuda itu datang dan ikut menambah sesak isi tempat tinggalku yang sempit ini, tak bisa aku katakan bahwa ia adalah seseorang yang penuh sopan santun. Padahal jika ingin menghitung budi, sepatutnya ia tunduk padaku. Dia tak mungkin lupa bagaimana ia bisa hidup dan bertahan di negeri yang penuh kejutan ini, dia makan dari hasil keringatku.
Tapi jika dipikir-pikir benar, Fajar tidak pernah pula berlaku kurang ajar. Pemuda itu memang kaku, tak pernah senyum apalagi tertawa. Dia terkesan kasar, arogan dan mengerikan dengan garis wajah keras yang ia miliki. Tubuhnya tinggi besar seperti bodyguard di film-film, membuatnya semakin terlihat garang.
Sejak menemukan Fajar, aku tidak pernah bicara banyak hal dengannya. Pemuda itu memendam banyak misteri asal-usul adan masa lalunya. Kami hanya terlibat percakapan bila salah satu dari kami akan pergi ke luar. Itupun rasanya tak layak disebut sebagai percakapan karena tak ada saling sahut diantara kami. Pernah beberapa kali aku bertanya apa kebutuhannya yang perlu aku belikan. Fajar selalu saja menjawab dengan dua kata “nggak usah.” Acap kali menerima jawaban serupa aku memilih tak lagi bertanya dan lebih berinisiatif membelikan apapapun yang kurasa ia butuhkan. Beberapa lembar pakaian ganti, pisau cukur, bahkan celana dalam. Sesekali aku tinggalkan dua atau tiga lembar uang lima puluh ribu di atas meja makan. Entah ia akan belikan rokok atau untuk sekedar ngopi di kedai Bang Cai. Fajar memang tidak pernah meminta apapun tapi ia juga tak menolak apapun yang aku sediakan.
Aku menemukan tubuh jangkung Fajar di perempatan tidak jauh dari tempatku tinggal persis ketika fajar hendak menyingsing pagi itu. Ketika itu kupikir aku menemukan sesosok mayat. Bergegas aku berlalari ke kedai Bang Cai yang buka 24 jam. Para lelaki yang biasa nongkrong baru saja bubar dan Bang Cai hendak  mencoba untuk tidur. Melihat aku yang tegopoh-gopoh, tanpa pikir panjang Bang Cai meninggalkan istrinya di kedai dan mengikuti petunjukku.
“Masih hidup.” Kata Bang Cai setelah meletakkan telunjuk di bawah lubang hidung lelaki yang tergeletak itu. Aku memperhatikan, tidak tahu harus merespon apa. Tanganku mendekap sepasang sepatu beludru warna biru bertumit 9 cm yang tadi aku pakai sebelum berlari menuju kedai Bang Cai.
Dibantu seorang pemulung yang sedang berada disekitar kami, Bang Cai membopong tubuh besar  itu menuju kedainya. Aku mengikuti dari belakang. Tubuh layu itu sangat kumal dan agak sedikit bau. Sepertinya sudah beberapa hari tak terjamah air atau sekedar dibersihkan dengan kain basah. Wajah pemuda itu tidak begitu terlihat jelas, brewok dan kumis yang tidak terurus mendominasi permukaan wajahnya. Ia lebih tampak seperti orang gila tapi pakaian yang dikenakannya sama sekali tidak compang-camping dan berlapis-lapis seperti kebanyakan orang gila yang berkeliaran.
Istri Bang Cai menyediakan handuk kecil dan air hangat untuk sedikit membersihkan wajah lusuh itu. Bibirnya benar-benar pucat pasi dan suhu tubuhnya panas tinggi. Butuh waktu hampir tiga jam sampai sosok itu sadar dari pingsannya. Padahal kami sudah hendak membawanya ke rumah sakit menumpang angkot salah seorang pelanggan kedai Bang Cai.
“Jangan ke rumah sakit.” Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut pemuda berkulit sawo matang itu. Aku, Bang Cai dan istrinya saling menatap.
“Siapa namamu?” Tanya Bang Cai, tapi pria itu bergeming. Pandangannya kosong ke langit-langit kedai Bang Cai yang sempit.
“Kalau dia tidak mau ke rumah sakit, kita tetap harus pindahkan dia dari sini. Sebentar lagi warung ini makin banyak pengunjung. Tidak nyaman untuk seseorang yang sedang sakit.” Bang Cai memandang kearahku. Dibelakangku berdiri seorang supir angkot dan seorang keneknya.
Pria itu bangkit dari pembaringannya. “Aku akan pergi.” Kami yang ada di situ hanya memperhatikan. Ia beranjak keluar dari kedai dan sejenak duduk di bangku depan memegang kepalanya seperti menahan rasa sakit. Tak seorangpun dari kami bicara lagi sampai akhirnya tubuh besar itu ambruk lagi pada langkah ketiga ketika hendak meninggalkan kedai.
Kami menyimpulkan untuk membawa tubuh yang pingsan tak berdaya itu ke tempat tinggalku sebab tak  ada lagi tempat yang bisa dianggap nyaman untuk sementara waktu. Sang supir angkot atau keneknya tak bersedia menampung. Sedang Bang Cai dan istri tak memungkinkan merawatnya lebih lama karena kedai sekaligus tempat tinggal mereka hanya ada satu kamar. Lagi pula kedai itu sudah sesak dengan peralatan rumah tangga  dan barang dagangan yang berhimpitan.
Meski harus bersusah payah menaiki bangunan empat lantai hingga mencapai balkon paling puncak di bangunan itu, Bang Cai dan supir angkot beserta keneknya tak punya pilihan lain. Akhirnya kami berhasil membawa tubuh tak berdaya itu ke tempatku bermukim. Sapetak bangunan kecil menghadap ke arah timur yang hanya memiliki tiga bagian ruang yang di sekat. Salah satu bagian aku jadikan kamar dan diberi gorden sebagai penutup. Sisi paling kanan adalah dapur dan bagian tengah adalah ruang yang terpampang langsung ketika membuka pintu. Sementara kamar mandi ada di lantai bawah.
Tempat tinggalku adalah di bagian paling atas dari sebuah rumah susun yang tidak begitu terurus. Sengaja aku membujuk pemiliknya supaya menyewakan sepetak ruang yang ada di loteng atas dengan harga murah. Awalnya itu adalah gudang, kemudian aku menawarkan diri untuk membarsihkannya. Selain mendapat harga murah aku juga mendapat ketenangan tinggal di sini. Aku tidak harus mendengar suara-suara gaduh dari kamar tetangga. Suara pertengkaran suami-istri, suara bayi merengek atau suara desahan pasangan kumpul kebo yang sedang berkencan.
Sepeninggal Bang Cai, sopir angkot dan keneknya aku membenahi  tubuh tak berdaya yang tergeletak di ruang tengah. Aku membuka jaket hitam lusuh dan kaos kumal yang dikenakan pemuda itu. Aku temukan beberapa luka lebam di punggung dan dadanya. Rangka tubuhnya memang besar, tapi sebenarnya pemuda itu tergolong kurus. Aku mengelap tubuh itu dengan handuk yang direndam air hangat kemudian mengompresnya dan kuberi ia selimut.
Aku beranjak tidur karena benar-benar mengantuk. Di samping pemuda itu aku tinggalkan sehelai baju kaos milik teman priaku yang tertinggal entah kapan dan sepiring nasi goreng lengakap dengan sebotol air mineral. Berharap ketika ia terbangun ia mengerti maksudku.
Ketika aku terbangun, matahari sudah beranjak turun, aku temukan piring bekas nasi goreng yang sudah kosong. Aku beranjak ke luar dan aku melihat pemuda itu duduk termenung di ujung loteng. Aku menghampirinya.
“Kamu udah sadar?” kataku berbasa-basi.
Pemuda itu menoleh kearahku. Tatapannya tajam, bola matanya hitam pekat semakin membuatnya terlihat sangar. “Izinkan aku tinggal sedikit  lebih lama lagi disini. Setidaknya sampai aku benar-benar pulih.”
Aku terpaku menatapnya balik. Aku membaca kesungguhan di balik tatapan itu. Pemuda itu sungguh sedang memohon dengan cara yang dingin. “Kasih aku alasan kenapa aku harus bilang ya!”
Saat itulah pemuda bertubuh tinggi besar itu menceritakan sedikit tentangnya. Ia adalah buronan yang melarikan diri dari penjara. Seorang narapidana kasus pemerkosaan terhadap adik sahabatnya sendiri. Ia tidak mengakui tuduhan pemerkosaan itu tapi semua bukti menunjukkan bahwa ia bersalah. Termasuk kesaksian korban. Ketika kejadian ia mengaku sedang mabuk berat, tapi ia sangat yakin bahwa ia tidak melakukan pemerkosaan.
Pemuda yang menolak semua tuduhan tapi terbukti bersalah, dijatuhi hukuman dua belas tahun penjara. Belum lagi hukuman kebencian dari seluruh orang di kampungnya. Keluarganya menolak mengakuinya sejak ia ditangkap polisi. Sahabat baiknya yang selama ini sudah seperti saudara menyumpah serapahinya karena  kasus yang menimpa sang adik bahkan membuat ibu mereka yang seorang janda terserang stroke. Ia benar-benar tidak diterima dan dibuang dari lingkungannya.
Menjalankan hukuman penjara baginya hanya pembenaran terhadap semua tuduhan yang dijatuhkan kepadanya. Ia tetap yakin bahwa ia tidak memperkosa siapapun. Apalagi itu adik sahabatnya yang sudah seperti adiknya sendiri. Ia meyakini bahwa ada yang sengaja menjebaknya. Tapi siapa yang percaya dengan kesaksian orang mabuk. Bahkan akupun yang mendengar merasa sanksi. Hanya saja aku tak punya pilihan lain selain mempercayainya sebab jika ia ingin berbohong atau mengarang cerita dia bisa saja mengatakan bahwa dia adalah orang kampung yang dijebak dan tertipu ketika pertama kali datang ke kota lalu dengan mudah mampu membuatku luluh. Alih-alih mengatakan bahwa ia adalah seorang buronan yang justru jelas-jelas membuatku merasa tak nyaman.
Cerita singkat itu seketika membuatku percaya begitu saja padanya. Tak ada sedikitpun rasa curiga atau kecemasan bahwa bisa saja ia melakukan sesuatu yang buruk.  Aku menerimanya tinggal bersamaku. Barangkali aku dibuat tersentuh karena dari ceritanya itu dapat diartikan bahwa kami sama-sama orang terbuang yang masih berusaha untuk melanjutkan hidup dengan cara apapun. Ia memilih menjadi buronan sebagai bentuk penolakan terhadap tuduhan yang limpahkan padanya, sementara aku memilih bersuka cita dengan dunia malam dan memberi makan seorang buronan dengan pengahasilanku. Manusia memang kerap terperangkap pada pilihan yang salah. Tapi tidak ada jaminan pilihan yang salah akan membuat seseorang terus-menerus salah seumur hidupnya.
“Panggil aku Fajar.” Katanya dipenghujung cerita sore itu. Entah nama itu benar atau hanya sekedar sebutan agar aku mudah memanggilnya. Sekali lagi aku sanksi tapi tetap mempercayai ucapannya. Aku tak peduli pemuda itu benar-benar bernama Fajar atau pemuda yang hanya saja harus kupanggil Fajar. Masa depan memang misteri Tuhan, namun masa lalu adalah misteri dari pemiliknya.


- selesai -

Senin, 05 Agustus 2019

Sore Terakhir Bulan Juli

Disore terakhir bulan Juli lalu
Kau berdiri di hadapanku
Kita saling menatap
Tapi tak kunjung saling berucap

Petang perlahan hilang
Juli telah meredup
Akhirnya kau bicara
Mari pulang! Katamu

Hmm. Gumamku
Lalu kau berbalik
Langkahmu menjauh
Aku masih berdiri dan kau enggan berbalik

Disore terakhir bulan Juli
Pada jejak langkahmu aku mendengar
Kau bilang, aku pergi!
Dan pada desah nafas yang melepas
Aku bilang, selamat jalan.

Pulau Punjung, 4 Agustus 2019
17.36 WIB