Barangkali aku memang lelaki egois. Aku melabuhkan pilihan hidup pada seorang perempuan, dan itu bukan dia. Sementara disisi lain aku tak pernah sudi dia memiliki lelaki lain.
---
Dia perempuan pertama yang menjadi teman dekatku. Perempuan pertama yang mampu membuka ruang pergaulanku terhadap lawan jenis. Dan kupikir, dia adalah perempuan yang paling tahu aku selain Ibuku. Sebab itu aku bertekat untuk menjaga dan melindunginya.
Dulu aku merasa bahwa mengekang pergaulannya adalah cara melindunginya dari lelaki yang tidak tepat. Aku hanya berharap orang yang paling dekat denganku tak boleh tersakiti barang secuilpun. Oleh sebab itu aku menjadi selektif demi kebaikannya, pikirku. Meskipun dia tidak melakukan yang sebaliknya. Dia tidak pernah melarangku dekat dengan perempuan manapun. Dia bilang, aku bebas menentukan pilihan. Sebab dia percaya pilihanku adalah yang terbaik. Termasuk pilihanku perihal siapa lelaki yang layak mendekatinya.
Satu kali pernah aku membiarkan seorang lelaki mendekatinya. Lelaki itu baik menurutku. Kupikir mereka pasti akan berbahagia. Dan sepertinya mereka benar-benar berbahagia. Namun, beberapa waktu kemudian aku berubah pikiran dan mengatakan bahwa ternyata aku salah. Lelaki itu tak pantas untuknya. Padahal kenyataan yang terjadi adalah munculnya perasaan cemburu dan perasaan tak sudi jika dia dibahagiakan lelaki lain.
Aku tak ingin dia disakiti oleh siapapun, tapi justru aku yang melakukan itu. Sungguh aku benar-benar tega. Aku menarik tangannya ketika dia akan memasuki pintu kebahagiaan. Sementara dia, dia adalah orang yang selalu mendukungku untuk meraih segala kebahagiaan. Bahkan dia yang paling bahagia ketika aku memutuskan memilih perempuan lain sebagai teman hidupku.
Aku berharap bisa melepaskannya. Hanya saja rasa memilikiku terhadapnya terlalu besar. Aku menyayanginya, dan caraku salah. Aku memang lelaki egois. Ini bukan pembenaran. Tapi kebenaran. Dan kebenaran itu telah menyakiti dia.