Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU ": September 2014
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Senin, 15 September 2014

Berkatalah, HATI


Hari ini Tuhan menginginkanku untuk mengenangmu
Dalam rasa dan raga yang terpatri pada satu titik
Membiarkan memori berputar-putar pada masa yang aneh
Menjadikan kaku setiap senyum hingga patah dalam lamunan

Hari ini Tuhan menginginkanku berdiam
Memaksa rindu menikam ruang-ruang  tanpa jendela
Menenggelamkan tangis dibalik kelu
Hingga tak lagi ada yang benar-benar kosong
Dan pada akhirnya logika betul-betul mati rasa

Jumat, 05 September 2014

Surat untuk 9 tahun “TOXIC”

Kepada tujuh dara cantik yang memanggilku “Ketua”.

Hey dear,
Kita bertemu lagi dengan 5 September. Ini 5 September yang Ke-sembilan sejak ikrar lucu di Pasar malam tahun 2005. Sejak itu kita sepakat menyebut kebersamaan ini dengan Toxic. Entah dari mana kesepakatan itu muncul. Aku bahkan juga tidak bisa mengingat jelas asal-muasal kata Toxic Fren’s menjadi pilihan kita. Yang jelas aku bahagia menjadi bagian dari kalian yang waktu itu ‘katanya’ cewek-cewek populer di sekolahan. Hahahaha!
Hmmmm,,, 9 tahun guys. Itu bukan waktu yang sebentar. Kita sudah melewatkan kurang lebih 3.285 hari untuk persahabatan yang ’kece’ ini. Gila! Tahun depan Toxic sudah satu dekade. Artis aja gag nyampe 9 tahun udah banyak yang cerai. Hihihi. Yaaa, walaupun Nursiti udah lebih dulu ninggalin perkumpulan lajang ini tapi itu bukan berarti kita cerai. Yaa kan??
Diluar dari kisah ini aku memang punya temen-teman dan kehidupan lain, tapi menjadi bagian dari kalian adalah sebuah kebanggaan. Khusus buat Icha, Rita, Yolla, Ve, Lusy dan Cici, 6 sarjana ‘keren’ yang sudah membuktikan kalau nge-gank itu tidak selalu berdampak negatif. Dan aku Hanna Citra Utami TB merasa cewek paling beruntung telah dipilih jadi ‘Ketua’ dalam kebersamaan yang luar biasa ini.
Tidak cukup satu atau dua paragaraf untuk menceritakan tentang kalian. Terlalu banyak kisah lucu, senang, sedih, suka, duka, tertawa, menangis, yang selalu manis ketika diceritakan kembali. Bahkan kita tak punya cukup waktu bersama untuk mengenang histori yang panjang ini.
Ada banyak karakter yang kita satukan didalam Toxic. Yolla yang cuek dan angker  yang berbanding terbalik dengan fatnernya Venny yang centil dan aneh. Toxic juga punya Rita yang baik hati yang kalau bicara bisa lebih cepat dari laju motor balap Valentino Rossi. Lalu yang aku suka adalah lelucon menyebut Icha tengkorak, tower, orang-orangan sawah, kutilang dara, dan lain sebagainya. Tapi aku akui dia yang paling cerdas, sibungsu yang paling duluan jadi “Master”. Selamaaat! Disisi lain Toxic juga ada Lusy yang tulalit tapi jago jadi mak comblang, ada Cici si jago tari yang hobi pacaran tapi setia. Oh ya, Nursiti juga masih bagian dari Toxic meskipun si Jawa tulen ini sudah menjadi Ibu satu anak. Dan aku..... Entahlah!
My guys, memiliki sahabat seperti kalian adalah keberuntungan yang membuat banyak orang iri. Waktu bersama kalian terlalu indah untuk sekedar dibiarkan berlalu kemudian dilupakan. Aku masih berharap cita-cita traveling kita bisa terwujud tahun ini ataupun sebelum satu diantara kita mengakhiri masa lajangnya (kecuali Nursiti).
Toxic sayangku.... tetaplah kalian menjadi sahabatku yang selalu mengingat setiap 13 November untukku. Jangan pernah berubah dengan kehebohan setiap kali kalian pulang dari rantau. Teruslah membuatku bangga karena pernah mengenal kalian. Jikapun nanti perlahan-lahan diantara kita menempuh hidup baru, tetaplah menjadikan aku dan Toxic orang yang paling sibuk dan bahagia. Jangan pernah melupakan Dharmasraya dengan segala sejarahnya tentang kita.
Kepada tujuh dara cantik yang memanggilku “Ketua”, happy aniversary Toxic. Happy Toxic’s day. Semoga aku dan kalian tetap menjadi kebersamaan tanpa batas. Suatu saat nanti aku akan dengan bangga menceritakan tentang kalian kepada anak dan cucuku.


Sungai Rumbai, 5 September 2014

Kamis, 04 September 2014

Bukanlah Cinta

Mengingatmu dibalik lipatan malam yang menggulung sunyi tanpa kata
Lewat gurat angin yang menepis pipi merah muda
Ada sebuah nama dengan sebait cerita
Cerita yang tak bisa disebut cinta

Tatapan kita pernah bertemu pada satu titik dengan detik yang terhenti
Membias gatar serupa remaja jatuh cinta
Menepis sangka yang ragu memanggil mesra
Tapi sekali lagi kukatakan bahwa ini bukan cinta
Karena restu langit tak mengiring sejuk pada tatap berikutnya

Kita pernah mencoba saling menggenggam hati lewat jemari yang saling mengisi
Menikmati redup terang perjalanan panjang
Meyakinkan kehangatan tak Cuma semu
Sekali lagi kita pastikan ini tak mungkin cinta
Bergelombang hilang timbul seperti ombak tepian air biru
Terkikis waktu dan hadirnya senyuman muda

Dan mengingatmu dihadapan gambar-gambar masa lampau
Memaksa sipu hadir diujung lelap
Sepintas membayang hangat jarimu ditangan kananku
Ketika jaket hitam berselimut redup
Membawa kita pulang pada Kota penuh makna

Ketika itu.