Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU ": September 2016
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Minggu, 18 September 2016

Dia

Ditemuinya lagi aku
Lalu ia bicara tentang segala gaduh yang terjadi di dalam bilik ventrikelnya
Dimana darah tak lagi melewati aorta
Semua berserakan, berwarna merah
Tapi dia bahagia dalam kehancuran organ-organnya
Dia selalu bahagia atas deritanya

Diusapnya kepalaku
Lalu dia menangis
Tapi itu bukan air mata yang berasal dari masa lalu
Dia menangisi kenyataan bahwa dia sedang berada bersama masa depan

Ditatapnya aku
Lalu aku menangis
Tapi itu bukan air mata kebencian

Salinan puisi lama.
Lubuk Sikaping, Pasaman
22.38 WIB

Rabu, 14 September 2016

Ruang Kembalimu

Semalam kau pulang. Kau membawa sebingkis cerita tentang udara. Betapa kau memujanya, menyanjungnya.

Pernah dulu kau juga bercerita tentang gemercik air yang menyejukkan. Sama. Betapa kau juga memujanya, menyanjungnya.

Setiap kembalimu adalah ceritamu. Setiap datangmu adalah senandung yang baru. Setiap kau adalah aku tahu.

Kelak, sekalipun pulangmu adalah cerita tentang langit yang tak bisa kau gapai. Aku adalah peraduan sebagaimana dulu pernah ikut terbakar ketika kau menceritakan api.

Pulanglah kapanpun kau ingin pulang. Ceritakan apapun yang ingin kau ceritakan. Sebab masih akan ada aku sebagai ruang kembalimu.

Ketika hujan di Padang Panjang,
17.00 WIB

Baiklah

Baiklah. Aku akan berpasrah pada muara yang Tuhan kehendaki. Bersimpuh, tertunduk dihadapan mau yang tak tertolak.

Tapi degup ini masih akan tetap sama. Biar aku gigil mendekap diamku sepanjang sisa waktu yang diberikan langit. Degup ini masih akan serupa seperti sebelum aku menyerah. Biar aku kacau dalam tarung batinku sendiri. Sebab, aku egois. Aku keras hati.

Baiklah. Tentang perjalanan ini aku akan lupa. Kelak.