Aku
lelah hari ini. Aku lelah sejak kemarin. Barangkali esok juga aku lelah. Tapi
aku tetap harus bahagia. Demikian pesan ayah dan ibu setiap pagi sebelum aku
berangkat kerja. Sebab tujuan hidup adalah bahagia. Lelah yang aku dapati
setiap hari adalah bayaran untuk kebahagiaan. Tapi kebahagiaan itu bukan
ditunggu. Ia tak akan datang. Jika ditunggu bisa jadi ia tak datang. Mungkin
saja terkena macet, kecelakaan atau meninggal dunia. Atau bisa pula yang
menunggu mati lebih dulu sebelum bahagia datang menghampiri. Sebab itulah ayah
dan ibu bilang bahagia itu diciptakan setiap waktu meskipun sekecil dan
sesederhana mungkin. Bukankah aku juga sudah membayarnya setiap hari dengan
lelah. Jadi aku pantas bahagia setiap hari.
Hari
ini seperti biasa, aku lelah. Tapi kali ini aku lelah karena satu bejana air
mata yang aku keluarkan. Dua jam terakhir sebelum jam istirahat makan siang aku
dipaksa menangis oleh setumpuk kertas. Benda mati yang bangsat. Aku benar-benar
dibuatnya lelah berlebihan. Aku harus menjadi tontonan seisi ruangan sempit
ini. Dinding, lampu, vas dan bunganya, alat tulis, map, dan kertas-kertas
lainnya yang menyebar di seluruh sisi ruangan.
Setelah
jam makan siang aku harus menjadi bahagia lagi. Tumpukan kertas itu memang
melelahkan. Tapi aku masih ingat pesan ayah dan ibu. Lekas kuteguk tawa yang
ada dalam botol di atas meja kerja. Botol yang kubawa dari rumah setiap hari.
Kuteguk hingga habis, tanpa sisa. Menangis dua jam benar-benar membuat stok
dalam botolku habis lebih cepat. Semoga bisa menciptakan bahagia yang bertahan
setidaknya sampai aku pulang dan mendapatkan asupan lagi di rumah. Di pelukan
ayah dan ibu.
Sayangnya
hari ini memang keparat. Aku dikunjungi amarah tak lama setelahnya. Aku benci
kunjungan tamu yang satu ini. Aku sudah kerap mengusirnya setiap kali datang.
Tapi sepertinya ia tak juga jera dan selalu saja merindukanku. Amarah paham
betul cuaca yang tepat. Ia bertamu ketika panas sedang sejadi-jadinya. Belum
lagi teman yang dibawanya membuatku semakin jengkel. Cemooh datang bersama
amarah dan dengan sempurna membuatku kesal hingga jam pulang kerja. Ruangan
sempit ini semakin terasa menghakimiku lewat pandangan antipati mereka yang
sejak pagi memperhatikanku. Dinding, lampu, vas dan bunganya, alat tulis, map,
dan kertas-kertas lainnya. Aku benar-benar dibuat muak.
Aku
lekas menyegerakan untuk pulang ke rumah. Tak peduli meski lebih cepat dari
semestinya. Aku butuh kebahagiaanku, segera. Lelah tak boleh menguasaiku hari
ini. Aku tinggalkan amarah dan temannya begitu saja di tempat kerja. Di ruang
sempit bersama para penghuni yang menjengkelkan sepanjang hari ini.
Kudapati
ayah dan ibu seperti biasa menungguku di teras rumah. Menikmati udara sore sambil
memberi makan para penggunjing manis mulut yang berlalu lalang. Menyapa ayah
dan ibu dengan sopan dan memuji kemesraan mereka lalu berbicara sebaliknya di
kedai sayur pagi hari. Para tetangga yang tak jarang juga mempersembahkan kepadaku
lelah.
Lekas
kuhamburkan peluk kepada ayah dan ibu bergantian. Seketika kudapatkan lagi yang
sejak tadi aku butuhkan. Ayah dan ibu selalu menyajikan sepiring senyuman
renyah dan secangkir tawa dalam nampan bahagia setiap sore. Mereka adalah
sajian rutinitas ketika menyambut aku yang membawa lelah pulang ke rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar