Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU ": Aku, Lelah dan Bahagia
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Rabu, 15 Maret 2017

Aku, Lelah dan Bahagia


Aku lelah hari ini. Aku lelah sejak kemarin. Barangkali esok juga aku lelah. Tapi aku tetap harus bahagia. Demikian pesan ayah dan ibu setiap pagi sebelum aku berangkat kerja. Sebab tujuan hidup adalah bahagia. Lelah yang aku dapati setiap hari adalah bayaran untuk kebahagiaan. Tapi kebahagiaan itu bukan ditunggu. Ia tak akan datang. Jika ditunggu bisa jadi ia tak datang. Mungkin saja terkena macet, kecelakaan atau meninggal dunia. Atau bisa pula yang menunggu mati lebih dulu sebelum bahagia datang menghampiri. Sebab itulah ayah dan ibu bilang bahagia itu diciptakan setiap waktu meskipun sekecil dan sesederhana mungkin. Bukankah aku juga sudah membayarnya setiap hari dengan lelah. Jadi aku pantas bahagia setiap hari.
Hari ini seperti biasa, aku lelah. Tapi kali ini aku lelah karena satu bejana air mata yang aku keluarkan. Dua jam terakhir sebelum jam istirahat makan siang aku dipaksa menangis oleh setumpuk kertas. Benda mati yang bangsat. Aku benar-benar dibuatnya lelah berlebihan. Aku harus menjadi tontonan seisi ruangan sempit ini. Dinding, lampu, vas dan bunganya, alat tulis, map, dan kertas-kertas lainnya yang menyebar di seluruh sisi ruangan.
Setelah jam makan siang aku harus menjadi bahagia lagi. Tumpukan kertas itu memang melelahkan. Tapi aku masih ingat pesan ayah dan ibu. Lekas kuteguk tawa yang ada dalam botol di atas meja kerja. Botol yang kubawa dari rumah setiap hari. Kuteguk hingga habis, tanpa sisa. Menangis dua jam benar-benar membuat stok dalam botolku habis lebih cepat. Semoga bisa menciptakan bahagia yang bertahan setidaknya sampai aku pulang dan mendapatkan asupan lagi di rumah. Di pelukan ayah dan ibu.
Sayangnya hari ini memang keparat. Aku dikunjungi amarah tak lama setelahnya. Aku benci kunjungan tamu yang satu ini. Aku sudah kerap mengusirnya setiap kali datang. Tapi sepertinya ia tak juga jera dan selalu saja merindukanku. Amarah paham betul cuaca yang tepat. Ia bertamu ketika panas sedang sejadi-jadinya. Belum lagi teman yang dibawanya membuatku semakin jengkel. Cemooh datang bersama amarah dan dengan sempurna membuatku kesal hingga jam pulang kerja. Ruangan sempit ini semakin terasa menghakimiku lewat pandangan antipati mereka yang sejak pagi memperhatikanku. Dinding, lampu, vas dan bunganya, alat tulis, map, dan kertas-kertas lainnya. Aku benar-benar dibuat muak.
Aku lekas menyegerakan untuk pulang ke rumah. Tak peduli meski lebih cepat dari semestinya. Aku butuh kebahagiaanku, segera. Lelah tak boleh menguasaiku hari ini. Aku tinggalkan amarah dan temannya begitu saja di tempat kerja. Di ruang sempit bersama para penghuni yang menjengkelkan sepanjang hari ini.
Kudapati ayah dan ibu seperti biasa menungguku di teras rumah. Menikmati udara sore sambil memberi makan para penggunjing manis mulut yang berlalu lalang. Menyapa ayah dan ibu dengan sopan dan memuji kemesraan mereka lalu berbicara sebaliknya di kedai sayur pagi hari. Para tetangga yang tak jarang juga mempersembahkan kepadaku lelah.

Lekas kuhamburkan peluk kepada ayah dan ibu bergantian. Seketika kudapatkan lagi yang sejak tadi aku butuhkan. Ayah dan ibu selalu menyajikan sepiring senyuman renyah dan secangkir tawa dalam nampan bahagia setiap sore. Mereka adalah sajian rutinitas ketika menyambut aku yang membawa lelah pulang ke rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar