Perlahan membawa menuju kematian.
Serupa itulah kau mencintaiku.
Selalu disisi namun mematikan.
Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl
Lelaki itu berangkat membawa keraguannya. Tangannya mengepal, menggenggam erat rindu yang seharusnya dilepaskan. Lelaki itu berupaya tenang dalam perginya yang sungguh berkecamuk.
Langkahnya kian menjauh. Ada yang ia pendam dibalik koper masa depannya. Lelaki itu terus berjalan dan tak sedikitpun ingin berbalik arah. Sebab ia sedang menyembunyikan air matanya.
Lelaki itu pergi bersama kepura-puraannya. Tanpa sadar, lelaki itu akan memulai penderitaannya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Gadis itu terpaku dalam tegak yang gemetar. Dari kejauhan ia melepaskan kepergian lelakinya. Ia tak bisa menahan pun mencoba menghalangi. Sebab ia tak punya alasan untuk melakukannya.
Gadis itu memaksa senyumnya, menatap punggung yang enggan membalik. Gadis itu menggigit bibir, menahan rindu yang mulai nanar. Ia akan pulang ke rumah tanpa harapan.
Gadis itu bungkam. Ia tak pernah tahu cara memulai. Tapi ia tahu cara mengakhiri. Ia akan menjadikan lelakinya kenangan.
Waktu telah menyelasaikan tugasnya. Menjawab pertanyaan-pertanyaan aku, kau dan kita. Bukan lagi terhitung hari atau minggu, tapi selama beberapa tahun kita telah terperangkap dibawah tanda tanya.
Waktu yang akhirnya menegaskan. Kau dan aku memang tidak untuk menjadi kita. Kau untuk kalian dan aku untuk kami. Kita adalah ketidakmungkinan.
Waktu telah menyampaikan pesan Tuhan. Seharusnya kita bersyukur dan merayakan kebebasan atas ketidakpastian yang hampir berkarat. Kita akan memulai atas sesuatu yang telah berakhir. Kita pantas bahagia.
Ya, yakin. Jika bukan keyakinan, apa lagi?
But, menurut saya. Sekali lagi, menurut saya loh...!
Ketika memutuskan sebuah pilihan apalagi pilihan untuk teman hidup adalah sebuah keputusan yang benar-benar berdasarkan pertimbangan matang. Sebab, kelak orang yang kamu pilih adalah orang yang akan kamu lihat pertama kali setiap kamu bangun, orang yang sepanjang hari akan kamu dampingi, dan orang terakhir yang kamu pandangi sebelum tidur. Catatannya, kamu tidak boleh bosan.
So, kamu harus siap menerima segala bentuk kebiasaan yang dimiliki teman hidup kamu tanpa boleh menyesali.
Kamu harus siap jika pasangan kamu tidur dengan dengkuran yang keras, kebiasaan kentut saat bangun tidur, baju kotor yang berantakan, menu makan yang pilih-pilih, hobi main play stasion, cinta bola yang berlebihan, kebiasaan lupa letak kunci, suka hangout sama teman-teman kuliah, rutinitas futsall, dan kemungkinan kebiasaan lain yang belum kamu tahu (dan ternyata kamu tidak suka). Catatannya, kamu juga harus mencintai kebiasaannya bukan cuma penampilan dan penghasilannya.
Paling tidak kamu harus kenal sebagian besar kebiasaan pasangan sebelum memutuskan menikah. Jika tidak hal ini bukan tidak mungkin akan menjadi bahan pertengkaran dalam rumah tangga.
Jadi, apakah bisa perkenalan singkat memungkinkan kita untuk saling tahu dan memahami kebiasaan masing-masing? Apakah kita mampu mencintai kekurangan seseorang melalui perkenalan singkat?
Jangan pernah berharap bahwa semua kebiasaan buruk kelak akan berubah setelah menikah atau setelah punya anak. Sekali lagi jangan menggantungkan harapan besar untuk hal yang satu ini. Bukan tidak mungkin untuk terjadi, tapi jikapun terjadi anggap itu adalah bonus dari kesabaran.
Maka, berdasarkan kemungkinan-kemungkinan yang akan kamu hadapi setelah berumah tangga nanti apakah kita cukup yakin untuk memutuskan perkenalan singkat sebagai langkah memilih pasangan hidup?
Bukan tidak mungkin perkenalan singkat akan melahirkan rumah tangga yang harmonis hingga akhir hayat, apabila sebagai perempuan kamu punya level sabar yang tidak ada batas. Catatannya, apakah kita sudah sesabar itu?
Memilih pasangan berarti memutuskan langkah besar dalam perjalanan hidup. Ketika telah memutuskan, kamu harus menjalani tanpa bisa merubah keputusan itu.
Yakin? Sudah siap?