Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU ": Januari 2014
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Selasa, 14 Januari 2014

Dear my brother, Fendro.

Hai adikku...
Semoga kau sekarang sudah berada di kota tujuanmu dengan selamat. Aku menulis surat ini dipagi sendu 12 Januari 2014 tepat pada hari dimana kau berangkat meninggalkan kota kita menuju kota yang semoga ada puncak mimpimu disana. Semoga.

Perihal apa yang menyelinap dipikiranku sehingga aku menulis surat ini untukmu? Entahlah adikku, mungkin karena terlalu banyak hal yang akan kuceritakan tentangmu, tentang kita, tentang kenangan yang akan membuat banyak keirian, tentang kebersamaan dalam kesederhanaan yang kita miliki, dan kita tak punya cukup waktu untuk mebahasnya.

Semua bermula di kota kecil yang semua orang menyebutnya Padang. Apapun nama kota kita itu yang jelas ia indah dengan sejarahnya tentang suka dan duka cita kita. Kota ini mahal adikku, tak kan ada kota semanis ini yang menceritakan keakraban kakak dan adik seperti kita. Kota yang linglung karena kau yang juga linglung memanggilku kakak, beb, sayank, abang atau kadang tanpa sebutan lain sebelum namaku. Mimi.

Aku akan merindukanmu adikku melebihi rindu yang biasanya karena kita semakin jauh. Kau sekarang di Pulau yang berbeda. Entah kapan kita bisa kembali ke kota kita yang penuh dengan lelucon itu. Menghadapi teman dan musuh yang nyaris tak ada beda. Membuat strategi penyelesaian konflik bersama pakar-pakar politik palsu. Melarikan diri dari zionis-zionis yang menganggap kita romusa. Menangis dibalik kegembiraan yang hampir tak kesampaian. Menelan pahit sendirian dan meneguk manis dalam keramaian.

Ingatkah engkau dengan Qite adikku? Atau Central Juice dan Simpres? Atau Café Jempol yang sekarang sudah menjadi toko sepatu. Aku merindukan duduk berdua denganmu sambil menikmati tempe atau kentang goreng kesukaan kita dan minuman-minuman dengan nama aneh yang baru kau uji coba. Kemudian sepanjang malam kita akan bercerita tentang sahabat-sahabat kita yang aneh, adik-adik kita yang lucu, organisasi kita yang semeraut atau tentang kehidupan kita berdua yang pilu. Hahaha, masa itu terlalu indah.

Masihkah kau ingat rasa masrtabak mie buatanku? Atau rasanya dibonceng seorang wanita super dalam perjalanan Tarusan-Padang karena kau sedang tak enak badan? Atau rasanya kabur tak tentu arah melewati kebun-kebun antah berantah pada malam hari hanya karena kau merasa baru saja melakukan tabrak lari yang padahal tidak sama sekali.

Itu hanya sebagian kecil adikku, masih banyak senyuman yang akan tertuai bersamaan dengan cerita-cerita yang takkan usai tentang kita. Ketika ayahmu menduga bahwa aku adalah Ricimu. Apakah kau juga masih mengingat begian ini? Hahaha, kurasa kau tak mungkin melupakannya. Kau butuh waktu cukup lama untuk meralatnya dan meyakinkan ayahmu dengan membawa Rici yang sebenarnya. Ya ya, kurasa setiap ayah akan menginginkan calon menantu sepertiku. Hanya saja ayahmu belum beruntung adik kecil.

Kau yang paling muda diantara kelompok kita, dan kau yang paling tangguh adikku. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kau menahan pilu dengan kebohongan demi kebohongan yang dibuat oleh seorang yang menganggap dirinya dewa. Dewa kebohongan. Tapi kau tetap mempedulikannya ketika ia terjatuh akibat kebohongannya sendiri. Yaa sayang, kau adik yang baik bahkan terlalu baik. Jika saja dalam ribuan lembar kebaikan yang pernah kulakukan dan disudut kanan bawah setiap lembaran dituliskan inspirator dari kebaikan tersebut, mungkin namamu ada dihampir seluruh lembaran buku kebaikanku sejak aku mengenalmu.


Terlepas dari itu semua, kita berjanji akan bertemu dipuncak kesuksesan. Kuharap di Kota besar itu bagian kesuksesan yang kau rencanakan ada disana dan kelak akan kau bawa pulang untuk kau persembahkan pada ayah dan ibu dan tentunya harus kau bagi denganku. Oh ya, aku hampir melupakan bahwa kau juga punya Rici. Aku mendo’akan kau masih dan akan baik-baik saja dengannya. Gadis itu beruntung bisa menjadi bagian dari kesuksesanmu adikku. Semoga kau juga mendo’akanku dari sana agar kebahagiaan kita seiring. Jaga dirimu, ku dengar Kota yang kau kunjungi sekarang sangat kejam. Jutaan orang juga menggantungkan mimpinya disana. Kau harus berusaha lebih keras, lebih dari sekedar menjadi seorang Ketua BEM ataupun Stering Comitte acara sekaliber SIMAK dikampus kita.


Adikku sayang, ketika menulis rangkaian kata demi kata tentangmu ini aku sedang sangat merindukanmu. Mengenang saat aku, kau dan kita sama-sama meneteskan air mata. Aku tak berharap kau akan membaca surat ini besok, lusa ataupun suatu saat nanti. Tapi aku berharap Tuhan akan menyampaikan padamu betapa aku bersyukur diberi kasempatan menjadi sahabatmu. Bagian dari hidupku yang dengan bangga akan kuceritakan pada cucuku kelak.

Hanna Delau ^_^