Hai adikku...
Semoga kau sekarang sudah berada di kota tujuanmu dengan selamat. Aku
menulis surat ini dipagi sendu 12 Januari 2014 tepat pada hari dimana kau berangkat
meninggalkan kota kita menuju kota yang semoga ada puncak mimpimu disana.
Semoga.
Perihal apa yang menyelinap dipikiranku sehingga aku menulis surat
ini untukmu? Entahlah adikku, mungkin karena terlalu banyak hal yang akan
kuceritakan tentangmu, tentang kita, tentang kenangan yang akan membuat banyak
keirian, tentang kebersamaan dalam kesederhanaan yang kita miliki, dan kita tak
punya cukup waktu untuk mebahasnya.
Semua bermula di kota kecil yang semua orang menyebutnya Padang.
Apapun nama kota kita itu yang jelas ia indah dengan sejarahnya tentang suka
dan duka cita kita. Kota ini mahal adikku, tak kan ada kota semanis ini yang
menceritakan keakraban kakak dan adik seperti kita. Kota yang linglung karena
kau yang juga linglung memanggilku kakak, beb, sayank, abang atau kadang tanpa
sebutan lain sebelum namaku. Mimi.
Aku akan merindukanmu adikku melebihi rindu yang biasanya karena kita
semakin jauh. Kau sekarang di Pulau yang berbeda. Entah kapan kita bisa kembali
ke kota kita yang penuh dengan lelucon itu. Menghadapi teman dan musuh yang
nyaris tak ada beda. Membuat strategi penyelesaian konflik bersama pakar-pakar
politik palsu. Melarikan diri dari zionis-zionis yang menganggap kita romusa. Menangis
dibalik kegembiraan yang hampir tak kesampaian. Menelan pahit sendirian dan
meneguk manis dalam keramaian.
Ingatkah engkau dengan Qite adikku? Atau Central Juice dan Simpres?
Atau Café Jempol yang sekarang sudah menjadi toko sepatu. Aku merindukan duduk
berdua denganmu sambil menikmati tempe atau kentang goreng kesukaan kita dan
minuman-minuman dengan nama aneh yang baru kau uji coba. Kemudian sepanjang
malam kita akan bercerita tentang sahabat-sahabat kita yang aneh, adik-adik
kita yang lucu, organisasi kita yang semeraut atau tentang kehidupan kita
berdua yang pilu. Hahaha, masa itu terlalu indah.
Masihkah kau ingat rasa masrtabak mie buatanku? Atau rasanya
dibonceng seorang wanita super dalam perjalanan Tarusan-Padang karena kau
sedang tak enak badan? Atau rasanya kabur tak tentu arah melewati kebun-kebun
antah berantah pada malam hari hanya karena kau merasa baru saja melakukan
tabrak lari yang padahal tidak sama sekali.
Itu hanya sebagian kecil adikku, masih banyak senyuman yang akan
tertuai bersamaan dengan cerita-cerita yang takkan usai tentang kita. Ketika
ayahmu menduga bahwa aku adalah Ricimu. Apakah kau juga masih mengingat begian
ini? Hahaha, kurasa kau tak mungkin melupakannya. Kau butuh waktu cukup lama
untuk meralatnya dan meyakinkan ayahmu dengan membawa Rici yang sebenarnya. Ya
ya, kurasa setiap ayah akan menginginkan calon menantu sepertiku. Hanya saja
ayahmu belum beruntung adik kecil.
Kau yang paling muda diantara kelompok kita, dan kau yang paling
tangguh adikku. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kau menahan pilu dengan
kebohongan demi kebohongan yang dibuat oleh seorang yang menganggap dirinya
dewa. Dewa kebohongan. Tapi kau tetap mempedulikannya ketika ia terjatuh akibat
kebohongannya sendiri. Yaa sayang, kau adik yang baik bahkan terlalu baik. Jika
saja dalam ribuan lembar kebaikan yang pernah kulakukan dan disudut kanan bawah
setiap lembaran dituliskan inspirator dari kebaikan tersebut, mungkin namamu
ada dihampir seluruh lembaran buku kebaikanku sejak aku mengenalmu.
Terlepas dari itu semua, kita berjanji akan bertemu dipuncak
kesuksesan. Kuharap di Kota besar itu bagian kesuksesan yang kau rencanakan ada
disana dan kelak akan kau bawa pulang untuk kau persembahkan pada ayah dan ibu
dan tentunya harus kau bagi denganku. Oh ya, aku hampir melupakan bahwa kau
juga punya Rici. Aku mendo’akan kau masih dan akan baik-baik saja dengannya.
Gadis itu beruntung bisa menjadi bagian dari kesuksesanmu adikku. Semoga kau
juga mendo’akanku dari sana agar kebahagiaan kita seiring. Jaga dirimu, ku
dengar Kota yang kau kunjungi sekarang sangat kejam. Jutaan orang juga
menggantungkan mimpinya disana. Kau harus berusaha lebih keras, lebih dari
sekedar menjadi seorang Ketua BEM ataupun Stering Comitte acara sekaliber SIMAK
dikampus kita.
Adikku sayang, ketika menulis rangkaian
kata demi kata tentangmu ini aku sedang sangat merindukanmu. Mengenang saat
aku, kau dan kita sama-sama meneteskan air mata. Aku tak berharap kau akan
membaca surat ini besok, lusa ataupun suatu saat nanti. Tapi aku berharap Tuhan
akan menyampaikan padamu betapa aku bersyukur diberi kasempatan menjadi sahabatmu.
Bagian dari hidupku yang dengan bangga akan kuceritakan pada cucuku kelak.
Hanna Delau ^_^