Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU ": 2018
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Selasa, 06 November 2018

Biasa saja

Sudah kau temukan tempatmu pulang.
Aku senang.

Tak ada yang perlu dicemaskan tentang segala hal yang lampau.
Tak ada yang kacau.
Tak ada yang penting untuk disesalkan.
Bahkan suatu hal yang mungkin terasa ditinggalkan.

Aku bersungguh-sungguh.
Bahwa menyaksikan kau berlabuh, aku benar-benar tak terpengaruh.

Segala sesuatu telah berlangsung dengan semestinya.
Jadi, mari bersikap biasa saja.

Pulau Punjung, 22.43 WIB
Menjelang hujan deras.

Senin, 01 Oktober 2018

Seseorang dari masa lampau

Bertahun lamanya nama dan kisahmu mengudara.
Melenyap dalam pusaran kenangan yang tak pernah terbesitkan.
Bahkan kupikir denganmu temu akan menjadi tabu.

Tapi takdir memang suka menebar debar.
Menghujam ingatan dengan kenangan yang dihadirkan.

Huh...
Konyol rasanya.
Menyadari bahwa aku memiliki satu sisi kisah yang masih setengah jalan.
Lalu sekarang aku merasa sedang terperangkap akibat ketololan masa lampau.

Mungkin memang masih ada bait yang belum kita tuntaskan.
Sehingga laju masa membawamu kembali sebagai kejutan.
Tapi kehadiranmu tak seperti ingin menuntaskan.
Kau datang, lebih seperti mengulang juang.
Merajut lagi satu kisah.
Kisah yang seharusnya sejak lama kita usaikan.

Rumah, 23.11 WIB
Saat udara terasa biasa saja.

Minggu, 23 September 2018

Pukul setengah dua pagi.

Aku belum bisa tidur.
Padahal sudah pukul setengah dua pagi.
Gurat hening membawamu disini.
Mondar-mandir sedari senja menjelang.

Sudah kupersilakan kau duduk disampingku.
Atau kalau kau mau boleh baringkan kepalamu di pangkuanku.
Biar kulepas resahmu lewat belai pada rambutmu yang ikal.

Tapi kau bersikeras.
Hanya lalu-lalang saja.
Memaksa aku tetap memerhatikanmu seraya memeluk malam yang bisu.

Dalam hening.
Benar-benar hening dan dingin.
Cuma ada suara langkah sepatumu yang mengurai seulas cerita tentang masa lampau.
Padahal sudah pukul setengah dua pagi, kau tak mau pergi?

Ternyata kau masih sama seperti dulu.
Suka menjahiliku.
Meski belakangan hanya kadang.
Tapi tetap saja kau masih datang.
Kau tak pernah sungguh-sungguh untuk menghilang.

Dharmasraya, 01.25 dini hari.

Senin, 30 Juli 2018

Sudah tidak ada lagi rindu untukmu

Sudah tidak ada lagi rindu untukmu
Ingatanku tentangmu telah berlumut
Melapuk, termakan waktu-waktu yang diabaikan

Susah sekali aku menganangmu
Sejak amarah mendidih bersama harapan yang menyerah
Mengubur, seluruh cerita dan cita-cita

Sudah tidak ada lagi rindu untukmu
Sudah tidak ada lagi basi-basi pada jejak kenangan
Sudah tidak ada lagi senja yang indah
Sudah tidak ada lagi sempatku mengingat namamu

Sudah mati rasanya ingatanku

Pulau Punjung, Dharmasraya
19.56 WIB

Minggu, 01 Juli 2018

Untuk mantan

Selamat berbahagia
untuk kau yang tak pernah sadar telah meninggalkan aku dalam keadaan terluka.

Semoga tawamu abadi
sementara tangisku biar begini
nanti juga berhenti sendiri.

Sampai jumpa lagi suatu hari berikutnya
barangkali sudah dalam suasana berbeda
kau bahagia, aku juga bahagia
meskipun bisa saja, masih ada jejak-jejak luka yang kubawa ketika kita bersua.

Kamar kos, 21.40 WIB.

Sabtu, 07 April 2018

Menyibukkan diri

Hari ini aku menyibukkan diri
menggelar kertas-kertas di meja kerja
memaksa tatap pada layar warna putih

Hari ini aku menyibukkan diri
agar aku tak mengingatmu
agar tak kuresapi denyut luka dari semilir angin yang membawa kabar tentangmu

Hari ini aku menyibukkan diri
menghindari ketidaksanggupanku mengantarmu mengecup mesra kening masa depanmu

Hari ini aku masih bisa menyibukkan diri
entah bagaimana esok dengan segala kemungkinannya
sebab nyatanya aku payah dalam hal melupakan

Meja kerja, 10.32 WIB

Rabu, 21 Maret 2018

Menuju lelap

Aku akan lelap yang tenang dalam dekap hati yang remang,
meski dihantar cerita cinta yang kandas dan rerinduan yang tandas,
aku siap berdamai dengan kenyataan dan segala hal yang akan menjadi kenangan.

Pulau Punjung, Dharmasraya
23.08 WIB

Senin, 22 Januari 2018

Pupus

21 Januari
Tabahku buyar
Sabarku bubar
Tangisku sadar

Aku harus pulang
Menghentikan harapanku tentangmu
Aku harus menghilang
Menjauh dari mimpi dan kenangan

Kepadamu, kusampaikan
Aku menyerah.

Senin, 01 Januari 2018

Do'a - do'a

Hujan yang memulai pagi
menerjemahkan bahasa-bahasa do'a
Setumpuk harapan telah berkumandang
Adakah Tuan menyebut namaku?

Semesta yang memulai sabdanya
menjawab pinta yang berupa-rupa
Miliaran rindu telah menggelora
Adakah Tuan mengikut serta?

Sejenak,
menjumpai hari yang baru
di langit mimpi-mimpi bertaburan
di lautan harapan-harapan mengombak
Adakah diantaranya mimpi dan harapan  itu milik Tuan?

Ah, tak ada gunanya menanyakan Tuan
Sebab do'a sebaiknya rahasia
Biarlah aku menerka-nerka
Biarlah aku penasaran

Dalam gema-gema do'a yang mengudara
Diam-diam aku yang selipkan
nama Tuan

Mengawali tulisan di 2018
02.30 dini hari