Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU ": September 2019
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Selasa, 10 September 2019

Cerpen : Misteri Sang Fajar


“Aku mau ke kedai Bang Cai sebentar.”
Fajar beranjak dari hadapanku. Tak dipedulikannya aku hendak menjawab, mengangguk ataupun menggeleng. Sejak pemuda itu datang dan ikut menambah sesak isi tempat tinggalku yang sempit ini, tak bisa aku katakan bahwa ia adalah seseorang yang penuh sopan santun. Padahal jika ingin menghitung budi, sepatutnya ia tunduk padaku. Dia tak mungkin lupa bagaimana ia bisa hidup dan bertahan di negeri yang penuh kejutan ini, dia makan dari hasil keringatku.
Tapi jika dipikir-pikir benar, Fajar tidak pernah pula berlaku kurang ajar. Pemuda itu memang kaku, tak pernah senyum apalagi tertawa. Dia terkesan kasar, arogan dan mengerikan dengan garis wajah keras yang ia miliki. Tubuhnya tinggi besar seperti bodyguard di film-film, membuatnya semakin terlihat garang.
Sejak menemukan Fajar, aku tidak pernah bicara banyak hal dengannya. Pemuda itu memendam banyak misteri asal-usul adan masa lalunya. Kami hanya terlibat percakapan bila salah satu dari kami akan pergi ke luar. Itupun rasanya tak layak disebut sebagai percakapan karena tak ada saling sahut diantara kami. Pernah beberapa kali aku bertanya apa kebutuhannya yang perlu aku belikan. Fajar selalu saja menjawab dengan dua kata “nggak usah.” Acap kali menerima jawaban serupa aku memilih tak lagi bertanya dan lebih berinisiatif membelikan apapapun yang kurasa ia butuhkan. Beberapa lembar pakaian ganti, pisau cukur, bahkan celana dalam. Sesekali aku tinggalkan dua atau tiga lembar uang lima puluh ribu di atas meja makan. Entah ia akan belikan rokok atau untuk sekedar ngopi di kedai Bang Cai. Fajar memang tidak pernah meminta apapun tapi ia juga tak menolak apapun yang aku sediakan.
Aku menemukan tubuh jangkung Fajar di perempatan tidak jauh dari tempatku tinggal persis ketika fajar hendak menyingsing pagi itu. Ketika itu kupikir aku menemukan sesosok mayat. Bergegas aku berlalari ke kedai Bang Cai yang buka 24 jam. Para lelaki yang biasa nongkrong baru saja bubar dan Bang Cai hendak  mencoba untuk tidur. Melihat aku yang tegopoh-gopoh, tanpa pikir panjang Bang Cai meninggalkan istrinya di kedai dan mengikuti petunjukku.
“Masih hidup.” Kata Bang Cai setelah meletakkan telunjuk di bawah lubang hidung lelaki yang tergeletak itu. Aku memperhatikan, tidak tahu harus merespon apa. Tanganku mendekap sepasang sepatu beludru warna biru bertumit 9 cm yang tadi aku pakai sebelum berlari menuju kedai Bang Cai.
Dibantu seorang pemulung yang sedang berada disekitar kami, Bang Cai membopong tubuh besar  itu menuju kedainya. Aku mengikuti dari belakang. Tubuh layu itu sangat kumal dan agak sedikit bau. Sepertinya sudah beberapa hari tak terjamah air atau sekedar dibersihkan dengan kain basah. Wajah pemuda itu tidak begitu terlihat jelas, brewok dan kumis yang tidak terurus mendominasi permukaan wajahnya. Ia lebih tampak seperti orang gila tapi pakaian yang dikenakannya sama sekali tidak compang-camping dan berlapis-lapis seperti kebanyakan orang gila yang berkeliaran.
Istri Bang Cai menyediakan handuk kecil dan air hangat untuk sedikit membersihkan wajah lusuh itu. Bibirnya benar-benar pucat pasi dan suhu tubuhnya panas tinggi. Butuh waktu hampir tiga jam sampai sosok itu sadar dari pingsannya. Padahal kami sudah hendak membawanya ke rumah sakit menumpang angkot salah seorang pelanggan kedai Bang Cai.
“Jangan ke rumah sakit.” Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut pemuda berkulit sawo matang itu. Aku, Bang Cai dan istrinya saling menatap.
“Siapa namamu?” Tanya Bang Cai, tapi pria itu bergeming. Pandangannya kosong ke langit-langit kedai Bang Cai yang sempit.
“Kalau dia tidak mau ke rumah sakit, kita tetap harus pindahkan dia dari sini. Sebentar lagi warung ini makin banyak pengunjung. Tidak nyaman untuk seseorang yang sedang sakit.” Bang Cai memandang kearahku. Dibelakangku berdiri seorang supir angkot dan seorang keneknya.
Pria itu bangkit dari pembaringannya. “Aku akan pergi.” Kami yang ada di situ hanya memperhatikan. Ia beranjak keluar dari kedai dan sejenak duduk di bangku depan memegang kepalanya seperti menahan rasa sakit. Tak seorangpun dari kami bicara lagi sampai akhirnya tubuh besar itu ambruk lagi pada langkah ketiga ketika hendak meninggalkan kedai.
Kami menyimpulkan untuk membawa tubuh yang pingsan tak berdaya itu ke tempat tinggalku sebab tak  ada lagi tempat yang bisa dianggap nyaman untuk sementara waktu. Sang supir angkot atau keneknya tak bersedia menampung. Sedang Bang Cai dan istri tak memungkinkan merawatnya lebih lama karena kedai sekaligus tempat tinggal mereka hanya ada satu kamar. Lagi pula kedai itu sudah sesak dengan peralatan rumah tangga  dan barang dagangan yang berhimpitan.
Meski harus bersusah payah menaiki bangunan empat lantai hingga mencapai balkon paling puncak di bangunan itu, Bang Cai dan supir angkot beserta keneknya tak punya pilihan lain. Akhirnya kami berhasil membawa tubuh tak berdaya itu ke tempatku bermukim. Sapetak bangunan kecil menghadap ke arah timur yang hanya memiliki tiga bagian ruang yang di sekat. Salah satu bagian aku jadikan kamar dan diberi gorden sebagai penutup. Sisi paling kanan adalah dapur dan bagian tengah adalah ruang yang terpampang langsung ketika membuka pintu. Sementara kamar mandi ada di lantai bawah.
Tempat tinggalku adalah di bagian paling atas dari sebuah rumah susun yang tidak begitu terurus. Sengaja aku membujuk pemiliknya supaya menyewakan sepetak ruang yang ada di loteng atas dengan harga murah. Awalnya itu adalah gudang, kemudian aku menawarkan diri untuk membarsihkannya. Selain mendapat harga murah aku juga mendapat ketenangan tinggal di sini. Aku tidak harus mendengar suara-suara gaduh dari kamar tetangga. Suara pertengkaran suami-istri, suara bayi merengek atau suara desahan pasangan kumpul kebo yang sedang berkencan.
Sepeninggal Bang Cai, sopir angkot dan keneknya aku membenahi  tubuh tak berdaya yang tergeletak di ruang tengah. Aku membuka jaket hitam lusuh dan kaos kumal yang dikenakan pemuda itu. Aku temukan beberapa luka lebam di punggung dan dadanya. Rangka tubuhnya memang besar, tapi sebenarnya pemuda itu tergolong kurus. Aku mengelap tubuh itu dengan handuk yang direndam air hangat kemudian mengompresnya dan kuberi ia selimut.
Aku beranjak tidur karena benar-benar mengantuk. Di samping pemuda itu aku tinggalkan sehelai baju kaos milik teman priaku yang tertinggal entah kapan dan sepiring nasi goreng lengakap dengan sebotol air mineral. Berharap ketika ia terbangun ia mengerti maksudku.
Ketika aku terbangun, matahari sudah beranjak turun, aku temukan piring bekas nasi goreng yang sudah kosong. Aku beranjak ke luar dan aku melihat pemuda itu duduk termenung di ujung loteng. Aku menghampirinya.
“Kamu udah sadar?” kataku berbasa-basi.
Pemuda itu menoleh kearahku. Tatapannya tajam, bola matanya hitam pekat semakin membuatnya terlihat sangar. “Izinkan aku tinggal sedikit  lebih lama lagi disini. Setidaknya sampai aku benar-benar pulih.”
Aku terpaku menatapnya balik. Aku membaca kesungguhan di balik tatapan itu. Pemuda itu sungguh sedang memohon dengan cara yang dingin. “Kasih aku alasan kenapa aku harus bilang ya!”
Saat itulah pemuda bertubuh tinggi besar itu menceritakan sedikit tentangnya. Ia adalah buronan yang melarikan diri dari penjara. Seorang narapidana kasus pemerkosaan terhadap adik sahabatnya sendiri. Ia tidak mengakui tuduhan pemerkosaan itu tapi semua bukti menunjukkan bahwa ia bersalah. Termasuk kesaksian korban. Ketika kejadian ia mengaku sedang mabuk berat, tapi ia sangat yakin bahwa ia tidak melakukan pemerkosaan.
Pemuda yang menolak semua tuduhan tapi terbukti bersalah, dijatuhi hukuman dua belas tahun penjara. Belum lagi hukuman kebencian dari seluruh orang di kampungnya. Keluarganya menolak mengakuinya sejak ia ditangkap polisi. Sahabat baiknya yang selama ini sudah seperti saudara menyumpah serapahinya karena  kasus yang menimpa sang adik bahkan membuat ibu mereka yang seorang janda terserang stroke. Ia benar-benar tidak diterima dan dibuang dari lingkungannya.
Menjalankan hukuman penjara baginya hanya pembenaran terhadap semua tuduhan yang dijatuhkan kepadanya. Ia tetap yakin bahwa ia tidak memperkosa siapapun. Apalagi itu adik sahabatnya yang sudah seperti adiknya sendiri. Ia meyakini bahwa ada yang sengaja menjebaknya. Tapi siapa yang percaya dengan kesaksian orang mabuk. Bahkan akupun yang mendengar merasa sanksi. Hanya saja aku tak punya pilihan lain selain mempercayainya sebab jika ia ingin berbohong atau mengarang cerita dia bisa saja mengatakan bahwa dia adalah orang kampung yang dijebak dan tertipu ketika pertama kali datang ke kota lalu dengan mudah mampu membuatku luluh. Alih-alih mengatakan bahwa ia adalah seorang buronan yang justru jelas-jelas membuatku merasa tak nyaman.
Cerita singkat itu seketika membuatku percaya begitu saja padanya. Tak ada sedikitpun rasa curiga atau kecemasan bahwa bisa saja ia melakukan sesuatu yang buruk.  Aku menerimanya tinggal bersamaku. Barangkali aku dibuat tersentuh karena dari ceritanya itu dapat diartikan bahwa kami sama-sama orang terbuang yang masih berusaha untuk melanjutkan hidup dengan cara apapun. Ia memilih menjadi buronan sebagai bentuk penolakan terhadap tuduhan yang limpahkan padanya, sementara aku memilih bersuka cita dengan dunia malam dan memberi makan seorang buronan dengan pengahasilanku. Manusia memang kerap terperangkap pada pilihan yang salah. Tapi tidak ada jaminan pilihan yang salah akan membuat seseorang terus-menerus salah seumur hidupnya.
“Panggil aku Fajar.” Katanya dipenghujung cerita sore itu. Entah nama itu benar atau hanya sekedar sebutan agar aku mudah memanggilnya. Sekali lagi aku sanksi tapi tetap mempercayai ucapannya. Aku tak peduli pemuda itu benar-benar bernama Fajar atau pemuda yang hanya saja harus kupanggil Fajar. Masa depan memang misteri Tuhan, namun masa lalu adalah misteri dari pemiliknya.


- selesai -