Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU ": Januari 2017
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Minggu, 29 Januari 2017

Ini yang Seharusnya

Aku minta maaf
Telah aku sambut kau tanpa kesungguhan
Mengabaikan setiap waktu-waktu yang berusaha kau ciptakan untukku
Aku telah salah
Menenggelamkanmu dalam lautan diksi-diksi roman yang menjejak malam
Memberimu kesempatan mengenal tertawa di cangkir obrolan senja

Pecayalah,
Memahamimu adalah juang yang pernah aku upayakan
Aku juga bukan batu ketika waktu itu kau temukan
Hanya saja jejak-jejak kepatahan itu terlalu membekas
Menjadikan aku runtuh yang sukar bangkit
Dan kau telah aku letakkan pada garis pengabaian yang menjelma pengaharapan

Ini yang seharusnya
Membiarkanmu lepas dari kenyamanan yang semu
Sungguh, tak ada yang lebih baik dari membiarkanku memeluk jeda

Sabtu, 14 Januari 2017

Tak Ada yang Seperti Dia

Aku meninggalkan dia
Dan aku menyesal

Aku dapatkan pengganti dia, dan aku meninggalkannya
Aku temukan lagi pengganti dia, lalu aku tinggalkan pula
Aku punya kekasih lagi, kemudian kutinggalkan lagi
Dan aku dapatkan pengganti yang lain lagi
Sama
Juga aku tinggalkan

Aku berkali-kali meninggalkan
Sebab yang kuinginkan adalah pengganti dia
Tapi tak ada yang seperti dia
Ternyata dia hanya tercipta satu-satunya

Aku ingin kembali kepada dia
Tapi itu hanya harap yang sia-sia
Karena dia
Kini bukan lagi dia yang dulu aku tinggalkan

Kamis, 12 Januari 2017

Seperti

Kepada Engkau yang melukisku
Gambarkan aku menjadi kisah
Seperti lelantun puisi-puisi anak yang kehilangan ibu bapaknya
Seperti para kekasih yang mendoakan pujaannya
Seperti hujan yang memenangkan senyum-senyum yang gersang
Seperti haus yang merindukan basah
Seperti damai yang dihadiahkan malam kepada mimpi
Seperti puji-pujian yang meramaikan mesjid, gereja dan vihara
Seperti laut yang setia kepada pantai
Seperti para sahabat yang saling memahami
Seperti lembut ibu yang membelai anak-anak mereka

Kepada yang menyatu dalam nafasku
Menciptakan detak kehidupan di dada kiriku
Sungguhpun sempurna alam mengaminiku
Tanpa Engkau, aku tiada

Rumah, Januari 2017, 13.35 WIB.
Ketika mendengarkan lagu Putih-Efek Rumah Kaca

Rabu, 11 Januari 2017

Sesal

Aku menemukanmu yang memandang tepian senja
Kau sedang menceritakan lamat-lamat penyesalanmu
Seraya menangis, sesegukan
Betapa menyakitkan torehan luka yang telah kau hadiahkan

Sungguh sedumu tak akan merubah apapun
Bingkai waktu telah mengabadikan ketegaanmu ketika itu
Kenangan yang kau buat mengaliri ruang-ruang lini masa
Menempati satu sisi yang kemudian mengekal
Kepedihan itu akan melegenda
Mengukir jejak yang tak akan hilang

Siluet yang menyambut malam masih mendengar ceritamu
Dan menangislah
Menangislah untuk maaf yang kau harapkan

Puisi Untukmu

Telah kutuliskan kau dalam ribuan puisi
Dalam diksi-diksi yang bertaburan antara Sumatera dan Jogja
Dimana waktu berangsur-angsur menelan butir-butir rindu
Dongeng yang kau tinggalkan dalam keadaan patah
Telah kuhidupkan kembali melalui gatar-getar jemari

Bagiku cukup
Menemuimu diatas kertas
Bagiku cukup
Meski pada akhirnya
Kau hanya hidup di dalam kata-kata
Bagiku cukup
Ribuan puisiku abadi

Selasa, 03 Januari 2017

Diri Sendiri

Seseorang pernah mengatakan bahwa pada akhirnya setiap manusia akan menemukan dirinya sendiri. Setelah lelah menginginkan, mencari, lalu menemukan. Pada akhirnya adalah kehilangan. Kemudian manusia akan kembali menemukan dirinya sendiri. Sendirian.
Yang datang lalu meninggalkan. Yang tiba lalu melupakan. Yang hadir lalu pergi. Menyakitkan atau membahagiakan, semua akan disebut sebagai kenangan.
Rasanya banyak hal yang terlalu berharga untuk dihadapkan pada kehilangan. Tapi hidup bukan tentang mencemaskan yang akan hilang atau meratapi yang telah hilang. Bahwa yang seharusnya adalah memaknai kehilangan. Entah itu kehilangan sejenak, sementara ataupun selamanya. Kembali, sejatinya hidup adalah diri sendiri.
Kamar tidur, 12.45 WIB
3 Januari 2017

Minggu, 01 Januari 2017

Sebuah cerita

Dibalik denyut hujan yang menyentuh sekujur bumi
Aku menceritakanmu
Mengisahkan aku yang terbaring diantara keinginan dan kebodohan
Tentang kita
Entah siapa yang dihadirkan diantara siapa
Dinding-dinding pembatas terlalu banyak namun begitu rapuh

Cinta tak mengenal waktu yang tepat
Manusia harus mengerti
Ada hal yang tak seharusnya tapi tak bisa disebut sebagai kesalahan

Pada akhirnya kamu akan tetap menjadi alasan
Untuk aku menjadi bangkit atau aku kembali patah
Pada akhirnya aku akan tetap menjadi kejam
Entah terhadap perempuan lain atau untuk diriku sendiri

Dibalik ruang jarak yang melahirkan rindu
Aku menceritakanmu
Kamu yang rumit

Dear, 2016

Terimakasih 2016. Untuk setiap moment manis. Untuk setiap kegembiraan. Untuk setiap jatuh, patah dan bangkit. Untuk setiap pembelajan hidup. Untuk segala haru dan tangis. Untuk semua yang datang dan meninggalkan.

Terimakasih 2016, untuk seluruh hal yang akan menjadi kenangan.

Rumah, 11.57 WIB