Senin, 22 Desember 2014
Senin, 15 September 2014
Berkatalah, HATI
Hari ini Tuhan
menginginkanku untuk mengenangmu
Dalam rasa dan raga
yang terpatri pada satu titik
Membiarkan memori
berputar-putar pada masa yang aneh
Menjadikan kaku setiap
senyum hingga patah dalam lamunan
Hari ini Tuhan
menginginkanku berdiam
Memaksa rindu menikam
ruang-ruang tanpa jendela
Menenggelamkan tangis
dibalik kelu
Hingga tak lagi ada
yang benar-benar kosong
Dan pada akhirnya
logika betul-betul mati rasa
Jumat, 05 September 2014
Surat untuk 9 tahun “TOXIC”
Kepada tujuh dara cantik yang
memanggilku “Ketua”.
Hey
dear,
Kita bertemu lagi dengan 5
September. Ini 5 September yang Ke-sembilan sejak ikrar lucu di Pasar malam
tahun 2005. Sejak itu kita sepakat menyebut kebersamaan ini dengan Toxic. Entah
dari mana kesepakatan itu muncul. Aku bahkan juga tidak bisa mengingat jelas
asal-muasal kata Toxic Fren’s menjadi
pilihan kita. Yang jelas aku bahagia menjadi bagian dari kalian yang waktu itu ‘katanya’ cewek-cewek populer di
sekolahan. Hahahaha!
Hmmmm,,, 9 tahun guys. Itu bukan
waktu yang sebentar. Kita sudah melewatkan kurang lebih 3.285 hari untuk
persahabatan yang ’kece’ ini. Gila! Tahun depan Toxic sudah satu
dekade. Artis aja gag nyampe 9 tahun udah banyak yang cerai.
Hihihi. Yaaa, walaupun Nursiti udah lebih dulu ninggalin perkumpulan lajang ini
tapi itu bukan berarti kita cerai. Yaa kan??
Diluar dari kisah ini aku memang
punya temen-teman dan kehidupan lain, tapi menjadi bagian dari kalian adalah
sebuah kebanggaan. Khusus buat Icha, Rita, Yolla, Ve, Lusy dan Cici, 6 sarjana ‘keren’ yang sudah membuktikan kalau nge-gank itu tidak selalu berdampak
negatif. Dan aku Hanna Citra Utami TB merasa cewek paling beruntung telah
dipilih jadi ‘Ketua’ dalam kebersamaan yang luar biasa ini.
Tidak cukup satu atau dua paragaraf
untuk menceritakan tentang kalian. Terlalu banyak kisah lucu, senang, sedih,
suka, duka, tertawa, menangis, yang selalu manis ketika diceritakan kembali.
Bahkan kita tak punya cukup waktu bersama untuk mengenang histori yang panjang
ini.
Ada banyak karakter yang kita
satukan didalam Toxic. Yolla yang
cuek dan angker yang berbanding terbalik
dengan fatnernya Venny yang centil
dan aneh. Toxic juga punya Rita yang
baik hati yang kalau bicara bisa lebih cepat dari laju motor balap Valentino
Rossi. Lalu yang aku suka adalah lelucon menyebut Icha tengkorak, tower, orang-orangan sawah, kutilang dara, dan lain
sebagainya. Tapi aku akui dia yang paling cerdas, sibungsu yang paling duluan
jadi “Master”. Selamaaat! Disisi lain Toxic juga ada Lusy yang tulalit tapi jago jadi mak comblang, ada Cici si jago tari yang hobi pacaran
tapi setia. Oh ya, Nursiti juga
masih bagian dari Toxic meskipun si Jawa tulen ini sudah menjadi Ibu satu anak.
Dan aku..... Entahlah!
My guys, memiliki sahabat seperti
kalian adalah keberuntungan yang membuat banyak orang iri. Waktu bersama kalian
terlalu indah untuk sekedar dibiarkan berlalu kemudian dilupakan. Aku masih
berharap cita-cita traveling kita bisa terwujud tahun ini ataupun sebelum satu
diantara kita mengakhiri masa lajangnya (kecuali Nursiti).
Toxic sayangku.... tetaplah kalian
menjadi sahabatku yang selalu mengingat setiap 13 November untukku. Jangan
pernah berubah dengan kehebohan setiap kali kalian pulang dari rantau. Teruslah
membuatku bangga karena pernah mengenal kalian. Jikapun nanti perlahan-lahan
diantara kita menempuh hidup baru, tetaplah menjadikan aku dan Toxic orang yang
paling sibuk dan bahagia. Jangan pernah melupakan Dharmasraya dengan segala
sejarahnya tentang kita.
Kepada tujuh dara cantik yang
memanggilku “Ketua”, happy aniversary Toxic. Happy Toxic’s day. Semoga aku dan
kalian tetap menjadi kebersamaan tanpa batas. Suatu saat nanti aku akan dengan
bangga menceritakan tentang kalian kepada anak dan cucuku.
Sungai Rumbai, 5 September 2014
Kamis, 04 September 2014
Bukanlah Cinta
Mengingatmu dibalik
lipatan malam yang menggulung sunyi tanpa kata
Lewat gurat angin yang
menepis pipi merah muda
Ada sebuah nama dengan
sebait cerita
Cerita yang tak bisa
disebut cinta
Tatapan kita pernah
bertemu pada satu titik dengan detik yang terhenti
Membias gatar serupa
remaja jatuh cinta
Menepis sangka yang
ragu memanggil mesra
Tapi sekali lagi
kukatakan bahwa ini bukan cinta
Karena restu langit tak
mengiring sejuk pada tatap berikutnya
Kita pernah mencoba
saling menggenggam hati lewat jemari yang saling mengisi
Menikmati redup terang
perjalanan panjang
Meyakinkan kehangatan
tak Cuma semu
Sekali lagi kita
pastikan ini tak mungkin cinta
Bergelombang hilang
timbul seperti ombak tepian air biru
Terkikis waktu dan
hadirnya senyuman muda
Dan mengingatmu
dihadapan gambar-gambar masa lampau
Memaksa sipu hadir
diujung lelap
Sepintas membayang
hangat jarimu ditangan kananku
Ketika jaket hitam
berselimut redup
Membawa kita pulang
pada Kota penuh makna
Ketika itu.
Senin, 14 Juli 2014
‘Get Freedom’
Saya adalah orang yang mendukung
penuh kebebasan hidup. Kebebasan berpendapat, kebebasan berkreasi, kebebasan
menentukan kita mau jadi apa, mau kemana, berteman dengan siapa, kebebasan
menentukan hal apapun yang kita anggap baik untuk kelangsungan hidup. Toh tidak
ada jaminan setiap orang harus jadi dokter baru bisa makan, setiap orang baru
layak kaya kalo dia seorang Ekonom, atau hanya orang yang jadi pilot atau
nahkoda yang bisa jalan-jalan keliling dunia. Seorang petani bisa jadi kepala
desa, seorang guru bisa jadi pengusaha meble, ibu rumah tangga juga bisa jadi
milyoner dan jalan-jalan ke luar negeri. Ini pendapat saya.
Setiap kita adalah pemilik hak
mutlak atas diri kita. Meskipun kita punya orang tua yang tentu saja wajib
didengarkan tapi bukan berarti mereka yang menentukan skenario hidup kita. Kita
juga punya teman, sahabat yang pendapatnya juga tak mungkin diabaikan. Namun
pada akhirnya tetap kita yang harus menentukan seperti apa finalnya. Dan satu
lagi, kita juga punya Tuhan yang lebih
punya kuasa atas diri kita. Tapi ini tentang memutuskan pilihan hidup, bukan
tentang kepasrahan semata terhadap garis takdir dari Tuhan. Tuhanpun tidak
sertamerta melahirkan setiap manusia dengan hidup yang serba berkecukupan dan
dengan garis takdir yang sama. Setiap manusia juga bisa merubah takdinya jika
ia mau.
Sekali lagi ini pendapat saya.
Terutama karena saya seorang wanita yang cenderung dalam masyarakat dinilai
lebih layak jadi ‘anak rumahan’. Dan saya tidak suka dengan pembeda-bedaan
gender. Saya pendukung penuh emansipasi wanita. And I will get freedom!
Selasa, 25 Maret 2014
LUKA MANIS DARI DIANDRA
“jika
saja angin benar-benar menyampaikann pesanku,
seharusnya
saat ini kau sudah menerima sepucuk
rindu
yang bertuliskan namamu, Diandra”
Ini
rangkaian kata yang tak lagi terhitung keberapa kalinya kutuliskan di buku bersampul
coklat keemasan yang kuberi judul “Tentang Diandra”. Betapa klisenya caraku
mencintai wanita indah itu. Memandangnya dari kejauhan, memperhatikannya
diam-diam, merindukannya secara sembunyi-sembunyi, mengatakan bahwa betapa aku
mengaguminya hanya lewat goresan tinta, dan berpura-pura tak ada apa-apa saat
dekat dengannya.
Diandra.
Untuk pertama kalinya aku merasakan ketidak adilan Tuhan karena telah
menciptakan keindahan yang keterlaluan seperti dia. Kesempurnaan wanita yang
membuat bunga-bungapun iri atas keanggunannya. Wajah teduh dibalik kerudung
itu, dengan binar mata coklat nan indah, bibir tipis yang kemerahan, senyuman
dengan lesung pipi yang manis, kulit putih yang memancarkan sinar wudhu, belum
lagi kelembutan saat bertutur kata. Atau hanya aku yang terlalu berlebihan
mengaguminya? Tapi kurasa tak ada yang
tak mengagumi Diandra. Aku benar-benar tak mampu lagi melihat hal lain yang
lebih indah melebihi wanita itu.
Aku
menganal Diandra dengan sangat baik. Bahkan tahu banyak hal tentangnya melebihi
yang ia beri tahukan kepadaku. Sekali lagi, ini karena aku benar-benar
mengaguminya. Mencintainya. Aku biasa dimata Diandra, tapi Diandra luar biasa
dimataku. Aku teman bagi Diandra, tapi Diandra malaikat bagiku.
Diandra
hanya mengenalku sebagai salah satu dari puluhan atau ratusan mahasiswanya.
Jikapun ada hal istimewa yang membuat namaku teringat dengan baik dimemorinya
barangkali karena setiap tugas makalahku yang selalu melebihi batas deadline
atau karena pertanyaan-pertanyaan konyolku di kelas. Tapi bisa jadi karena
akulah mahasiswa yang paling sering menawarkan jasa tumpangan pulang atau
traktiran makan yang tidak pernah diberi tanggapan selain dari senyuman manis
dengan lesung pipi khas Diandraku sayang.
“Diandraku
sayang, kau memang terlalu jauh.
Aku hanya sebutir debu sementra kau angin yang sejuk.
Aku hanya waduk kecil sementara kau lautan yang luas.
Aku hanya selembar daun kering sementara kau rerimbunan pohon di pegunungan.
Diandraku sayang, aku hanya seorang pengkhayal.
Kekagumanku padamu memang besar, tapi Tuhan lebih besar.
Cintaku memang luas tapi kuasa Tuhan lebih luas.
Aku tak kan pernah mampu seperti Tuhan yang bisa menciptakan kesempurnaan”
Aku hanya sebutir debu sementra kau angin yang sejuk.
Aku hanya waduk kecil sementara kau lautan yang luas.
Aku hanya selembar daun kering sementara kau rerimbunan pohon di pegunungan.
Diandraku sayang, aku hanya seorang pengkhayal.
Kekagumanku padamu memang besar, tapi Tuhan lebih besar.
Cintaku memang luas tapi kuasa Tuhan lebih luas.
Aku tak kan pernah mampu seperti Tuhan yang bisa menciptakan kesempurnaan”
Kalimat ini kutulis ketika aku
mendapat hadiah manis dari Diandra. Ketika itu pagi dengan gerimis yang indah.
Diandra memanggilku dari kejauhan. Kemudian ia memberikan sesuatu berwarna ungu
muda dengan hiasan pita cantik. Yaa, Diandra menghadiahkan undangan
pernikahannya untukku dipagi yang lembab. Aku memaksa senyum terbaikku untuk
turut hadir pagi itu. Seraya berucap selayaknya sahabat yang turut bahagia aku
mempersembahkan senyum sumringah dan memastikan diri untuk menghadiri undangan
Diandra. Tak ada yang tahu seberapa berkecamuknya sakit dibalik dadaku bersamaan
dengan langkahku meninggalkan Diandara waktu itu. Tikaman yang bertubi-tubi
pada rasaku, luka yang merobek-robek rindu, dan pilu yang seketika memaksa
mengikis nama Diandra dijantungku.
“Diandra, sekalipun kau tidak diciptakan Tuhan dari
tulang rusukku setidaknya aku bahagia telah
ada
namamu
diantara bait-bait cerita takdirku”
Kekaguman hanyalah sebatas mata. Cinta
hanyalah sebatas rasa. Tapi takdir tentu tak ada yang mampu membatasi jalannya.
Aku memang sempat bergulat dengan hatiku sendiri. Mencoba dengan tega membunuh
rasaku tentang Diandra. Namun itu tak semudah aku mencintainya. Semua tentang
Diandra tak hanya tertulis rapi dibuku coklat keemasan itu, tapi juga didasar
segala rasa yang kupunya. Diandra memang telah memberikanku bingkisan luka,
tapi aku yakin wanita anggun itu tak bermaksud menyakiti siapapun. Aku
meyakinkan diriku untuk tetap bahagia dengan luka dari Diandraku sayang.
“Diandra, sudah kuterima luka yang kau selipkan
dalam sampul berwarna ungu muda itu.
Terimakasih Diandra untuk luka manis berhiaskan
senyum terindah dari bidadari Tuhan”
dalam sampul berwarna ungu muda itu.
Terimakasih Diandra untuk luka manis berhiaskan
senyum terindah dari bidadari Tuhan”
Sabtu, 08 Maret 2014
I N D A H
Jika nanti tak cukup masa untuk mengulang duduk bersama di "Q-Te". Jika nanti tak lagi ada kesempatan meneguk teh-telur di "Simpang Presiden". Jika nanti tak mungkin untuk meneguk jus jagung segelas bersama. Jika nanti tak akan pernah lagi mencicipi makan satu wadah bersama. Jika nanti tak pernah terulang usapan tangan kalian dikepalaku. Jika nanti Tuhan tak memberikan kesempatan kedua.
Disini, dihatiku, tak ada yang hilang.
Disini, yang terindah tetap akan indah.
Selasa, 14 Januari 2014
Dear my brother, Fendro.
Hai adikku...
Semoga kau sekarang sudah berada di kota tujuanmu dengan selamat. Aku
menulis surat ini dipagi sendu 12 Januari 2014 tepat pada hari dimana kau berangkat
meninggalkan kota kita menuju kota yang semoga ada puncak mimpimu disana.
Semoga.
Perihal apa yang menyelinap dipikiranku sehingga aku menulis surat
ini untukmu? Entahlah adikku, mungkin karena terlalu banyak hal yang akan
kuceritakan tentangmu, tentang kita, tentang kenangan yang akan membuat banyak
keirian, tentang kebersamaan dalam kesederhanaan yang kita miliki, dan kita tak
punya cukup waktu untuk mebahasnya.
Semua bermula di kota kecil yang semua orang menyebutnya Padang.
Apapun nama kota kita itu yang jelas ia indah dengan sejarahnya tentang suka
dan duka cita kita. Kota ini mahal adikku, tak kan ada kota semanis ini yang
menceritakan keakraban kakak dan adik seperti kita. Kota yang linglung karena
kau yang juga linglung memanggilku kakak, beb, sayank, abang atau kadang tanpa
sebutan lain sebelum namaku. Mimi.
Aku akan merindukanmu adikku melebihi rindu yang biasanya karena kita
semakin jauh. Kau sekarang di Pulau yang berbeda. Entah kapan kita bisa kembali
ke kota kita yang penuh dengan lelucon itu. Menghadapi teman dan musuh yang
nyaris tak ada beda. Membuat strategi penyelesaian konflik bersama pakar-pakar
politik palsu. Melarikan diri dari zionis-zionis yang menganggap kita romusa. Menangis
dibalik kegembiraan yang hampir tak kesampaian. Menelan pahit sendirian dan
meneguk manis dalam keramaian.
Ingatkah engkau dengan Qite adikku? Atau Central Juice dan Simpres?
Atau Café Jempol yang sekarang sudah menjadi toko sepatu. Aku merindukan duduk
berdua denganmu sambil menikmati tempe atau kentang goreng kesukaan kita dan
minuman-minuman dengan nama aneh yang baru kau uji coba. Kemudian sepanjang
malam kita akan bercerita tentang sahabat-sahabat kita yang aneh, adik-adik
kita yang lucu, organisasi kita yang semeraut atau tentang kehidupan kita
berdua yang pilu. Hahaha, masa itu terlalu indah.
Masihkah kau ingat rasa masrtabak mie buatanku? Atau rasanya
dibonceng seorang wanita super dalam perjalanan Tarusan-Padang karena kau
sedang tak enak badan? Atau rasanya kabur tak tentu arah melewati kebun-kebun
antah berantah pada malam hari hanya karena kau merasa baru saja melakukan
tabrak lari yang padahal tidak sama sekali.
Itu hanya sebagian kecil adikku, masih banyak senyuman yang akan
tertuai bersamaan dengan cerita-cerita yang takkan usai tentang kita. Ketika
ayahmu menduga bahwa aku adalah Ricimu. Apakah kau juga masih mengingat begian
ini? Hahaha, kurasa kau tak mungkin melupakannya. Kau butuh waktu cukup lama
untuk meralatnya dan meyakinkan ayahmu dengan membawa Rici yang sebenarnya. Ya
ya, kurasa setiap ayah akan menginginkan calon menantu sepertiku. Hanya saja
ayahmu belum beruntung adik kecil.
Kau yang paling muda diantara kelompok kita, dan kau yang paling
tangguh adikku. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kau menahan pilu dengan
kebohongan demi kebohongan yang dibuat oleh seorang yang menganggap dirinya
dewa. Dewa kebohongan. Tapi kau tetap mempedulikannya ketika ia terjatuh akibat
kebohongannya sendiri. Yaa sayang, kau adik yang baik bahkan terlalu baik. Jika
saja dalam ribuan lembar kebaikan yang pernah kulakukan dan disudut kanan bawah
setiap lembaran dituliskan inspirator dari kebaikan tersebut, mungkin namamu
ada dihampir seluruh lembaran buku kebaikanku sejak aku mengenalmu.
Terlepas dari itu semua, kita berjanji akan bertemu dipuncak
kesuksesan. Kuharap di Kota besar itu bagian kesuksesan yang kau rencanakan ada
disana dan kelak akan kau bawa pulang untuk kau persembahkan pada ayah dan ibu
dan tentunya harus kau bagi denganku. Oh ya, aku hampir melupakan bahwa kau
juga punya Rici. Aku mendo’akan kau masih dan akan baik-baik saja dengannya.
Gadis itu beruntung bisa menjadi bagian dari kesuksesanmu adikku. Semoga kau
juga mendo’akanku dari sana agar kebahagiaan kita seiring. Jaga dirimu, ku
dengar Kota yang kau kunjungi sekarang sangat kejam. Jutaan orang juga
menggantungkan mimpinya disana. Kau harus berusaha lebih keras, lebih dari
sekedar menjadi seorang Ketua BEM ataupun Stering Comitte acara sekaliber SIMAK
dikampus kita.
Adikku sayang, ketika menulis rangkaian
kata demi kata tentangmu ini aku sedang sangat merindukanmu. Mengenang saat
aku, kau dan kita sama-sama meneteskan air mata. Aku tak berharap kau akan
membaca surat ini besok, lusa ataupun suatu saat nanti. Tapi aku berharap Tuhan
akan menyampaikan padamu betapa aku bersyukur diberi kasempatan menjadi sahabatmu.
Bagian dari hidupku yang dengan bangga akan kuceritakan pada cucuku kelak.
Hanna Delau ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)