Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2LXqByMfl " KATAKU ": LUKA MANIS DARI DIANDRA
Ketika tak ada yang mendengarmu, maka Menulislah!

Selasa, 25 Maret 2014

LUKA MANIS DARI DIANDRA

“jika saja angin benar-benar menyampaikann pesanku,
seharusnya saat ini kau sudah menerima sepucuk
rindu yang bertuliskan namamu, Diandra”

Ini rangkaian kata yang tak lagi terhitung keberapa kalinya kutuliskan di buku bersampul coklat keemasan yang kuberi judul “Tentang Diandra”. Betapa klisenya caraku mencintai wanita indah itu. Memandangnya dari kejauhan, memperhatikannya diam-diam, merindukannya secara sembunyi-sembunyi, mengatakan bahwa betapa aku mengaguminya hanya lewat goresan tinta, dan berpura-pura tak ada apa-apa saat dekat dengannya.

Diandra. Untuk pertama kalinya aku merasakan ketidak adilan Tuhan karena telah menciptakan keindahan yang keterlaluan seperti dia. Kesempurnaan wanita yang membuat bunga-bungapun iri atas keanggunannya. Wajah teduh dibalik kerudung itu, dengan binar mata coklat nan indah, bibir tipis yang kemerahan, senyuman dengan lesung pipi yang manis, kulit putih yang memancarkan sinar wudhu, belum lagi kelembutan saat bertutur kata. Atau hanya aku yang terlalu berlebihan mengaguminya?  Tapi kurasa tak ada yang tak mengagumi Diandra. Aku benar-benar tak mampu lagi melihat hal lain yang lebih indah melebihi wanita itu.

Aku menganal Diandra dengan sangat baik. Bahkan tahu banyak hal tentangnya melebihi yang ia beri tahukan kepadaku. Sekali lagi, ini karena aku benar-benar mengaguminya. Mencintainya. Aku biasa dimata Diandra, tapi Diandra luar biasa dimataku. Aku teman bagi Diandra, tapi Diandra malaikat bagiku.

Diandra hanya mengenalku sebagai salah satu dari puluhan atau ratusan mahasiswanya. Jikapun ada hal istimewa yang membuat namaku teringat dengan baik dimemorinya barangkali karena setiap tugas makalahku yang selalu melebihi batas deadline atau karena pertanyaan-pertanyaan konyolku di kelas. Tapi bisa jadi karena akulah mahasiswa yang paling sering menawarkan jasa tumpangan pulang atau traktiran makan yang tidak pernah diberi tanggapan selain dari senyuman manis dengan lesung pipi khas Diandraku sayang.

“Diandraku sayang, kau memang terlalu jauh.
Aku hanya sebutir debu sementra kau angin yang sejuk.
Aku hanya waduk kecil sementara kau lautan yang luas.
Aku hanya selembar daun kering sementara kau rerimbunan pohon di pegunungan.
Diandraku sayang, aku hanya seorang pengkhayal.
Kekagumanku padamu memang besar, tapi Tuhan lebih besar.
Cintaku memang luas tapi kuasa Tuhan lebih luas.
Aku tak kan pernah mampu seperti Tuhan yang bisa menciptakan kesempurnaan”


Kalimat ini kutulis ketika aku mendapat hadiah manis dari Diandra. Ketika itu pagi dengan gerimis yang indah. Diandra memanggilku dari kejauhan. Kemudian ia memberikan sesuatu berwarna ungu muda dengan hiasan pita cantik. Yaa, Diandra menghadiahkan undangan pernikahannya untukku dipagi yang lembab. Aku memaksa senyum terbaikku untuk turut hadir pagi itu. Seraya berucap selayaknya sahabat yang turut bahagia aku mempersembahkan senyum sumringah dan memastikan diri untuk menghadiri undangan Diandra. Tak ada yang tahu seberapa berkecamuknya sakit dibalik dadaku bersamaan dengan langkahku meninggalkan Diandara waktu itu. Tikaman yang bertubi-tubi pada rasaku, luka yang merobek-robek rindu, dan pilu yang seketika memaksa mengikis nama Diandra dijantungku.


Diandra, sekalipun kau tidak diciptakan Tuhan dari
 tulang rusukku setidaknya aku bahagia telah ada
namamu diantara bait-bait cerita takdirku


Kekaguman hanyalah sebatas mata. Cinta hanyalah sebatas rasa. Tapi takdir tentu tak ada yang mampu membatasi jalannya. Aku memang sempat bergulat dengan hatiku sendiri. Mencoba dengan tega membunuh rasaku tentang Diandra. Namun itu tak semudah aku mencintainya. Semua tentang Diandra tak hanya tertulis rapi dibuku coklat keemasan itu, tapi juga didasar segala rasa yang kupunya. Diandra memang telah memberikanku bingkisan luka, tapi aku yakin wanita anggun itu tak bermaksud menyakiti siapapun. Aku meyakinkan diriku untuk tetap bahagia dengan luka dari Diandraku sayang.



“Diandra, sudah kuterima luka yang kau selipkan
dalam sampul berwarna ungu muda itu.
Terimakasih Diandra untuk luka manis berhiaskan
 senyum terindah dari bidadari Tuhan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar