Sudah lebih
tiga puluh menit kebisuan menyelimuti ruangan tempat kami duduk. Bersama seorang
lelaki yang datang dengan perasaan kesal yang membuncah didadanya, aku terperangkap
dalam hening yang entah sampai kapan. Aku mengatup rapat bibirku seraya
menggenggam cangkir kopi yang sudah tak lagi hangat. Lelaki disampingku jauh
lebih tenggelam lagi dalam bisu yang kaku. Jemari pada kedua tangannya saling
mengatup diatas pangkuan. Tatapannya kosong dengan air mata yang berusaha ditahan
agar tidak pecah. Aku tenang disampingnya, mendampinginya.
“Sakit
sekali rasanya.” Akhirnya lelaki itu membuka suara memecah hening. Aku menoleh,
menatap sisi samping wajahnya. Kulihat rahangnya mengeras. Perasaanku menjadi
tak karuan. Aku penasaran.
Perlahan
lelaki itu menoleh kearahku. Ia tak sanggup lagi membendung luapan tangisnya. Air
mata yang membuncah itu akhirnya pecah. Tak ada lagi kalimat lain yang ia
lontarkan. Tapi aku mengerti betapa ia baru saja terluka sangat dalam. Betapa ia
sangat kesakitan.
Tentang lelaki
itu, betapa aku memahaminya meski ia tak berbicara. Betapa aku mengerti
segalanya hanya dengan melihat matanya. Sekarang giliranku. Berusaha tegar
menyambutnya dalam pelukan. Tapi nyatanya aku tidak sanggup menahan tangisku ketika
melihatnya basah dalam kesedihan. Kurangkul lelaki itu dalam sesegukan.
Beberapa waktu
berlalu. Tangis kami mereda tapi diantara kami masih tanpa kata-kata. Lelaki itu
sekarang membaringkan kepalanya dipangkuanku. Perlahan memejamkan mata mencoba
beranjak menuju lupa. Meski sejenak saja, tapi setidaknya memberi lega. Kulihat
dalam lelapnyapun ia masih dihujam luka. Kuusap kepalanya seraya menatap dalam
kesedihannya.
Lelaki itu selalu
menemukan kenyamanannya bersamaku, tapi justru menitipkan hatinya bersama
perempuan lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar