“Aku mau ke kedai Bang Cai sebentar.”
Fajar beranjak dari hadapanku. Tak dipedulikannya aku
hendak menjawab, mengangguk ataupun menggeleng. Sejak pemuda itu datang dan
ikut menambah sesak isi tempat tinggalku yang sempit ini, tak bisa aku katakan
bahwa ia adalah seseorang yang penuh sopan santun. Padahal jika ingin menghitung
budi, sepatutnya ia tunduk padaku. Dia tak mungkin lupa bagaimana ia bisa hidup
dan bertahan di negeri yang penuh kejutan ini, dia makan dari hasil keringatku.
Tapi jika dipikir-pikir benar, Fajar tidak pernah pula berlaku
kurang ajar. Pemuda itu memang kaku, tak pernah senyum apalagi tertawa. Dia
terkesan kasar, arogan dan mengerikan dengan garis wajah keras yang ia miliki.
Tubuhnya tinggi besar seperti bodyguard di film-film, membuatnya semakin
terlihat garang.
Sejak menemukan Fajar, aku tidak pernah bicara banyak hal
dengannya. Pemuda itu memendam banyak misteri asal-usul adan masa lalunya. Kami
hanya terlibat percakapan bila salah satu dari kami akan pergi ke luar. Itupun
rasanya tak layak disebut sebagai percakapan karena tak ada saling sahut diantara
kami. Pernah beberapa kali aku bertanya apa kebutuhannya yang perlu aku
belikan. Fajar selalu saja menjawab dengan dua kata “nggak usah.” Acap kali
menerima jawaban serupa aku memilih tak lagi bertanya dan lebih berinisiatif
membelikan apapapun yang kurasa ia butuhkan. Beberapa lembar pakaian ganti,
pisau cukur, bahkan celana dalam. Sesekali aku tinggalkan dua atau tiga lembar
uang lima puluh ribu di atas meja makan. Entah ia akan belikan rokok atau untuk
sekedar ngopi di kedai Bang Cai. Fajar memang tidak pernah meminta apapun tapi
ia juga tak menolak apapun yang aku sediakan.
Aku menemukan tubuh jangkung Fajar di perempatan tidak
jauh dari tempatku tinggal persis ketika fajar hendak menyingsing pagi itu.
Ketika itu kupikir aku menemukan sesosok mayat. Bergegas aku berlalari ke kedai
Bang Cai yang buka 24 jam. Para lelaki yang biasa nongkrong baru saja bubar dan
Bang Cai hendak mencoba untuk tidur.
Melihat aku yang tegopoh-gopoh, tanpa pikir panjang Bang Cai meninggalkan
istrinya di kedai dan mengikuti petunjukku.
“Masih hidup.” Kata Bang Cai setelah meletakkan telunjuk
di bawah lubang hidung lelaki yang tergeletak itu. Aku memperhatikan, tidak
tahu harus merespon apa. Tanganku mendekap sepasang sepatu beludru warna biru bertumit
9 cm yang tadi aku pakai sebelum berlari menuju kedai Bang Cai.
Dibantu seorang pemulung yang sedang berada disekitar
kami, Bang Cai membopong tubuh besar itu
menuju kedainya. Aku mengikuti dari belakang. Tubuh layu itu sangat kumal dan
agak sedikit bau. Sepertinya sudah beberapa hari tak terjamah air atau sekedar
dibersihkan dengan kain basah. Wajah pemuda itu tidak begitu terlihat jelas,
brewok dan kumis yang tidak terurus mendominasi permukaan wajahnya. Ia lebih
tampak seperti orang gila tapi pakaian yang dikenakannya sama sekali tidak
compang-camping dan berlapis-lapis seperti kebanyakan orang gila yang
berkeliaran.
Istri Bang Cai menyediakan handuk kecil dan air hangat
untuk sedikit membersihkan wajah lusuh itu. Bibirnya benar-benar pucat pasi dan
suhu tubuhnya panas tinggi. Butuh waktu hampir tiga jam sampai sosok itu sadar
dari pingsannya. Padahal kami sudah hendak membawanya ke rumah sakit menumpang
angkot salah seorang pelanggan kedai Bang Cai.
“Jangan ke rumah sakit.” Itu kalimat pertama yang keluar
dari mulut pemuda berkulit sawo matang itu. Aku, Bang Cai dan istrinya saling
menatap.
“Siapa namamu?” Tanya Bang Cai, tapi pria itu bergeming.
Pandangannya kosong ke langit-langit kedai Bang Cai yang sempit.
“Kalau dia tidak mau ke rumah sakit, kita tetap harus
pindahkan dia dari sini. Sebentar lagi warung ini makin banyak pengunjung.
Tidak nyaman untuk seseorang yang sedang sakit.” Bang Cai memandang kearahku.
Dibelakangku berdiri seorang supir angkot dan seorang keneknya.
Pria itu bangkit dari pembaringannya. “Aku akan pergi.”
Kami yang ada di situ hanya memperhatikan. Ia beranjak keluar dari kedai dan
sejenak duduk di bangku depan memegang kepalanya seperti menahan rasa sakit.
Tak seorangpun dari kami bicara lagi sampai akhirnya tubuh besar itu ambruk
lagi pada langkah ketiga ketika hendak meninggalkan kedai.
Kami menyimpulkan untuk membawa tubuh yang pingsan tak
berdaya itu ke tempat tinggalku sebab tak ada lagi tempat yang bisa dianggap nyaman
untuk sementara waktu. Sang supir angkot atau keneknya tak bersedia menampung.
Sedang Bang Cai dan istri tak memungkinkan merawatnya lebih lama karena kedai
sekaligus tempat tinggal mereka hanya ada satu kamar. Lagi pula kedai itu sudah
sesak dengan peralatan rumah tangga dan
barang dagangan yang berhimpitan.
Meski harus bersusah payah menaiki bangunan empat lantai
hingga mencapai balkon paling puncak di bangunan itu, Bang Cai dan supir angkot
beserta keneknya tak punya pilihan lain. Akhirnya kami berhasil membawa tubuh
tak berdaya itu ke tempatku bermukim. Sapetak bangunan kecil menghadap ke arah
timur yang hanya memiliki tiga bagian ruang yang di sekat. Salah satu bagian
aku jadikan kamar dan diberi gorden sebagai penutup. Sisi paling kanan adalah
dapur dan bagian tengah adalah ruang yang terpampang langsung ketika membuka
pintu. Sementara kamar mandi ada di lantai bawah.
Tempat tinggalku adalah di bagian paling atas dari sebuah
rumah susun yang tidak begitu terurus. Sengaja aku membujuk pemiliknya supaya
menyewakan sepetak ruang yang ada di loteng atas dengan harga murah. Awalnya
itu adalah gudang, kemudian aku menawarkan diri untuk membarsihkannya. Selain
mendapat harga murah aku juga mendapat ketenangan tinggal di sini. Aku tidak
harus mendengar suara-suara gaduh dari kamar tetangga. Suara pertengkaran
suami-istri, suara bayi merengek atau suara desahan pasangan kumpul kebo yang
sedang berkencan.
Sepeninggal Bang Cai, sopir angkot dan keneknya aku
membenahi tubuh tak berdaya yang tergeletak
di ruang tengah. Aku membuka jaket hitam lusuh dan kaos kumal yang dikenakan
pemuda itu. Aku temukan beberapa luka lebam di punggung dan dadanya. Rangka
tubuhnya memang besar, tapi sebenarnya pemuda itu tergolong kurus. Aku mengelap
tubuh itu dengan handuk yang direndam air hangat kemudian mengompresnya dan
kuberi ia selimut.
Aku beranjak tidur karena benar-benar mengantuk. Di
samping pemuda itu aku tinggalkan sehelai baju kaos milik teman priaku yang
tertinggal entah kapan dan sepiring nasi goreng lengakap dengan sebotol air
mineral. Berharap ketika ia terbangun ia mengerti maksudku.
Ketika aku terbangun, matahari sudah beranjak turun, aku
temukan piring bekas nasi goreng yang sudah kosong. Aku beranjak ke luar dan
aku melihat pemuda itu duduk termenung di ujung loteng. Aku menghampirinya.
“Kamu udah sadar?” kataku berbasa-basi.
Pemuda itu menoleh kearahku. Tatapannya tajam, bola
matanya hitam pekat semakin membuatnya terlihat sangar. “Izinkan aku tinggal
sedikit lebih lama lagi disini. Setidaknya
sampai aku benar-benar pulih.”
Aku terpaku menatapnya balik. Aku membaca kesungguhan di
balik tatapan itu. Pemuda itu sungguh sedang memohon dengan cara yang dingin.
“Kasih aku alasan kenapa aku harus bilang ya!”
Saat itulah pemuda bertubuh tinggi besar itu menceritakan
sedikit tentangnya. Ia adalah buronan yang melarikan diri dari penjara. Seorang
narapidana kasus pemerkosaan terhadap adik sahabatnya sendiri. Ia tidak
mengakui tuduhan pemerkosaan itu tapi semua bukti menunjukkan bahwa ia
bersalah. Termasuk kesaksian korban. Ketika kejadian ia mengaku sedang mabuk
berat, tapi ia sangat yakin bahwa ia tidak melakukan pemerkosaan.
Pemuda yang menolak semua tuduhan tapi terbukti bersalah,
dijatuhi hukuman dua belas tahun penjara. Belum lagi hukuman kebencian dari
seluruh orang di kampungnya. Keluarganya menolak mengakuinya sejak ia ditangkap
polisi. Sahabat baiknya yang selama ini sudah seperti saudara menyumpah
serapahinya karena kasus yang menimpa
sang adik bahkan membuat ibu mereka yang seorang janda terserang stroke. Ia benar-benar
tidak diterima dan dibuang dari lingkungannya.
Menjalankan hukuman penjara baginya hanya pembenaran
terhadap semua tuduhan yang dijatuhkan kepadanya. Ia tetap yakin bahwa ia tidak
memperkosa siapapun. Apalagi itu adik sahabatnya yang sudah seperti adiknya
sendiri. Ia meyakini bahwa ada yang sengaja menjebaknya. Tapi siapa yang
percaya dengan kesaksian orang mabuk. Bahkan akupun yang mendengar merasa sanksi.
Hanya saja aku tak punya pilihan lain selain mempercayainya sebab jika ia ingin
berbohong atau mengarang cerita dia bisa saja mengatakan bahwa dia adalah orang
kampung yang dijebak dan tertipu ketika pertama kali datang ke kota lalu dengan
mudah mampu membuatku luluh. Alih-alih mengatakan bahwa ia adalah seorang buronan
yang justru jelas-jelas membuatku merasa tak nyaman.
Cerita singkat itu seketika membuatku percaya begitu saja
padanya. Tak ada sedikitpun rasa curiga atau kecemasan bahwa bisa saja ia
melakukan sesuatu yang buruk. Aku
menerimanya tinggal bersamaku. Barangkali aku dibuat tersentuh karena dari
ceritanya itu dapat diartikan bahwa kami sama-sama orang terbuang yang masih
berusaha untuk melanjutkan hidup dengan cara apapun. Ia memilih menjadi buronan
sebagai bentuk penolakan terhadap tuduhan yang limpahkan padanya, sementara aku
memilih bersuka cita dengan dunia malam dan memberi makan seorang buronan
dengan pengahasilanku. Manusia memang kerap terperangkap pada pilihan yang
salah. Tapi tidak ada jaminan pilihan yang salah akan membuat seseorang terus-menerus
salah seumur hidupnya.
“Panggil aku Fajar.” Katanya dipenghujung cerita sore
itu. Entah nama itu benar atau hanya sekedar sebutan agar aku mudah
memanggilnya. Sekali lagi aku sanksi tapi tetap mempercayai ucapannya. Aku tak
peduli pemuda itu benar-benar bernama Fajar atau pemuda yang hanya saja harus
kupanggil Fajar. Masa depan memang misteri Tuhan, namun masa lalu adalah
misteri dari pemiliknya.
- selesai -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar