“Si Yuma kakaknyo Arel
nan karajo di Jambi Waras dulu tu ha…”
Demikian sepenggal percakapan ibu-ibu kadai yang aku
dengar saat baru pulang kantor sore itu yang membuatku tiba-tiba tersentak dan
memoriku berbalik kemasa beberapa waktu silam.
Yaa, nama itu. Aku masih bisa
mengingatnya dengan sangat jelas. Mr. A, pria hitam manis yang sempat ada dalam
beberapa episode masa remajaku. Lalu, kapan kisah tentang pria itu bermula dan
kapan berakhir? Entahlah, mungkin sekitar lima, enam, atau tujuh tahun yang
lalu. Aku tak mampu mengingat yang satu ini dengan baik. Tapi aku masih bisa
menceritakan sedikit tentang pria itu. Bagian yang tidak mungkin aku lupa
seperti namanya.
Sebut saja cerita ini terjadi
“ketika itu” karena seperti aku bilang tadi aku tak ingat jelas kapan
persisnya. Mr. A adalah salah satu dari sekumpulan pemuda yang sering nangkring
di kadai depan rumah. Dia yang paling pendiam
diantara kelompok itu. Tak hanya itu, dia juga yang paling tampan mungkin. Lalu,
apa hubungannya pemuda kadai
denganku? Itulah yang aku katakan tak mungkin aku lupa. Singkatnya, pemuda itu sempat
menaruh hati padaku.
Bagaimana mungkin? Mungkin saja, mungkin
rasa suka itu berawal dari sekedar mengajariku teori mengendarai motor kopleng
atau ketika aku minta diajarkan bermain gitar. “Ketika itu” aku masih ingusan -menurutku-
dan tak terlalu tertarik dengan sesuatu seserius itu. Aku mengabaikannya. Aku
tak menanggapinya dan membuat pemuda itu menjadi bahan tertawaan
teman-temannya. Wajah yang tertunduk malu, yaa aku ingat benar. Bahkan beberapa
hari aku sempat tak melihatnya bersama prkumpulan partai kadainya.
Ahh, mengingatnya membuatku merasa
bersalah. Tapi semoga aku tak sekejam yang aku pikir.
Kemudian, cerita itu redam bersamaan
dengan Mr. A yang perlahan menghilang. Seperti janjinya yang tersirat untukku
bahwa tak ada alasan baginya untuk tidak memilih kota lain “ketika itu” sebagai
tempat peraduannya. Seiiring dengan itu –kalau tak salah- akupun memulai cerita
baru di kota baru -masa kuliah-.
Sekitar awal masa kuliah, itupun
kalau aku tidak salah mengingat. Kabar pertama setelah cerita itu meredam yang
kuterima adalah Mr. A menikah dengan gadis keturunan jawa di Kabupaten tetangga
dan menetap disana. Aku hanya terawa mendengar
kabar itu membayangkan seperti apa pembawaan
istrinya. Keibuan mungkin atau sedikit pemalu dan kemayu, atau seorang
pesolek tangguh. Tapi semoga saja bukan seseorang yang judes.
Berselang beberapa bulan atau
setahunan barangkali aku kembali tanpa sengaja mendengar kabar tentang pria itu
dari temannya yang kebetulan menelfonku. Kali ini aku tidak tertawa mendengar
kabarnya melainkan kaget setengah mati. Keterkejutan yang luar biasa seperti disambar
sesuatu yang keras tepat dipangkal telinga lalu mendesirkan darah disekujur
nadi. Mr. A meninggal dunia sekitar dua bulan yang lalu akibat sebuah kecelakaan.
Yaaa Tuhan, yang ku ingat telapak tanganku memucat waktu mendengar kabar itu.
Tentu saja, ini jauh dari bayangan logika, takdir ini terlalu cepat pikirku.
Tak satupun yang bisa menafsirkan,
membaca, ataupun menduga-duga takdir yang digariskan Tuhan. Termasuk pemuda
itu. Ia bahkan belum sempat bertemu calon bayinya yang lahir tepat di 100 hari
kepergiannya. Bagian ini yang membuat mengenangnya menyisakan pilu. Dan aku
lebih miris dari itu, tak tahu apapun bahkan persemayaman terakhirnya. Tidakkah
aku hendak menabur bunga dihadapan nisannya? Entahlah.
Aku hampir meneteskan air mata
mengenangnya. Mengingat lagu “puisi” milik Jikustik yang sering ia lantunkan
untukku “ketika itu”.
***
--- teruntuk Mr. A yang pernah kukenal baik,
kukabarkan kepadamu bahwa kudengar dari cerita ibu-ibu kadai anakmu seorang gadis kecil yang lucu. Tapi
aku tak tahu persis berapa usianya sekarang. Putrimu baik-baik saja bersama
ibunya. Peri kecilmu itu akan segera mendapatkan ayah baru. Dia akan semakin
bahagia.Tapi kau adalah ayah yang tidak akan pernah mungkin tergantikan.
Meskipun kau dan peri kecilmu belum pernah bertemu, aku percaya Tuhan kelak
akan mempertemukan kalian dengan alur yang indah. Adakah dari surga kau
melihatnya? Kalau begitu, kau yang harus menceritakan tentang putri kecil itu
padaku.
Pria yang sempat terlupakan yang rupamu tak mampu lagi
aku lukiskan. Maafkan aku untuk lupa ini. Maaf untuk ketidakpedulian yang
sangat keterlaluan. Hanya lewat tulisan ini aku mengenangmu…---
“mengenang Arel Riskian Putra”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar