Rangga. Aku
mengenalnya dibulan Oktober. Ketika itu musim hujan di Kotaku. Biasa saja saat
itu seprti layaknya dua orang yang belum pernah bertemu sebelumnya, berjabat
tangan lalu menyebutkan nama.
“Karina”, kataku seraya melempar
senyum manis. Diapun tampak hambar meski membalas lembut senyumku.
Aku
berteman baik dengan Ayla, sepupu Rangga. Sejak perkenalan dirumah Ayla yang
disaksikan gerimis sore itu akupun berteman baik dengan Rangga. Yaa, Rangga
akan memasuki sekolah yang sama dengan aku dan Ayla. Tepatnya menjadi siswa
baru sebagai adik kelasku.
Singkat
cerita, keakraban kami memasuki bulan ke sepuluh. Ketika itu Rangga menjadi
motivator dan teman terbaikku dimana aku ada Ayla tengah sibuk akan menghadapi
ujian nasional. Tak sedikitpun ia berupaya untuk menolak permintaan tolong
dariku. Mengantar ke Bimbel, menemani ke toko buku, ikut belajar bersama
sekalipun ia tak paham apa yang aku bahas bersama Ayla. Sesekali ia bumbui
keseriusan kami dengan banyolan yang membuat sakit perut karena tertawa.
Kelulusan
tiba. Nilai memuaskan dan menorehkan senyuman kebahagiaan. Ayla lulus terbaik
dan mendapat beasiswa kulia ke London. Gadis riang itu memang seorang konseptor
yang baik. Termasuk dalam mengkonsep cita-citanya menjadi seorang jurnalis.
Sementara itu aku melanjutkan pendidikan manajemen disini. Dikotaku yang sedang
tak dikunjungi hujan.
Lalu
Rangga… Yaa, dia masih menjadi seorang siswa berseragam putih abu-abu. Memulai
aktivitas jam 7 pagi dan berkahir dengan les sore atau latihan basket jam 5
sore.Kemudian mengerjakan PR pada malam hari dan seskali me-refresh otaknya dengan main Play stasion. Meski begitu, Rangga tetap
teman terbaikku. Jika ada waktu senggangnya sepulang sekolah, Rangga
menhampiriku dirumah atau bahkan menyusulku ke kampus hanya untuk
mengantarkanku pulang. Rangga memberikan perhatian yang begitu besar. Entah ini
karena aku tak lagi berbagi perhatiannya dengan Ayla seprti setahun belakangan.
Ini membuatku merasa sedikit berbeda. Barangkali aku mulai mencintainya tak
sekedar teman baik.
Suatu sore pada
Oktober berikutnya dimana kotaku kembali dingin. Aku berencana bertemu Rangga
untuk menemaninya ke toko buku. lagi pula kami sudah beberapa waktu tidak heng out bareng. Rangga berjanji untuk
menjemputku. Aku menunggunya di taman kampus sejak pukul 16.30 WIB. Satu jam
berlalu Rangga tak kunjung datang. Senja mulai memberikan isyarat bahwa gelap
akan datang. Mungkin sudah lebih dari 100 panggilan tak terjawab dariku di
layar Handphonenya. Kesalkupun
memuncak. Untung saja seorang teman kelasku datang bak pahlawan kemalaman. Adam
menawarkan tumpangan pulang. Tanpa pikir panjang aku menerima tawaran Adam. Entah
mengapa diperjalanan aku terhasut rayuan Adam untuk tidak langsung pulang. Kami
melewati makan malam bersama dan nonton bioskop. Baru kemudian Adam
mengantarkanku pulang.
Tiba dirumah,
tepat di depan pintu aku menemukan Rangga dengan muka merah dan geram menuju keluar. Segera ia menuju motor gede
berwarna putih yang diparkir di depan rumah. Tanpa sepatah katapun ia berlalu
mengendarai motor kesayangannya itu penuh emosi. Tentu saja aku tahu Rangga
sangat marah. Deru gas motornya bahkan masih terdengar dari kejauhan.
Di ruang tengah
aku temukan Ayah dan Ibu bersama sebuah kue cantik bertuliskan “ Happy birthday
si Jelex Karina” dan seikat mawar merah yang masih sangat segar. Ayah tampak
cukup marah atas kepulanganku yang tidak tepat waktu saat itu. Kemudian ayah
berlalu ke ruang kerjanya. Sementara ibu menarik nafas panjang seraya menatapku
dalam.
“Dari mana aja kamu?”
Tak sepatah katapun bisa kulontarkan menjawab pertanyaan Ibu. Dari apa yang baru saja aku lihat, aku dapat menyimpulkan bahwa aku telah melakukan kesalahan yang fatal. Tapi bukankah Rangga yang membuat aku melakukan kesalahan itu.
“Rangga jemput kamu ke kampus, tapi kamunya malah udah duluan pergi sama orang lain. Dia nungguin kamu dirumah dari maghrib tadi lho…!”
Aku hanya bisa menunduk dihadapan Ibu.
“Rangga bilang kemarin dia nggak sempat ngerayain ulang tahun kamu karena pergi kemping acara sekolah. Dia sengaja nggak ngomong apa-apa, katanya mau bikin kejutan. Eeeeh, kamunya malah bikin berantakan.”
Aku terperangah mendengar lanjutan penjelasan Ibu. Segera ku hampiri kunci mobil Ayah dan beranjak menuju ke halaman rumah.
Tak sepatah katapun bisa kulontarkan menjawab pertanyaan Ibu. Dari apa yang baru saja aku lihat, aku dapat menyimpulkan bahwa aku telah melakukan kesalahan yang fatal. Tapi bukankah Rangga yang membuat aku melakukan kesalahan itu.
“Rangga jemput kamu ke kampus, tapi kamunya malah udah duluan pergi sama orang lain. Dia nungguin kamu dirumah dari maghrib tadi lho…!”
Aku hanya bisa menunduk dihadapan Ibu.
“Rangga bilang kemarin dia nggak sempat ngerayain ulang tahun kamu karena pergi kemping acara sekolah. Dia sengaja nggak ngomong apa-apa, katanya mau bikin kejutan. Eeeeh, kamunya malah bikin berantakan.”
Aku terperangah mendengar lanjutan penjelasan Ibu. Segera ku hampiri kunci mobil Ayah dan beranjak menuju ke halaman rumah.
Hujan semakin
deras ketika itu. Bersama dingin aku menuju ke rumah Rangga. Maksud hati ingin
meluruskan cerita dan meminta maaf. Namun niat itu tak tersampaikan karena Rangga
tak ada dirumah. Malam semakin larut. Harapku untuk bertemu Rangga pupus malam
itu. Aku beranjak pulang menyusuri malam dengan rintik hujan yang mulai
melambat.
Pagi harinya
kuputuskan untuk bolos kuliah dan menunggu Rangga seharian didepan sekolahnya.
Berjam-jam aku duduk di dalam mobil Ayah yang ku pinjam paksa tadi pagi. Hanya
sebotol air mineral yang berkali-kali kuteguk. Penantianku tidak sia-sia.
Sealang beberapa saat setelah bel pulanng berbunyi aku melihat Rangga
mengendarai si putih dengan lambat keluar dari gerbang sekolah. Segera aku
memanggilnya seraya berlari kecil menghampiri pemuda berkulit sawo matang itu.
Dibukanya helm yang menutupi hampir
seluruh wajahnya tanpa sepatah katapun. Dengan sedikit kaku kucoba memulai
percakapan.
“Abis ini kalau kamu nggak sibuk aku pengen kita ngobrol sambil makan siang. Bisa?”
Aku cemas sesaat menunggu jawaban Rangga.
“Sebenarnya kemarin aku sengaja bikin kamu kesel nungguin aku lama dikampus. Tapi ternyata kamu udah punya alternatif pergi sama cowok lain. Aku pikir kamu cuma ditumpangin pulang, tapi rupanya kamu pergi jalan dan senang-senang.”
Rangga tak merespon sedikitpun ajakanku. Ia justru menjelaskan kronologi kejadian kemarin yang
semakin membuatku merasa bersalah dan terpojok. Rangga kemudian berlalu dan meninggalkan aku tanpa memberikanku kesempatan bicara lebih banyak.
“Abis ini kalau kamu nggak sibuk aku pengen kita ngobrol sambil makan siang. Bisa?”
Aku cemas sesaat menunggu jawaban Rangga.
“Sebenarnya kemarin aku sengaja bikin kamu kesel nungguin aku lama dikampus. Tapi ternyata kamu udah punya alternatif pergi sama cowok lain. Aku pikir kamu cuma ditumpangin pulang, tapi rupanya kamu pergi jalan dan senang-senang.”
Rangga tak merespon sedikitpun ajakanku. Ia justru menjelaskan kronologi kejadian kemarin yang
semakin membuatku merasa bersalah dan terpojok. Rangga kemudian berlalu dan meninggalkan aku tanpa memberikanku kesempatan bicara lebih banyak.
Sejak siang itu
semua hambar. Aku tidak pernah lagi ngobrol langsung dengan Rangga. Jika ingin
bertemu, aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan didepan gerbang sekolah atau
saat ia keluar dari rumahnya. Pesan singkat permintaan maaf telah aku coba
kirim beberapa kali ke handphonenya.
Tidak ada respon seperti yang aku harapkan. Aku kehilangan Ranggaku. Aku tidak
lagi menikmati senyuman manis dan guyonan lucunya. Aku tidak pernah lagi
dibonceng keliling kota bersama si putih. Aku merasakan yang hilang bukan
sesuatu yang biasa, tapi sebagian dari aku. Aku yang terbiasa dengan adanya
Rangga dan aku tak mengerti mengapa Rangga seolah tak bisa memaafkanku. Atau
memang baginya kesalahanku sangatlah fatal.
Oktober
berikutnya, setahun pasca kekecewaan Rangga padaku. Setahun hilangnya Rangga
dariku. Aku menerima banyak ucapan selamat ulang tahun. Ucapan langsung, telephone,
pesan singkat, media sosial dan email. Satu ucapan yang membuat aku kaget
setengah mati dan bahagia yang luar biasa. Email dari Rangga.
“Met milad si
jelex Karina. Maaf aku membuat kamu dalam rasa bersalah selama setahun ini. Aku
nggak cukup dewasa untuk menanggapi masalah sekecil waktu itu. Bahkan sampai
satu tahun menahan rindu aku sama kamu. Aku egois. Sekali lagi maafin aku Jelex,
Aku sayang kamu.”
Email manis itu
membuat aku tersenyum-senyum sendiri. Ini kado terindah yang aku dapatkan tahun
ini. Email itu kemudian mengantarkanku bertemu dengan Rangga. Tapi kami kaku
dalam obrolan sore yang kurang dari satu jam di kedai es cream langganan kami dulu. Pertemuan itu berlanjut dengan keliling
kota bersama si putih. Anehnya , kami bisu tapi aku menikmatinya.
Gelap sudah
memayungi kotaku. Binar-binar lampu jalan memercik indah mengiring kebisuan aku
dan Rangga. Oktober dingin disini tapi berbeda dengan rasaku yang begitu hangat
disisi Rangga. Ranggaku yang baru saja kembali.
Sebelum malam
semakin dalam Rangga mengantarku pulang. Sejenak menjelang aku masuk kerumah,
Rangga menahanku. Dikeluarkannya sebuah kotak kecil dari dalam saku jaketnya.
“Sekali lagi, selamat ulang tahun
ya!”
Dengan penuh rasa haru aku menerima bingkisan kecil itu kemudian ku buka. Sebuah kalung cantik dengan leontin berinisial ‘RK’ yang didempet dua.
“makasih Ngga.”
Seraya tersenyum kecil Rangga mendekat dan memakaikan kalung itu di leherku. Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya.
“Aku dapat beasiswa kuliah di Belanda. Aku udah urus semuanya sejak kelulusan. Besok aku berangkat.”
Rangkaian kalimat lugas itu sontak menegurku dari bahagia yang baru aku dapatkan lagi hari ini. Aku menatap Rangga dalam hingga tanpa sadar aku meneteskan air mata. Ia balas menatapku. Sejenak kebisuan kembali terpatri.
“ Karina” ucap Rangga lagi, panggilan itu membuat tatapanku semakin lekat. “Aku sayang kamu. Aku cinta kamu bukan sekedar teman dekat. Aku minta jaga diri kamu baik-baik.”
Dengan penuh rasa haru aku menerima bingkisan kecil itu kemudian ku buka. Sebuah kalung cantik dengan leontin berinisial ‘RK’ yang didempet dua.
“makasih Ngga.”
Seraya tersenyum kecil Rangga mendekat dan memakaikan kalung itu di leherku. Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya.
“Aku dapat beasiswa kuliah di Belanda. Aku udah urus semuanya sejak kelulusan. Besok aku berangkat.”
Rangkaian kalimat lugas itu sontak menegurku dari bahagia yang baru aku dapatkan lagi hari ini. Aku menatap Rangga dalam hingga tanpa sadar aku meneteskan air mata. Ia balas menatapku. Sejenak kebisuan kembali terpatri.
“ Karina” ucap Rangga lagi, panggilan itu membuat tatapanku semakin lekat. “Aku sayang kamu. Aku cinta kamu bukan sekedar teman dekat. Aku minta jaga diri kamu baik-baik.”
Kata-kata yang
baru saja dilontarkan Rangga membuat darahku berdesir kencang. Ingin aku
mengatakan bahwa sebenarnya sejak lama aku juga merasakan hal yang sama. Tapi
lidahku kelu ketika itu. Rangga mengecup keningku hangat dan saat itu air
mataku semakir mengalir deras. Kudapati mata Rangga yang juga memerah menahan
harunya suasana hening malam itu.
Rangga
menghidupkan motornya dan tak sepatah katapun bisa kuucapkan. Bibirku semakin
kaku. Betapa aku ingin mengatakan bahwa aku tidak mau Ranggaku hilang lagi.
Sebelum berlalu Rangga membelai kepalaku penuh cinta. Mengantarkan mataku
semakin menampakkan pilu. Rangga tak peduli itu. Ia tetap berlalu dan
membiarkanku berdiri kaku di depan rumah dengan perasaan yang berkecamuk.
Sejak Oktober
itu aku tak pernah lagi bertemu Rangga. Kehilanganku semakin dalam dibandingkan Oktober
sebelumnya. Selalu saja ada air mata setiap mengenangnya. Setiap kali Oktober
tiba aku hanya berdiam dalam lembab kotaku mengenang Rangga dan cintanya
berharap Oktober yang akan datang ia kembali.
“inspirasi
ketika hujan”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar