Ranummu memudar
sejak sabtu lalu
sejak sajak gila yang kau titip lewat angin senja
kala itu dingin semakin dingin
membuat beku bahkan sampai ke ulu hati
yang luluh takkan mau luluh
seperti sebelumnya menyimpan kerasmu di bukit sabar
bukit itu porak bersama sakit yang kau toreh atas nama perihmu sendiri
menunggu
yang luluh adalah engkau
dari tabir maha angkuh untuk kembali ranum
ranummu untukku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar