Arum :
Insyaallah
ijab qabulnya besok jam 10 12.01
Do’ain lancar yaa Bran 12.02
Do’ain lancar yaa Bran 12.02
Ibran
menatap ulang dua baris pesan singkat yang dikirim Arum sekitar dua jam yang
lalu. Telepon genggam benar-benar menunjukkan kodratnya dengan terus-menerus
takhluk dalam dekapan tangan kiri Ibran. Sementara di tangan kanannya, terselip
dua sebatang rokok yang tak kunjung menemukan api.
Sudah dua
jam Ibran duduk di ujung ranjang. Menatap ulang dua baris pesan singkat yang
dikirim Arum. Ia tak juga beranjak. Sesekali ia memutar pandangan ke depan, ke
atas, ke bawah tapi tidak ke samping. Entah mengapa. Barangkali ia sungkan
memastikan bahwa tak akan pernah ada Arum di sampingnya. Di sisinya.
Lagi. Ibran
melihat layar ponsel. Menatap ulang dua baris pesan singkat yang dikirim Arum
sekitar lebih dari dua jam yang lalu. Ia tidak haus, tidak lapar, tidak
mengantuk, tidak pula bosan. Padahal sekarang pukul dua siang. Ujung rokok yang
bertumpu di celah jari telunjuk dan jari tengahnya sudah mulai lembab. Ibran
masih duduk bergeming.
Besok, Arum
menikah. Ibran sudah tahu jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi dua baris pesan
singkat yang dikirim Arum itu adalah pamungkas. Pemberitahuan, pengumuman,
penegasan, ultimatum. Bagi Ibran, dua baris pesan singkat yang dikirim Arum itu
adalah kabar duka. Berita buruk, pesan pilu, patah hati, kehancuran.
Ibran :
Aku datang besok 14.19
Jemput kamu 14.19
Tangan kanan Ibran akhirnya
menyentuh layar telepon genggam. Dua batang rokok jatuh begitu saja. Pesan
terkirim. Ia menarik nafas panjang. Bergeser kearah kepala ranjang. Menyentuh
botol air mineral di nakas. Meneguk air yang masih setengah botol. Habis. Ibran
kembali sibuk dengan si telepon genggam. Ia tidak lapar, tidak mengantuk, tidak
bosan.
Arum :
Gak perlu 14.22
Jangan
datang 14.22
Ibran :
Aku bisa
saja mati sekarang 14.23
Arum :
Kamu akan
baik-baik saja 14.25
Ibran :
Aku datang
besok 14.25
Jemput kamu 14.26
Arum :
Jangan 14.28
Aku bisa
saja mati besok 14.28
Ibran :
Kita mati sama-sama
besok 14.29
Arum :
Kamu gak
akan ketemu aku besok 14.35
Ibran :
Kenapa? 14.36
Kamu mau
usir aku besok? 14.36
Arum :
Aku mati
sekarang 14.55
Ibran :
Apa
maksudmu? 14.55
Ibran :
Arum… apa
maksudmu? 14.57
Ibran :
Arum… 14.59
Ibran :
Arum… 15.11
Ibran :
Arum
Athallia Hermawan 15.17
………………………………….. 15.17
Ibran :
Aruuuuuummmmm 15.35
Ibran :
Arum… 16.02
Apa kamu
benar-benar mati? 16.02
Ibran :
Baiklah 16.20
Kita mati
sama-sama 16.20
Arum :
Insyaallah ijab qabulnya besok jam 10 16.54
Jangan datang Bran! 16.54
Jangan datang Bran! 16.54
Arum :
Bran … 17.02
Arum :
Ibraaannn 20.30
Arum :
Ibran
Permana…. 22.31
Heiiii……………. 22.31
Arum :
Bran 02.16
Arum :
Braaan 05.10
Arum :
Bran 09.35
Insyaallah ijab qabulnya jam 10 09.35
Kamu gak datang Bran? 09.36
Kamu gak datang Bran? 09.36
Arum :
Ibran 09.50
Arum :
Bran 10.20
Aku udah
jadi istrinya 10.20
Jangan
pernah datang 10.21
Aku bisa saja
mati kalau kamu datang 10.21
Rumah, 20
April 2020. 10.27 WIB
Ditengah WFH
akibat Pandemi Covid-19
*Percakapan
lewat pesan terinspirasi dari Cerpen “SMS” milik Djenar Maesa Ayu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar