Tujuh
tahun lalu Agustus berpamitan
Dia
bilang bahwa
dia
hendak menemui cita-cita
Agustus
meninggalkanku sambil tersenyum
Setahun
setelah pamitnya waktu itu
Dia
datang
Menemuiku
Meski
cuma sebentar
Aku
senang
Setelahnya,
dia pamit lagi
Mau
menemui kesuksesan, katanya
Agustus
meninggalkanku sambil tersenyum
Sudah
enam tahun berlalu
sejak pamitnya yang kedua
sejak pamitnya yang kedua
Agustus
tak pernah menemuiku lagi
Memang,
dia tak pernah menjanjikan datang
Tapi
lucunya aku menunggu
Acap
kudengar ia pulang
Menjejak
sejenak halaman rindu
dalam dekapan ibundanya
dalam dekapan ibundanya
Menyapa
kenangan masa kecil
dan bertukar cerita tentang birunya langit ibukota
dan bertukar cerita tentang birunya langit ibukota
Tapi
Agustus tak pernah menemuiku lagi
Sekali
aku terima pesan yang ia titipkan
lewat parsel Ramadhan
lewat parsel Ramadhan
Sekotak
coklat, sekaleng biskuit dan dua botol sirup Marjan
Sepucuk
kartu ucapan bertuliskan basa basi
dibungkus rapi oleh harapan
dibungkus rapi oleh harapan
Aku
cicipi coklat yang dibalut kotak kuning pucat
Manisnya
melekat
Pesannya
kudapat
dan Agustus berkata
agar aku tak menunggunya
dan Agustus berkata
agar aku tak menunggunya
Demikian,
Agustus pamit untuk ketiga kalinya
Agustus pamit untuk ketiga kalinya
Agustus meninggalkanku tanpa ada lagi senyum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar